Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ibn al-Qayyim: Hermeneutika Tradisionalistik-Rasional dalam Tafsir

Ibn al-Qayyim dan Tafsirnya
Sumber: https://archive.org/details/BEDIULFEWID01IbnQajjmElDewzijjeh/BED%C4%80I%27U-L-FEW%C4%80ID%20%20%2001%20%20%20-%20%20%20Ibn%20Qajjm%20el-D%C5%BEewzijjeh/mode/2up?view=theater

Pendahuluan

Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, nama Ibn Qayyim al-Jauziyyah tak pernah lepas dari perdebatan. Sosok yang hidup di Damaskus abad ke-14 ini adalah murid setia dari Ibn Taimiyyah, seorang reformis kontroversial yang mengguncang lanskap teologi dan hukum Islam Sunni.(Al-‘Imrān, 2021) Meskipun dikenal luas sebagai ahli fikih, teolog, dan sufi Ḥanbalī, Ibn al-Qayyim menarik perhatian para sarjana modern karena pendekatannya yang unik dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebuah pendekatan yang memadukan semangat tradisionalisme skriptural dengan dorongan rasional dan didaktik.(Bori & Holtzman, 2010; Holtzman, 2018; Hoover, n.d.). Esai ini akan mengulas kembali secara singkat bagaimana Ibn al-Qayyim menyusun pendekatan tafsir yang khas dan kompleks dalam menghadapi teks wahyu.

Damaskus, Mazhab Ḥanbalī, dan Warisan Ibn Taimiyyah

Ibn al-Qayyim lahir di Damaskus pada 1292 M, pada masa ketika kota itu menjadi pusat keilmuan Islam setelah kejatuhan Baghdad. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi mazhab Ḥanbalī dan sejak usia muda sudah menunjukkan bakat dalam ilmu hadis. Pertemuannya dengan Ibn Taimiyyah pada usia 21 tahun menjadi titik balik intelektualnya. Terpesona oleh pemikiran sang guru, Ibn al-Qayyim menjadi murid terdekat dan penerus utama pemikiran Ibn Taimiyyah.(Al-‘Imrān, 2021; Holtzman, 2018)

Damaskus pada masa itu merupakan medan pertarungan intelektual antara tradisionalis Ḥanbalī dan Asy‘arī, yang berafiliasi dengan mazhab Syāfi‘ī. Ibn Taimiyyah, dengan ide-idenya yang menolak ta’wīl, bid‘ah, dan fanatisme mazhab, sering bersitegang dengan otoritas keagamaan resmi. Akibatnya, ia kerap dipenjara, termasuk bersama Ibn al-Qayyim pada tahun 1326.(Rapaport & Ahmed, 2015)

Pasca wafatnya sang guru pada 1328, Ibn al-Qayyim meneruskan perjuangan ideologis Ibn Taimiyyah, bahkan dalam kondisi politik yang tak menguntungkan. Ia mendapat posisi mengajar yang prestisius, namun juga menghadapi tekanan dari otoritas madzhab Syāfi‘ī. Ia terus menulis, berdebat, dan menyebarluaskan ajaran gurunya, termasuk melalui pendekatan tafsir yang khas terhadap Al-Qur’an.(Bori & Holtzman, 2010)

Tafsir yang Tak Dibukukan

Salah satu keunikan Ibn al-Qayyim adalah ia tidak pernah menulis kitab tafsir yang lengkap secara berurutan (tafsīr musalsal). Namun, hampir semua karya monumentalnya memuat penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, baik dalam kerangka fiqh, kalām, dan tasawuf.(Bori & Holtzman, 2010; Mirza, 2023; Ovadia, 2024)

Baca Juga  Pernikahan dalam Pandangan Al-Quran

Beberapa bagian karyanya bahkan memuat penafsiran menyeluruh terhadap surat-surat pendek seperti al-Fātiḥah, al-Kāfirūn, al-Falaq, dan al-Nās. Selain itu, ia menulis tafsir tematik seperti al-Tibyān fī al-Aimān bi al-Qur’ān yang membahas sumpah-sumpah dalam Al-Qur’an.

Seiring berjalannya waktu, para muḥaqqiq (editor) dan penerbit modern mengumpulkan fragmen-fragmen tafsir Ibn al-Qayyim ke dalam bentuk tafsir utuh, seperti al-Tafsīr al-Qayyim, Badā’i‘ at-Tafsīr, dan al-Ḍau’ al-Munīr.(Ovadia, 2024)

Tafsir Surat al-Kāfirūn: Gramatika, Teologi, dan Tasawuf

Studi kasus tafsir Ibn al-Qayyim atas surat al-Kāfirūn dalam Badā’i‘ al-Fawā’id merupakan ilustrasi paling menarik dari pendekatannya. Dalam surat yang hanya terdiri dari enam ayat ini, Ibn al-Qayyim menyajikan analisis gramatikal yang sangat rinci, terutama mengenai fungsi kata sebagai kata ganti relatif.(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, 2019)

Ia menunjukkan bahwa (apa), sebagai penunjuk umum, menunjukkan makna abstrak dan universal dibandingkan man (siapa) yang menunjuk pada personifikasi. Dengan pendekatan ini, ia menegaskan bahwa ayat “Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah” tidak sekadar menyatakan perbedaan objek ibadah, tetapi menolak nilai dari apa pun yang tidak pantas disembah.(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, 2019)

Tak hanya gramatika, Ibn al-Qayyim menyematkan makna-makna sufistik dan teologis. Ia menafsirkan ayat terakhir, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”, sebagai deklarasi barā’ah (pemutusan total) dari kaum musyrik, bukan sebagai bentuk toleransi. Ia bahkan menyarankan bahwa ayat ini juga dapat diterapkan dalam konteks intra-umat Islam; misalnya terhadap ahl al-bid‘ah yang menyimpang dari jalan kenabian.(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, 2019)

Menariknya, Ibn al-Qayyim mengklaim bahwa tafsir ini adalah hasil ilhām langsung dari Allah, tanpa mengandalkan tafsir sebelumnya. Pernyataan ini menunjukkan dimensi mistik yang sangat personal dalam pemahamannya terhadap Al-Qur’an.

Tafsir Kontra-Rasionalisme: Al-Ṣawā‘iq al-Mursalah

Jika tafsir surat al-Kāfirūn menunjukkan nuansa sufistik dan linguistik, maka karya besar Al-Ṣawā‘iq al-Mursalah merupakan manifestasi teologi polemis Ibn al-Qayyim terhadap rasionalisme kalām, khususnya Asy‘ariyyah. Dalam karya ini, ia menggempur penggunaan majāz (metafora) dan ta’wīl filosofis dalam memahami sifat-sifat Allah.(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, 1998)

Baca Juga  Mengenal Tafsir Ibnu Qoyyim Al-Jauzy yang Bercorak Kalami

Berbeda dari posisi Asy‘ariyyah yang cenderung menginterpretasi ayat-ayat sifat secara figuratif, Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa sifat-sifat Allah harus dipahami secara literal (‘alā ẓāhirihi) tanpa mempertanyakan “bagaimana”-nya (bi-lā kaifa). Ia mengklaim bahwa bahasa manusia berasal dari wahyu dan karenanya harus dimaknai berdasarkan kebiasaan lisan Arab dan konteksnya (‘urf dan qarīnah).(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, 1998)

Ibn al-Qayyim mengkritik asumsi bahwa ayat-ayat sifat termasuk kategori mutasyābih (ambigu). Ia menyatakan bahwa para sahabat tidak pernah menganggap ayat-ayat itu ambigu, bahkan lebih jelas dari ayat-ayat hukum. Baginya, ayat-ayat sifat adalah muḥkam (pasti) dan hanya menjadi mutasyābih bagi yang hatinya tertutup.

Ia juga mengembangkan analisis semiotik antara makna umum (‘āmm) dan khusus (khāṣṣ) dari istilah muḥkam dan mutasyābih, yang membuktikan kemampuannya mengolah logika rasional dalam kerangka tradisionalistik. Dalam banyak hal, Al-Ṣawā‘iq adalah ekspresi teologi skriptural yang bersaing di wilayah kalām, tanpa benar-benar menyatu dengan tradisi kalām itu sendiri.

Rasionalisme Tradisional: Tafsir sebagai Pendidikan

Pendekatan Ibn Qayyim sangat didaktik. Ia tidak hanya berusaha menjelaskan teks, tetapi juga mendidik pembaca atau pendengarnya untuk berpikir secara tegas dan lugas secara Islam. Ia menggabungkan analisis linguistik, argumentasi hukum, kritik teologi, dan pengalaman spiritual menjadi satu narasi tafsir.

Alih-alih menolak akal, Ibn al-Qayyim menggunakan akal untuk mengukuhkan teks. Rasionalisme Ibn Qayyim bukanlah rasionalisme murni, melainkan rasionalisme berada di bawah pengawalan skripturalisme. Ia membangun “rasionalitas dalam tradisi” sebagai jalan tengah antara tekstualisme kaku dan rasionalisme spekulatif.

Dengan pendekatan ini, ia juga menempatkan dirinya sebagai penghubung antara kalangan elite dan awam. Tafsir sufistik surat al-Kāfirūn dapat menarik masyarakat umum, sedangkan Al-Ṣawā‘iq ditujukan untuk polemik intelektual dengan teolog Asy‘ariyyah.

Epistemologi Wahyu dan Bahasa

Salah satu gagasan kunci Ibn al-Qayyim adalah anggapannya bahwa bahasa manusia berasal dari Tuhan dan telah tertanam dalam fiṭrah. Oleh karena itu, kata-kata dalam Al-Qur’an tidak bersifat arbitrer. Makna kata “qarīb” dalam ayat “Aku dekat” (Q. 2:186) bukanlah metafora, melainkan kenyataan spiritual.

Ia membela penggunaan istilah seperti tangan, wajah, atau istiwā’ bagi Allah dengan menyatakan bahwa itu adalah ḥaqīqah (realitas), bukan majāz. Namun, ia tidak mengklaim tahu bagaimana sifat-sifat itu melekat pada Tuhan. Di sinilah ia memadukan literalitas dengan kesadaran transendensi, ajaran khas salaf bi-lā kaifa.

Penutup

Ibn al-Qayyim adalah sosok yang kompleks; seorang skripturalis-rasional, seorang sufi yang polemis, dan seorang Ḥanbalī yang terbuka terhadap logika. Pendekatan tafsirnya tidak dapat terlepas dari gurunya, Ibn Taimiyyah, meski demikian ia tidak sekadar mengikuti. Ia menyusun ulang, menyaring, dan memperluas pemikiran sang guru dalam bentuk-bentuk yang lebih sistematis.

Baca Juga  Jujur Hanya Karena Allah

Tafsirnya terhadap surat al-Kāfirūn menunjukkan sensitivitasnya terhadap bahasa, simbolisme, dan tasawuf. Sementara Al-Ṣawā’iq al-Mursalah mencerminkan ketegasan dalam mempertahankan doktrin wahyu dari gempuran rasionalisme skolastik. Keduanya menampilkan Ibn al-Qayyim sebagai tokoh yang membangun jembatan antara teks dan akal, antara tradisi dan pembaruan.

Kini, warisan Ibn al-Qayyim terus dipelajari, dikutip, dan bahkan ‘dikontroversikan’ oleh berbagai kelompok Islam kontemporer; dari Salafi revivalis hingga kalangan sufi. Namun yang pasti, pemikirannya tetap menjadi bahan bakar bagi diskusi-diskusi teologis, hermeneutis, dan filosofis dalam Islam. 

Bahan Bacaan

Al-‘Imrān, ‘Alī ibn Muḥammad. (2021). Al-Jāmi‘ li Sīrah al-Imām Ibn Qayyim al-Jawziyyah Khilāl Sittah Qurūn. Dar Al-Kitab Al-Lubnani.

Bori, C., & Holtzman, L. (2010). A Scholar in the Shadow: Essays in the Legal and Theological Thought of Ibn Qayyim al-Gawziyyah. Oriente Moderno Monograph Series, 90(1).

Holtzman, L. (2018). Anthropomorphism in Islam. Edinburgh University Press.

Hoover, J. (n.d.). Ibn Qayyim al-Jawziyya. In D. Thomas & A. Mallett (Eds.), Christian-Muslim Relations: A Bibliographical History (Vol. 4, pp. 989–1002). Brill.

Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, M. ibn A. B. (1998). al-Ṣawā‘iq al-Mursalah (‘Alī al-Dakhīl (ed.)). Dār al-‘Āṣimah.

Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, M. ibn A. B. (2019). Badāi‘ al-Fawā’id (‘Alī ibn Muḥammad Al-‘Imrān (ed.)). Dār Ibn Ḥazm.

Mirza, Y. Y. (2023). ‘A Precious Treatise’: How Modern Arab Editors Helped Create Ibn Taymiyya’s Muqaddima fī uṣūl al-tafsīr. Journal of Qur’anic Studies, 25(1), 79–107. https://doi.org/10.3366/jqs.2023.0530

Ovadia, M. (2024). Ibn Qayyim al-Jawziyya. In Qurʾānic Hermeneutics from the 13th to the 19th Century (pp. 173–194). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783111320083-010Rapaport, Y., &

Ahmed, S. (2015). Ibn Taymiyya and His Times. Oxford University Press.

Editor: Dzaki Kusumaning SM