Di sela-sela menguatnya pemikiran sekularisme, al-Qur’an sejak awal sudah menampilkan adanya hubungan yang intens antara ilmu dengan agama. Pemikiran sekularisme muncul ketika rasionalisme yang mengunggulkan nalar tanpa mengaitkan pada agama. Atau pemikiran ini ingin menegaskan pemisahan ilmu dengan agama. Sehingga menancap pada pandangan beberapa pemikir Barat bahwa tidak ada hubungan antara agama dengan ilmu.
Agama menurut mereka tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan kehidupan hari ini yang penuh dengan nuansa iptek. Agama menurutnya hanya berbicara landasan moral dan etika pada kehidupan dan hubungan dengan Tuhan bukan untuk menyelesaikan persoalan. Setidaknya, fenomena ini mengakar pada beberapa dekade yang lalu dan telah menjadi alur sejarah tentang keilmuan dan keagamaan.
Namun apakah benar bahwa agama tidak memperhatikan ilmu? Atau apakah benar bahwa agama tidak mampu menyelesaikan persoalan keilmuan? Tulisan ini ingin memperkuat asumsi bahwa agama (Islam) memperhatikan hubungan antara ilmu dengan agama.
Terma Nalar atau Berpikir dalam Isyarat al-Qur’an
Ibrahim Kalin (2012) dalam Reason dan Rationality in The Qur’an, menyebutkan bahwa al-Qur’an menggunakan sejumlah kata yang berkaitan erat dengan nalar atau berpikir. Tafakkur (berpikir), qalb, (hati), fu’ad, (hati bagian dalam), dan lubb, secara harfiah berarti benih bermakna hati yang hakiki, merupakan beberapa di antara istilah-istilah yang berhubungan dengan aspek yang berbeda dari tindakan merasakan, berpikir dan merenung.
Ada juga istilah-istilah lain yang termasuk dalam bidang semantik yang sama dengan ‘aql, ‘ilm, (pengetahuan), fahm (pemahaman); fiqh, (melihat/memahami); idrak (menggenggam); syu’ur (kesadaran); burhan (demonstrasi); hujjah (bukti); bayyinah (bukti yang jelas); sultan (bukti yang sangat banyak), furqan (pembeda/kearifan); tadabbur (perenungan); nutq (berbicara/berpikir); hukm (keputusan), hikmah (kebijaksanaan); dan zikir (zikir/penghayatan).
Al-Qur’an menggunakan istilah-istilah di atas, yang bila dipahami secara mendalam menghasilkan kajian yang berbeda. Istilah tersebut secara kontekstual merupakan pemikiran integrasi yang dalam hal ini mengandung aspek berbeda pada seluruh eksistensi realitas yang inklusif. Yang lebih penting, pemahaman ini menggiring pada model berpikir yang mengombinasikan observasi empirik, analisis rasional, pertimbangan moral, dan penyucian jiwa.
Banyaknya kosakata ini mengacu pada keseluruhan persepsi dan pemikiran. Hal ini tentu berbeda dengan distingsi kategori sesuai dengan persepsi dan analisis konseptual. Pandangan awal tentang dunia pemikiran ini terkadang berlawanan dengan sesuatu yang menempati posisi pengamalan yang menyatu, antara pengalaman dengan pemikiran.
Nalar dan Ruang Persepsi
Dalam ruang persepsi, organ pengetahuan dan rasionalitas bekerja satu sama lain. Perbedaan yang jelas antara korespondensi dunia fisik material dan intelektual merupakan refleksi pemikiran Rene Descartes yang populer dengan teori rasionalismenya. Teori ini memberikan deskripsi akurat pada aksi persepsi dan pemahaman. Berkat teori ini, beberapa kategori ini memiliki refleksi turunan sampai ada perbedaan jelas antara subjek dan objek, orang yang mengetahui dan apa yang diketahui, mental dan material, dan lain sebagainya.
Dalam pemahaman Islam, makna mengetahui melalui akal ini tercermin dalam salah satu akar kata dari kata ‘aql, yaitu mengikat, menghubungkan, dan mengaitkan. Akal mengikat kita pada kebenaran dan dengan demikian membuka cakrawala baru di luar rantai sebab-akibat yang biasa. Secara horizontal, akal manusia bergerak di antara dan melintasi fakta-fakta dan konsep-konsep dan menghubungkannya satu sama lain. Secara vertikal, akal menghubungkan apa yang ada di bawah dengan yang di atas.
Al-Qur’an menekankan pada konvergensi dua alur kausalitas: horisontal, yang mengatur dunia sebab-sebab fisik, dan vertikal, yang memperkenalkan ‘perintah Ilahi’ (amr) ke dalam alam alamiah. Tidak ada pertentangan di antara keduanya, namun keduanya mengikuti aturan yang berbeda. Siang dan malam mengikuti satu sama lain sebagai bagian dari tatanan alam tempat kita hidup dan tidak ada yang melanggar aturan ini. Tetapi juga “apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya “jadilah”, maka jadilah ia” (Yasin 36:82). Setiap alam eksistensi membutuhkan jenis pemikiran yang berbeda.
***
Elaborasi kosa kata tentang penginderaan, penalaran dan pemikiran yang digunakan Al-Qur’an merupakan keharusan dari sifat realitas itu sendiri. Realitas yang multidimensi tidak dapat dipahami dengan metode kognitif tunggal. Hal ini membutuhkan perangkat kemampuan konseptual yang lebih besar. Pada titik ini, Al-Qur’an berbicara tentang alam gaib, “dunia yang tak terlihat” dan ‘alam al-shayadah, “dunia yang terlihat”. Alam gaib merujuk pada alam eksistensi yang hanya diketahui oleh Allah. Allah telah memberikan isyarat tentang dunia ini, namun tidak ada pengetahuan yang komprehensif tentangnya.
Meskipun tidak dapat diakses oleh pengalaman manusia, dunia yang tidak terlihat memandu perjumpaan kita dengan dunia eksistensi yang terlihat dan dengan demikian berfungsi sebagai rambu-rambu untuk analisis konseptual dan penilaian moral. Dalam pengertian metafisik dan moral, Al-Qur’an mengatur urusan dunia yang terlihat di mana kita hidup.
Apa yang mencolok tentang gagasan Al-Qur’an tentang ‘dunia yang tampak’ adalah bahwa persepsi yang tepat tentangnya didasarkan pada pengalaman ‘menyaksikan’ (musyahadah), yang berbeda dari melihat dan melihat. Menyaksikan berarti berdiri di hadapan sesuatu yang menampakkan diri. Hal ini memerlukan penglihatan juga perhatian.
***
Konsep-konsep, yang tidak tercipta dalam ruang hampa, berhubungan dengan aspek-aspek yang berbeda dari realitas dan muncul dalam perjumpaan dengan realitas, yang oleh Al-Qur’an digambarkan sebagai “memberikan kesaksian tentang kebenaran”.
Dengan demikian, kita ‘melihat’ cahaya, ‘menyentuh’ kayu, ‘mencium’ aroma mawar, ‘mencicipi’ buah ceri, ‘merasakan’ dimensi, ‘memikirkan’ ketidakterbatasan, ‘memiliki kesadaran akan’ dekatnya air, ‘membedakan’ antara benda dan bayangannya, ‘memahami’ perintah, ‘merespon’ panggilan, ‘tunduk’ pada kebenaran, ‘menerima’ bukti-bukti, ‘merenungkan’ makna kehidupan, dan seterusnya. Setiap tindakan epistemik ini mengatakan sesuatu tentang kemampuan mental dan konseptual yang digunakan untuk memahami dunia. Namun yang lebih penting, tindakan-tindakan ini berhubungan dengan sesuatu di luar diri kita dan memperluas cakrawala subjektivitas.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.