Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hijrah dan Resolusi Tahun Baru: Jalan Menata Masa Depan

Resolusi
Gambar: https://www.inews.id/

“Hijrah itu membangun peradaban”, begitu kata Quraish Shihab. Dalam waktu yang tidak lama lagi, kita akan menyongsong tahun baru sekaligus menutup penghujung tahun. Sepatutnya setiap muslim menjadikan momentum tahun baru ini sebagai pijakan (underlying) untuk kembali berefleksi atas apa yang telah dijalani setahun ini. Tahun baru adalah momentum yang pas bagi kita untuk berhijrah menjadi pribadi yang uswatun hasanah. Menghijrahi dari kebiasaan berperilaku buruk menjadi berperilaku baik, dari kepungan dorongan negatif dari hawa nafsu menuju dorongan positif, dan seterusnya. Inilah hakikat hijrah yang sebenarnya.

Dalam sejarah umat manusia, hampir semuanya bermula dari hijrah. Di dalam hijrah terkandung optimisme, kata Quraish Shihab. Oleh sebab itu, Al-Quran menuturkan,

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. At-Taubah [9]: 40)

Hijrah, Selebrasi dan Resolusi

Kami akan fokus pada redaksi idz yaqulu lishahihibi la tahzan innallaha ma’ana. Konteks ayat ini menjelaskan, seperti penafsiran Quraish Shihab, tentang peristiwa hijrahnya Nabi dan para sahabat ke Madinah. Kala itu, Nabi Saw dan Abu Bakar tengah berlindung di Gua Tsur dari kejaran orang kafir Quraisy. Sesampainya di dalam, Abu Bakar merasa gelisah karena orang-orang Kafir berhasil sampai di mulut gua. Atas dasar itu, Nabi saw mengatakan, “Wahai Abu Bakar, sahabat karibku, janganlah engkau gelisah, Allah bersama kita”.

Baca Juga  Kemajuan Teknologi dalam Pembuatan Dinding Zulkarnain

Seketika itu juga, Abu Bakar merasa tenang. Dalam konteks ini, pesan yang dapat diambil adalah jangan pernah kehilangan optimisme di tengah keadaan sesulit dan segenting apapun. Percayalah, Allah bersama kita.

Hijrah selanjutnya ialah dari selebrasi menuju resolusi. Momentum pergantian tahun, mari kita maknai tidak hanya sekadar selebrasi semata. Seperti euforia berlebihan, hura-hura dan segala hal yang membuat kehilangan makna. Namun, semestinya kita maknai sebagai tonggak sejarah (milestone) menuju resolusi baru yang cerah nan gemilang. Resolusi ini juga diteladankan oleh Nabi saw ketika beliau hendak berhijrah pada saat tengah malam di tengah kepungan pasukan kafir Quraish yang siap membunuh Nabi.

Nabi Muhammad dan Pentingnya Resolusi

Nabi Saw berhijrah bukan tanpa perencanaan yang matang, justru ia membuat resolusi sebagai antisipasi sewak-waktu perintah hijrah dari Allah tiba. Beliau menanyakan kepada para sahabat, apakah unta sudah siap? Apakah perbekalan sudah cukup? Tolong sediakan penunjuk jalan karena kita akan melewati jalan alternatif yang tidak biasa ditempuh? Siapkan informan untuk memasok informasi segala apapun, siapkan orang untuk menghapus jejak kita di perjalanan? Dan seabreg pertanyaan dan perencanaan sebagai bagian dari resolusi.

Oleh sebab itu, sebagai muslim, tahun baru semestinya digunakan untuk menyusun resolusi baru dan merencanakan sesuatu dengan matang, misalnya hal apa saja yang mesti saya lakukan setahun ke depan, target apa yang harus tercapai, dan persiapan apa saja untuk mencapai target tersebut. Hal-hal semacam itu yang terkadang luput dari perhatian kita sebagai seorang muslim karena larut dalam selebrasi atau euforia tahun baru.

Hijrah Adalah Mendidik

Hijrah yang ketiga adalah mendidik diri sendiri. Mendidik diri ini penting sebab tidak banyak orang yang mampu mendidik dirinya sendiri. Kita begitu mudah menasihati orang lain, tetapi tidak cukup mampu mendidik atau mengendalikan nafsu sendiri. Inilah yang kemudian menyebabkan setiap orang saling mengunggulkan kelebihan yang dimiliki tanpa mampu mengarifi kelebihan yang lain. Al-Quran mengisahkan orang semacam ini dengan kullu hizbin bima ladaihim farihun (setiap kelompok, setiap organisais, setiap golongan, dan setiap dari mereka merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya, lihat Q.S. Al-Mu’minun [23]: 53 dan Q.S. Ar-Rum [30]: 32).

Baca Juga  Molekul dalam Ilmu Kimia dan Isyaratnya dalam Al-Qur'an

Dalam bahasa Quraish Shihab, “setiap yang berhijrah harus terlebih dahulu menemukan apa keburukan utama yang harus ditinggalkannya.” Keburukan utama yang dimaksud adalah kesalahan berat apa yang terkandung di dalam dirinya yang harus ia ubah. Setelah itu, baru bertekad untuk meninggalkan dan memulai perubahan yang positif itu sendiri. Lebih lanjut, Shihab juga mengatakan, “hijrah adalah meninggalkan yang buruk sambil mengikat diri dengan yang baik. Adapun yang ditinggalkan dan dinilai buruk itu meliputi kondisi dan situasi masyarakat maupun keburukan diri sendiri”.

Semoga momentum tahun baru ini kita mampu mengisinya dengan kebaikan, kebijaksanaan, ilmu dan kepenuhan hidayah-Nya kepada kita sehingga mampu menjadi pribadi yang shalihin dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Wallahu a’lam.

Penyunting: Bukhari

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penikmat kajian keislaman, pendidikan Islam, pemikiran dan filsafat Islam, sosiologi dan studi al-Quran