Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Karakter Cendekiawan Dalam QS. Ali-Imran [3]: 191

cendikiawan
Sumber: https://www.creativity55.com/

Globalisasi membawa dampak perubahan maju secara drastis. Tanpa terkecuali dari segi arah bidang ekonomi, industri, sosial budaya, bahkan pendidikan. Sehingga peningkatan-peningkatan tersebut mempunyai kemajuan yang signifikan. Karakter yang harus dikuasai seseorang dalam mendalami segala bidang, cendekiawan juga harus digalakkan. Karena menyangkut pada hasil dalam menciptakan perubahan yang bertujuan menggeser pemikiran-pemikiran tertinggal.

Menanggapi fenomena di atas, penulis menyimpulkan terdapat karakter penting yang harus diaplikasikan seorang cendekiawan dalam menguasai bidang keilmuan yang diminati. Definisi cendekiawan dalam KBBI adalah orang yang cerdik ataupun pandai; orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan dalam berfikir untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Dalam hal penulis menemukan tiga karakter cendekiawan sejati yang tertuang dalam al-Qur’an yakni QS. Ali-‘Imran [3]: 191 :

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata). “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”.

Penafsiran QS. Ali-‘Imran [3]: 191

Ath-Thabari menuturkan dalam tafsirnya Jami’ Li Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an, Al-Qasim menceritakan pada lafadz الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ . Yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT dalam keadaan salat dan selain salat serta ketika membaca al-Qur’an. Senada dengan Ath-Thabari, dalam tafsir Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an Al-Qurthubi juga menjelaskan lafadz tersebut yang dimaksud adalah orang-orang yang berdzikir kepada Allah SWT pada setiap keadaannya.

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Ashr: Merefleksikan Kembali Makna Waktu

Pada lafadz selanjutnya وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ Al-Qurthubi juga memaparkan secara jelas. Lafadz tersebut mempunyai indikasi bahwa Allah SWT menggandengkan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya. Yaitu ber-tafakur (merenungkan) kekuasaan Allah SWT dengan segala ciptaan Allah SWT dan tentunya mengambil adanya ibrah dari apa yang terbayangkan. Supaya dapat dijadikan sebuah penambahan wawasan terhadap Sang Pencipta.

Tafsir Ibnu Katsir karangan Imam Ibnu Katsir dalam penjelasannya terkait lafadz diatas juga sependapat dengan Ath-Thabari dan Al-Qurthubi. Tetapi pada lafadz selanjutnya رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ menuturkan Allah SWT akan memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa yang telah dikerjakan. Begitupun sebaliknya dengan balasan amal yang baik. Kemudian do’a untuk meminta perlindungan supaya terhindar dari azab neraka.

Reinterpretasi QS.Ali-‘Imran [3]: 191

Apabila QS.Ali-‘Imran [3]:191 ditelisik secara mendalam, terdapat tiga komponen tersirat karakter cendekiawan yang harus diperhatikan. Komponen pertama terletak pada lafadz الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ yakni karakter istiqomah dalam spiritual. Sosok cendekiawan seyogyanya harus senantiasa istiqomah mengingat Allah SWT. Karena menciptakan suatu ibadah tentu akan berdampak pada perilaku. Semakin ibadah yang dikerjakan baik, maka akan semakin baik pula perilakunya.

Komponen kedua, terletak pada lafadz وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ yakni berfikir secara gigih atau dalam dunia akademik disebut sebagai intelektual, ciri intelektual adalah mampu mengambil sesuatu dengan keputusan yang tepat. Dengan demikian, yang harus dilakukan seorang intelektual adalah dengan giat mengkaji (belajar). Hal ini secara jelas pada lafadz tersebut terdapat indikasi tersirat diperintahkan untuk ber-tafakur. Sedangkan tafakur dalam pengertian ini bisa dikorelasikan dengan konteks cendekiawan sebagai bentuk belajar yang sungguh-sungguh.

Baca Juga  Menyelami Paradigma Sufistik Hamka dalam Tafsir Al-Azhar

Komponen ketiga. Pada lafadz terakhir رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ternyata maksud ayat tersebut dapat ditarik ke ranah tingkah laku sosial. Secara tekstual meminta do’a perlindungan supaya tidak memperoleh azab neraka juga mengandung definisi untuk tidak menyakiti kepada sesama. Hal ini segala sesuatu yang termasuk jenis penyimpangan sosial dapat berdampak negatif dan tentu dalam agama bisa menimbulkan dosa. Sehingga bertingkah laku sosial yang dimaksud adalah seseorang harus berbuat baik kepada sesama; seorang cendekiawan tidak hanya memperhatikan relasinya kepada Allah SWT tetapi juga kepada sesama.

Kesimpulan

Maka, ketika dianalisis perpaduan antara penafsiran di atas dan reinterpretasi QS.Ali-‘Imran [3]:191 terkait tiga komponen sejati cendekiawan terdapat kategori relavan dalam sikap cendekiawan. Berawal dari mengingat Allah SWT secara terus-menerus. Beralih dengan gaya bahasa mufasir yaitu ber-tafakur tentang penciptaan Allah SWT supaya mendapatkan ibrah. Hal yang sama dengan reinterpretasinya berfikir secara gigih. Kemudian lafadz terakhir bentuk pemujian Allah SWT dan doa agar terhindar dari siksa neraka yang juga dekontruksi dari tingkah laku sosial yang baik. Sehingga seluruh komponen di atas, mengandung bentuk perhatian hubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, dan orang lain. Wallahu A’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi