Proses menjadi hamba Allah Swt sudah dimulai sejak kecil sehingga seseorang yang beragama Islam di didik untuk mengenal agama. Menjadi hamba Allah juga tetap berlaku semasa hidup dan selalu berkelanjutan hingga akhir hayat. Sakaratul maut pun menjadi upaya manusia untuk membuktikan keimanan selama hidup, jika selama hidup ia senantiasa bergaul dan mengimplementasikan ajaran agama Islam maka ia akan mudah melewati sakaratul maut dan begitupun sebaliknya.
Selama hidup seorang muslim akan menanamkan ajaran agama yang ia terima dari orang tuanya sebagai pedoman hidup. Jika dia dilahirkan di dalam keluarga muslim maka ia akan menerapkan nilai-nilai agama Islam dalam kesehariannya. Proses menjadi mukmin diawali dengan hal-hal yang ada dalam rukun Islam yakni mengucap dua kalimat syahadat, menunaikan shalat, berpuasa pada bulan suci Ramadhan, membayar zakat, dan naik haji jika mampu.
Timbul kausalitas jika dia muslim maka dia akan mukmin dan begitupun jika dia tidak muslim maka dia tidak mukmin. Namun benarkah hal demikian menjadi tolak ukur keislaman dan keimanan seseorang? Secara mekanisme benar dikarenakan seseorang yang sudah terbiasa dengan amalan-amalan rukun Islam maka lambat laun akan membentuk dirinya untuk semakin percaya dan kenal kepada Allah. Konsepnya akan benar jika penanaman keislaman baik maka untuk menuju mukmin pun akan baik pula.
Iman dan Taqwa
Perjalanan hidup seorang mukmin akan berubah seiring bertemu banyak orang dan mengalami banyak hal yang dapat mengurangi dan menambah keimanannya. Sahabat Abu ad-Darda Uwaimir al-Anshaari pernah mengatakan bahwa:
الاِيْمَانُ يَزْدَادُ وَيَنْقُصُ
Artinya: “Iman itu bertambah dan berkurang”.
Jika seseorang terbiasa dengan lingkungan ibadah maka tingkat dan kualitas keimanan akan bertambah dan jika terbiasa dengan kemaksiatan maka keimanannya akan berkurang.
Ada keterkaitan antara iman dan taqwa yang menunjang bertambah dan berkurangnya iman. Taqwa sendiri adalah mengerjakan apa yang diperintah oleh Allah Swt dan menjauhi/meninggalkan laranganNya. Namun Allah Swt memerintahkan hambaNya untuk menjadi mukmin yang sebenar-benar taqwa yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” QS. Ali Imran: 102.
***
Apakah seorang hamba itu harus senantiasa beribadah tanpa pernah lalai dalam beribadah? tentunya Allah Swt itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka oleh sebab itu Allah Swt tidak memaksakan hambaNya untuk selalu beribadah kepadanya dikarenakan setiap manusia memiliki tingkatan iman yang berbeda. Allah Swt menunjukkan sifatNya yang Maha Pengampun terhadap hambaNya dalam QS. At-Taghabun ayat 16:
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa menjaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah Swt Maha Pengasih serta Maha Pengampun dengan arti mukmin dengan segala kekurangannya sebagai manusia memiliki banyak kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja dalam hidup. Dalam penggalan diksi awal ayat dijelaskan bahwa Allah menyuruh hambanya untuk bertaqwa semampunya. Sehingga mukmin harus senantiasa untuk berusaha dalam jalur ketaatan kepada Allah meskipun tidak bisa tidak terlepas dari hal-hal yang dapat membuat iman menurun.
Faktor-Faktor Menurunnya Iman
Adapun faktor-faktor menurunnya iman dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 16-17 “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus {16} kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Dari Riwayat Qatadah Sa’id ibnu Abu Arubah menjelaskan bahwa:
- Godaan Iblis dari depan
Iblis menggoda mukmin dari depan dengan cara memberitahukan mukmin bahwa tidak ada hari berbangkit, syurga, dan tidak ada neraka.
- Godaan Iblis dari belakang
Cara iblis menggoda dengan akan mengecoh mukmin agar melupakan akhirat dengan cara menghiasinya dengan kenikmatan duniawi yang fana/baharu.
- Godaan Iblis dari arah kanan
Iblis masih mengincar ketaatan mukmin dari kanan dengan cara menargetkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin. Yakni membuat mukmin sombong, ‘ujub, dan pamer dengan kebaikan yang sudah dilakukannya kepada mukmin lain,
- Godaan Iblis dari kiri
Terakhir Iblis menggoda mukmin dari kiri dengan cara menghiasi kejahatan agar tampak indah. Iblis akan berupaya agar mukmin mengganggap keburukan terlihat baik dan merasa enteng dengan kejahatan sehingga lambat laun mukmin akan terbiasa dengan keburukan sehingga terbiasa melakukannya.
***
Jika segala arah sudah dikuasai oleh Iblis maka potensi naik turunnya iman dalam mukmin akan terlihat. Namun kendati demikian meskipun asumsi-asumsi bahwa Allah itu Maha Pengampun; bukanlah menjadi alasan bagi mukmin untuk membiasakan diri dalam keburukan dan kejahatan. Namun mukmin harus berprasangka baik bahwa satu arah yang tidak bisa dimasuki oleh Iblis adalah dari atas dikarenakan dari arah atas penghalang Iblis dengan rahmat Allah Swt.
Janji pengalihan iman mukmin yang digencarkan oleh Iblis merupakan janji yang tetap terlaksana hingga hari akhir maka mukmin agar selalu waspada dalam beribadah serta meningkatkan ghirah dalam menaikkan kualitas iman. Tugas sebagai hamba Allah selama hidup mesti mengisi aktivitas hari-hari dengan hal-hal yang dapat menaikkan iman serta langsung kembali kepada Allah jika godaan Iblis mulai menjerat hati serta pikiran.
Naik turunnya iman dikarenakan pondasi keimanan seorang hamba maka senantiasalah untuk memperkuat iman sebab Allah Swt tidak memaksakan hamba sebaik-baik taqwa namun sebiasanya.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply