Dalam kitab Tafsir al-Hadis karangan Izzat Darwazah, Surah An-Nasr terletak di dalam jilid 9 halaman 573. Kitab Tafsir al-Hadis merupakan kitab tafsir yang disusun dengan tartib nuzuli sehingga memulai penafsirannya dari Surah Al-Fatihah. Kemudian dilanjutkan ke Surah Al-Alaq, dan yang paling akhir adalah Surah An-Nasr, dan beirisi isyarat akan dekatnya ajal Rasulullah.
Surat An-Nasr
Menurut Izzat Darwazah, Surah An-Nas}r menjelaskan tentang perintah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya untuk selalu bertasbih, memuji dan memohon ampunan; untuk mensyukuri nikmat atas kemenangan dan terbukanya Kota Mekkah (Peristiwa Fathu Mekkah). Serta kabar gembira atas berbondong-bondongnya umat manusia masuk Islam.
Sebelum menafsirkan setiap ayat, Izzat Darwazah terlebih dahulu memulai penafsirannya dengan memberikan pendahuluan. Yakni menjelaskan bahwa surah ini turun setelah Surah At-Taubah dan menjadi surah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada dasarnya surah An-Nasr tergolong dalam surah Madaniyyah. Akan tetapi menurut Izzat Darwazah terdapat beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Surah An-Nasr adalah surah Makiyyah.
Sebab Turun Surat
Di dalam pendahuluannya, Izzat Darwazah juga mengambil pendapat-pendapat dari para mufassir yang menjelaskan tentang asbabul nuzul turunnya Surah An-Nas}r. Seperti, penjelasan dari Ibnu Abbas, Al-T}abari, Al-Baqawi, Al-Zamaksyari, dan lain-lainnya.
Menurut Al-Tabari, yang meriwayatkan hadis dari Aisha, menjelaskan bahwa di akhir masa hidup Rasulullah, beliau banyak mengucap dzikir (Subhanakallahumma wa bihamdika astaghfiruk wa atubu ilaika). Sama halnya menurut periwayatan dari Ummu Salama di akhir pemerintahannnya, beliau selalu mengucap dzikir tersebut.
Di akhir pendahuluannya, Izzah Darwazah menyatakan bahwa Surah Al-Fatihah merupakan surah pertama yang diturunkan. Dijadikan sebagai inspirasi dan kemukjizatan al-Qur’an secara rubbubiyah serta menjadi pengantar dalam dakwah Islam yang terdapat dalam al-Qur’an. sedangkan Surah An-Nasr menjadi seruan dakwah dari apa yang telah dicapai umat Islam yang berupa kemenangan dari Allah Swt.
Kandungan Surat An-Nasr
Kemudian Izzah Darwazah menjelaskan tentang kandungan dalam Surah An-Nasr dari sisi cangkupan dan konteksnya. Menurut Izzah Darwazah, bahwa ungkapan ayat-ayat dalam surah tersebut sudah jelas dan tanpa adanya suatu perbedaan pendapat dari kalangan mufassir. Yang berisi tentang kabar gembira dan isyarat.
Kabar gembira tersebut adalah pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad dalam peristiwa penakhlukkan Kota Mekkah dan berita masukknya manusia secara berbondong-bondong ke agama Islam. Sehingga Allah memerintahkan nabi senantiasa bersyukur dengan bertasbih dengan memuji dan meminta ampunan-Nya. Sedangkan isyarat yang dimaksud adalah berita ajalnya Rasulullah semakin dekat.
Izzat Darwazah juga menjelaskan tentang peritiwa penakhlukan Kota Mekkah yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 hijriah. Terdapat riwayat yang menyatakan bahwa Surah An-Nasr turun sekitar 3 bulan sebelum wafatnya Rasulullah. Sedangkan, dalam peristiwa Fathu Mekkah Izzah Darwazah juga mengaitkannya dengan peristiwa yang terdapat pada Surah Al-Hadid, Perang Tabuk pada penjelasan Surah At-Taubah, dan penakhlukkan Kota Thaif pada tahun ke-9 hijriah. Setelah peristiwa Fathu Mekkah, kekuasaan Rasulullah semakin meluas dan menyebar di Jazirah Arab.
Konteks Haji Wada Nabi
Selanjutnya, Izzah Dawarzah menjelaskan dengan membuat pembahasan tersendiri tentang haji wada’ (perpisahan), sakit dan kematiannya Rasulullah. Haji Wada’ atau perpisahan terjadi pada akhir tahun ke-10 hijriah. Dalam pembahasan tentang haji wada’ beliau menjelaskan tentang prosesi jalannya haji pada saat itu dengan mengutip dari hadis periwayatan Muslim dan Abu Dawud. Sedangkan tentang sakit dan wafatnya beliau, Izzat darwazah mengutip periwayatan yang menceritakan sakit hingga wafatnya Rasulullah. Menurut riwayat yang paling populer, Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 hijriah saat berumur 63 tahun.
Penyunting: Ahmed Zaranggi


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.