Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Bagaimana Islam Memandang Fenomena Hoaks?

Hoaks
Gambar: liputan6.com

Perubahan zaman telah membawa kita kepada kemudahan dalam mencari informasi. Perkembangan teknologi yang mumpuni sangat memungkinkan kita sebagai manusia untuk mengakses dan memberikan informasi cukup dari genggaman saja, namun satu hal yang tidak kalah penting dari sekedar kemudahan dalam mendapatkan dan memberikan informasi, yaitu kebenaran dan keakuratan informasi tersebut.

Banyak sekarang dikalangan kita yang ketika menerima informasi dari group Whatsapp ataupun menerima informasi di Facebook, Instagram, Tweet, dan sebagainya tanpa mengecek dan mencari tahu kebenerannya terlebih dahulu, kebanyakan dari kita langsung sharing informasi tersebut, sehingga informasi yang belum tentu kebenarannya tersebut sudah dibagikan kebanyak orang, dan pada akhirnya jika informasi itu tidak benar para pembaca telah termakan isu yang tidak valid kebenarannya ,dan seperti yang kita saksikan pada zaman sekarang ini berita hoaks sudah banyak tersebar terutama melalui media sosial.

Secara bahasa Informasi yang tidak benar, tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya disebut dengan hoaks. Hoaks memang terlihat baru di era digital ini, namun dalam pandangan Islam yang pada hakikatnya hoaks telah terjadi pada zaman para nabi terdahulu. Di antara berita hoaks yang pernah terjadi ialah:

Kisah Hoaks yang Terekam Al-Quran

  • Masa Nabi Adam AS, ketika mendapat kabar bohong dari iblis sehingga terusir dari surga.
  • Masa Siti Maryam, ibu Nabi Isa AS yang dituduh berbuat keji dan berzina karena melahirkan anak tanpa seorang ayah. Sampai kemudian Allah menurunkan ayat untuk mengklarisifikai hal tersebut. (QS. Maryam: 28)
  • Masa Nabi Nuh AS. Dituduh orang gila yang berambisi menjadi penguasa. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Al-Quran (QS. Al Qamar: 9)
  • Fir’aun juga menyebarkan berita hoaks dengan menyebutkan Nabi Musa adalah ahli sihir yang ingin merebut kekuasaan dari Fir’aun dan mengusir rakyatnya dari negeri mereka
  • Masa Nabi Muhammad SAW juga harus berhadapan dengan berbagai macam berita hoaks, bahkan Nabi Muhammad sendiri menjadi sasaran keji hoaks. Seperti hoaks yang disebarkan ketiak perang uhud sedang berkecamuk, tiba-tiba terdengar berita bahwa nabi Muhammad telah terbunuh. Sungguh berita ini mengejutkan para sahabat yang sedang berperang dan terjadi kegongcangan yang cukup besar hingga ada sahabat yang meninggalkan medan perang. Inilah salah satu penyebab besar banyaknya korban umat Islam dalam perang uhud. Kemudian hoaks yang paling keji yang disebarkan oleh orang-orang munafik di Madinah adalah hoax tentang fitnah terhadap istri Nabi Aisyah atau sering disebut dengan hadisatul ifki.
Baca Juga  Menerabas Jalan Menuju Kemuliaan

Sebab kejadian-kejadian itu maka turunlah ayat al-Qur’an untuk membantah hal tersebut yaitu surat al-hujurat ayat 6.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”.

Budaya Ghibah

Kebiasaan masyarakat kita dalam membicarakan suatu topik/isu orang lain (ghibah) juga menjadi penyebab terbesar hoaks beredar. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang orang-orang yang beriman untuk tidak saling menggunjing dalam surat al-Hujurat ayat 12.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena seabgian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentukah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Maraknya isu hoaks ini juga tidak terlepas dari rendahnya literasi dikalangan masyarakat kita. Agama Islam menganjurkan ummatnya untuk berhati-hati dan selalu mengecek informasi dan berita yang diterima terlebih dahulu. Secara bahasa keagamaan hal ini disebut Tabayyun. Ayat al-Qur’an yang berbicara tentang bohong didalam surat An-Nur ayat 11


اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yag membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantar mereka yang mengambil bagian yang terbesar dari berita itu baginya adzab yang besar”.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwasannya agama islam sangat memperhatikan dan peduli tentang hoaks ini sehingga dianjurkan bagi ummatnya untuk selalu lebih teliti dalam mengecek suatu informasi atau berita yang diterima serta mencari tahu sumber dari mana asal informasi atau berita tersebut berasal.

Baca Juga  Islam Bersama Nikita Mirzani: Kritik Terhadap Maher At-Thuwailibi

Penyunting: Bukhari

Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ushuluddin, Ciputat