Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dua Nasehat Diri Warisan Nabi SAW: Berbicara dan Diam

Sumber: istockphoto.com

Terkadang dalam menyeru kebaikan, seringkali kita lupa terhadap diri sendiri karena saking banyaknya kita mencari kesalahan orang lain. Merasa diri lebih baik dan lebih faham terhadap suatu hal, padahal kita juga seharusnya memberi nasehat terhadap diri kita terlebih dahulu untuk bisa memberikan nasihat kepada orang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Begitulah perumpamaan orang yang lupa menasehati diri sendiri.

Perintah menasehati diri sendiri terlebih dahulu telah Allah wahyukan kepada Nabi Isa As. “nasehatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasehat, maka nasehatilah orang-orang. Jika tidak malulah kepada Allah” di terangkan dalam kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali. Kemudian diterangkan dalam hadist nabi “aku tinggalkan dua nasehat kepadamu, yang berbicara dan diam

Nasehat yang berbicara

Maksud dari nasehat yang berbicara adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan sbagai pedoman hidup manusia, pemberi obat bahkan pemberi nasehat. Semua sudah diterangkan dan dijelaskan dengan firman Allah, tinggal bagaimana kita mengambil ibrah serta nasehat saja dari padanya. Allah berfirman dalam Qs. Al-Hud: 15-16:

Barangsiapa yang mengendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nisacaya kami berikan kepada mereka balasan dari pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang telah memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“.

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, membuat perumpamaan orang yang melakukan kebaikan. Seperti puasa, shalat tahjjud, shadaqah, dll yang mereka niatkan untuk pamer atau riya’ maka, Allah akan mengganjar sesuai dengan apa yang mereka niatkan. Seseorang shalat tahajjud di malam hari di mana niatnya adalah agar mendapat pujian dari orang lain, mendapatkan gelar seseorang yang paling baik kesholehannya. Demikian juga Allah akan memberikan sesuai dengan niatnya. Dan ketika mereka di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa tantang apa yang mereka kerjakan di dunia dan mereka termasuk dalam golongan orang-orang merugi.

Baca Juga  Hikmah Isra Mikraj: Nabi Muhammad dan Tahun Kesedihan

Semua yang ada di Al-Qur’an bisa kita jadikan nasehat, dari ayat tersebut kita bisa mengambil nasehat bahwa semua tidak bergantung dari persepsi orang lain. Lakukan kebaikan itu sesuai dengan isyarat Islam yang kemudian kita juga akan mendapatkan balasan baik di dunia maupun di akhirat. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah menjanjikan neraka bagi orang yang hidupnya hanya menginginkan dunia.

Nasehat yang diam

Nasehat diam yang dimaksudkan nabi Saw adalah kematian, jika kamu sudah mangambil nasehat dengan yang berbicara, temukan dirimu juga dalam nasehat yang diam. Al-qur’an telah menjelaskan tentang nasehat yang diam. Di firmankan dalam QS. Al-Jumuah ayat 8 “Katakanlah, sesunggunya kematian yang kamu lari darinya maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang hgaib dan yang nyata. Lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan

Di dalam kitab Mu jam imam Tabrani disebutkan melalui hadist Mu’az Muhammad ibnu Muhammad Al-Hudali, dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Samurah secara marfu’: perumpamaan orang yang lari dari kematian sama dengan musang yang dikejar oleh bumi karena suatu utang, maka musang itu melarikan diri dengan cepatnya: hingga akhirnya dia kelelahan dan nafasnya tersengal-sengal, lalu masuk ke dalam liangya. Dan bumipun berkata kepadanya “hai musang, mana utangku?” lalu musang keluar dan malarikan diri dengan cepatnya karena ditagih utang. Dan ia pun terus menerus melakukan demikian hingga nafasnya tersengal dan mati. Sesberapa jauh kita melangkah dan berlari, sejauh itu pula kematian berlari pada tiap pribadi. Tidak ada sesuatu yang kekal dalam dunia. Untuk itu persiapkan dirimu untuk menghadapi hari yang dijanjikan itu.

Baca Juga  Rasulullah Sebagai Role Model Pendidikan Karakter

***

Jika kalian tidak mendapati diri kalian pada dua nasehat itu, maka para ahli hikmat mengatakan “ada segolongan manusia yang separuh darinya telah mati dan separuhnya lagi tak tercegah” dari kalimat tersebut. Imam Al-ghazali mengatakan bahwa; “aku berada dalam golongan tersebut, aku termasuk di antara mereka ketika aku mendapati diriku yang keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil nasehat dari keduanya”. Beliau mendapati dirinya dalam golongan tersebut disebabkan karena terlalu tenang. Terlalu tenang dan yakin bahwa maut masih lama untuk menjemput.

Diumpakamakan, apabila ada seorang yang jujur datang kepada kita siang hari dengan mambawa berita bahwa nanti malam atau seminggu atau sebulan kemudian kita akan mati. Maka kita akan istiqomah berdoa, memohon ampun, mengharap khusnul khatimah dan meninggalkan suatu yang dilarang dan dianggap  rugi kelak di akhirat

***

Demikian itu adalah dua nasehat warisan nabi saw yang satu nasehat berbicara dan yang satu adalah diam. Demikian pula kita mengambil juga daripada mereka untuk selalu niat karena Allah tanpa mengharap balas pujian manusia. Dari nasehat itu juga kita bisa mempersiapkan diri dan nasehatilah diri sendiri dengan nasehat yang disampaikan Rasulullah; “shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia)”. Maka barangsiapa yang melakukan shalat dengan khusyu’ ia akan mudah mempersiapkan diri sesudahnya. Sedangkan orang yang tidak bisa melakukakan hal itu, maka ia termasuk orang yang tertipu, lalai hingga adanya kematian, kemudian mendapati dirinya menyesal karena telah habis masanya. Semoga Allah menetapkan hati kita selalau dalam lindungan dan agamanya. Amiin.

Editor: An-Najmi