Hadis telah banyak menyebar di kalangan muslim. Khususnya pada bentuk teks, telah banyak kitab hadis yang dikodifikasikan. Kita mengenal al-jami’, musnad, athraf, sunan, mustadrak, dan mustakhraj. Kitab tersebut ditulis para muhadis yang brilian dalam ilmu hadis.
Hingga sekarang, kitab-kitab ini dapat diakses dengan mudah, khususnya menggunakan fasilitas IT. Pencarian terhadap hadis menjadi mudah dengan fasilitas searching. Namun tetap, ketepatan dan kemampuan memilih hadis menjadi dibutuhkan.
Salah satu kitab hadis yang terkenal dalam al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari. Kitab ini menempati urutan pertama dalam kesahihan hadis. Ini disepakati oleh para ulama terutama ahli sunah waljamaah. Tingkatan kesahihan pada martabat pertama dihubungkan dengan keistimewaan penyusunnya yaitu Imam al-Bukhari.
Tulisan singkat ini ingin menelusuri keistimewaan Imam al-Bukhari.
Nama dan Nisbah
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Nisbahnya kepada tempat kelahirannya, yaitu Bukhara. Sekarang berada di negara Uzbekistan. Daerah ini dikenal dengan nama bilad ma wara’ al-nahr (negara diluar sungai), atau terkenal dengan Transoxania.
Di sana terdapat Uzbekistan, Tajikistan, Turkmekistan, dan Kazakhstan. Sekarang, beberapa negara tersebut menjadi pecahan dari Uni Sovyet. Beliau lahir tahun 194 H/ 810 M, dan wafat tahun 256 H/870 M).
Nisbah Bukhara menjadi al-Bukhari sangat melekat pada namanya. Seperti halnya beberapa ulama yang namanya biasa dinisbahkan pada tempat kelahirannya. Kemasyhuran nisbah ini, sepertinya menguatkan pandangan bahwa kalau yang disebut Imam al-Bukhari, bukan orang lain.
Sebutan ini pasti merujuk pada Imam al-Bukhari ini, sebagai ulama hadis. Sebuah nama yang masyhur di kalangan muslim terutama dalam bidang ilmu hadis.
Keistimewaan Imam Al-Bukhari
Imam al-Bukhari memiliki keistimewaan dalam hapalan hadis dan kaidah penashihan hadis. Ia memiliki hapalan yang kuat dan pemahaman brilian. Dalam bidang hadis, ia tercatat hapal 100.000 hadis shahih dan 200.000 hadis yang tidak shahih. Kecerdasan sudah tampak pada masa anak-anak.
Pada masa dini ini, ia mampu menghapal 70.000 ribu beserta sanad sekaligus sejarah perawi hadis. Sebuah kecerdasan yang luar biasa. Karena hadis, tidak hanya disebutkan matan, tapi diruntut pula setiap sanad dengan jalur yang berbeda-beda.
Gelar Amirul mu’minin fi al-hadits, melekat padanya. Karena, ia memiliki kecerdasan dan hapalan luar biasa, sebagaimana pengakuan ulama sezamannya, murid, juga ulama setelahnya. Hampir setiap informasi keagamaan, pasti yang dirujuk pertama setelah al-Qur’an adalah kitab shahih-nya.
Beberapa ulama hadis setelahnya berguru kepadanya, seperti penulis kitab Shahih Muslim, yaitu Imam Muslim, juga Sunan al-Nasa’i, yaitu Imam al-Nasa’i.
Sangat jarang, orang yang mampu menghapal hadis di atas 100.000 bahkan dengan sanadnya. Kemampuan yang luar biasa ini seolah menonjolkan keistimewaan rujukan Islam yang sangat banyak dan kompleks dan berada di tangan orang yang brilian.
Apalagi, kecerdasan itu muncul apabila dihubungkan dengan hapalan hadis dengan jalur periwayatan berbeda dengan matan yang sama. Tak menjadi keberatan para ulama untuk menjulukinya sebagai Pemimpin Orang Mukmin dalam hadis.
Tak hanya itu, kodifikasi hadis pada al-Jami’ al-Shahih-nya menjadi rujukan semua kalangan. Derajat ketashihan hadis yang sangat ketat, dari sekitar 600.000 hadis, ia seleksi menjadi 7593 hadis, menurut versi Muhammad Fuad Abdul Baqi. Tak mungkin seleksi itu berjalan lancar, tanpa ditangani oleh orang yang super cerdas.
Kodifikasi hadis pada kitab berlangsung selama 16 tahun. Salah satu ulama yang mendorong penyusunannya adalah Ishaq bin Rahawaih. Ia berkata pada Imam al-Bukhari:
“(Sangat diharapkan) Andaikan engkau menyusun hadis yang sahih”. Perkataan Ishaq bin Rahawaih ini memupuk semangat dalam mengerahkan kecerdasannya untuk menyusun kitab yang terkenal itu.
Kecerdasan dan Pengembaraan Ilmu
Kecerdasan yang brilaian ditunjang dengan semangat dalam pengembaraan ilmu, menjadikan Imam al-Bukhari sangat cerdas dalam penguasaan hadis. Terlebih, hadis yang memerlukan hapalan, juga pentingnya bertemu dengan guru atau perawi. Dua faktor ini menjadi pendorongnya untuk menyeleksi ketat hadis yang diterima.
Banyak kota dan ulama yang dikunjuni. Tercatat, kota Balkha, Ray, Marwa, Basrah, Baghdad, Harrah, dan Naisabur, serta Mekkah dan Madinah, menjadi jalur pengembaraan ilmu. Di kota-kota tersebut, Imam al-Bukhari memastikan bertemu dengan parawi sekaligus mengecek kesahihannya.
Sebuah perjalanan yang berkualitas dalam ilmu. Bertemu dengan guru, membawa hadis dan mengkonfirmasinya, kemudian dilakukan penashihan. Fenomena ini sangat kental nuansa keilmuannya, karena melibatkan pengerahan kemampuan dan memastikan konfirmasi hadis yang diperolehnya.
Rihlah ilmu ini menguatkan asumsi bahwa hadis memerlukan transmisi yang valid pada jalinan pembawa dan penerima hadis. Tak hanya itu, semangatnya menuntut ilmu menembus batas teritorial, sehingga kota-kota tempat perawi tak lekang ia kunjungi. Gurunya sangat banyak, karena memastikan adanya transmisi yang jelas.
Seolah ini menunjukkan belajar hadis memerlukan jalinan guru yang banyak. Kita bisa melihat atau membacanya dalam ragam rangkaian sanad dan perawi dalam hadis yang dikumpulkannya. Semangatnya menunjukkan bahwa penguasaan hadis perlu seleksi yang ketat dalam matan dan sanad.
Guru Imam Al-Bukhari
Di satu kota, ia menemui banyak guru. Sebut saja di Baghdad, ia menemui Muhammad bin ‘Isa al-Thiba’, Suraij bin al-Nu’man, Ahmad bin Hanbal, dan aqran-nya. Kata aqran yang berarti ulama yang sezaman, ini dijumpai juga pada rantai guru di kota lain.
Rangkaian ini menujukkan bahwa pada satu kota pun, Imam al-Bukhari bertemu dengan banyak guru. Bagaimana dengan kota lain yang sama seperti itu? Dipastikan gurunya menjadi sangat banyak. Berarti rangkaian ilmu Imam al-Bukhari dengan gurunya luar biasa banyaknya
Pada waktu itu, validitas hadis dengan rangkaian sanad menjadi faktor penting. Pertemuan dan penilaian terhadap pembawa berita menjadi urgens dalam kesahihan hadis. Bagaimana dengan saat ini? Untuk menelusuri hadis, kita dapat meneliti pada media cetak dan IT dengan varian cabang ilmu hadis yang beragam.
Sebuah keuntungan besar untuk memudahkan pembelajaran. Jika kita tidak bisa meniru seperti apa yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari, minimal semangat kita dalam mengkaji hadis tidak pernah kendur. Karena, bagaimana pun hadis tetap menjadi rujukan penting dalam keislaman. Wallahu A’lam.
Penyunting: Bukhari




























Leave a Reply