Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai platform seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan Facebook, seseorang dapat membagikan aktivitas, pemikiran, hingga perasaan pribadi hanya dengan beberapa sentuhan jari. Aktivitas berbagi ini seringkali dianggap wajar, bahkan menjadi sarana untuk membangun citra diri atau mendapatkan validasi sosial.
Namun, kebiasaan membagikan informasi secara berlebihan, yang populer dengan istilah oversharing, kian marak dan menimbulkan berbagai dampak yang tidak selalu positif. Tanpa disadari, oversharing dapat mengancam privasi, membuka celah kejahatan digital, hingga memengaruhi kesehatan mental individu. Informasi yang seharusnya bersifat pribadi menjadi konsumsi publik dan dapat digunakan oleh pihak lain untuk tujuan yang tidak diinginkan.
Sekilas Pandang terkait Oversharing
Menurut Hoffman, oversharing adalah ketika seseorang membagikan informasi secara berlebihan atau di luar konteks yang seharusnya. Oversharing di media sosial berpotensi melanggar batas privasi, memicu penyebaran fitnah, serta membuka peluang terjadinya eksploitasi data pribadi. Fenomena ini pada akhirnya dapat berdampak buruk terhadap relasi sosial maupun kondisi psikologis individu.
Orang Indonesia menghabiskan waktu cukup lama di internet dan media sosial setiap harinya, rata-rata sekitar 7 jam 59 menit. Angka ini bahkan melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 6 jam 43 menit.
Kebanyakan orang zaman sekarang menggunakan media sosial untuk berbagi hal-hal penting sampai hal yang tidak penting. Mulai dari yang umum, mencakup kehidupan sosial, ekonomi, politik. Bahkan, yang paling parah terjadi adalah hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak diperbincangkan di media sosial. Jadi, hal-hal yang tersebar di media sosial menimbulkan banyak pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang menganggap itu berita yang benar atau berita yang tidak benar atau hoax.
Menelaah Al-Qur’an: Menyikapi Informasi dengan Bijak
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hujurat: 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Dalam Tafsir Ibn Katsir, Allah Swt. melarang kaum muslimin berbuat gibah atau prasangka. Zaman sekarang, penggunaan media sosial menjadi ajang berbagi informasi pribadi, seperti curhat atau bahkan ada yang menggunjing kehidupan orang lain. Kebanyakan dari media sosial inilah orang-orang mengawali pertengkaran, saling beradu domba, dan lain sebagainya.
Maka dari itu, bijaklah dalam menggunakan media sosial, terlebih dalam urusan pribadi yang seharusnya menjadi ranah privasi. Jagalah diri dari menyebarkan berita-berita yang belum pasti kebenarannya. Dan yang tak kalah pentingnya, jangan sampai berlebihan dalam menyebarkan berita dan cerita pribadi maupun orang lain.
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-Nur: 19 yang memberikan azab bagi orang yang menyebarkan berita tidak benar;
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ١٩
Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
***
Dalam Tafsir Ibn Katsir, ayat ini berkenaan dengan berita bohong yang terjadi kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin. Beliau dituduh melakukan hal yang tidak benar dengan seorang laki-laki selain Rasulullah Saw. oleh golongan penyebar berita bohong. Pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, adalah orang yang mengumpulkan cerita-cerita bohong tentang ‘Aisyah. Ia bahkan menyebarkannya sampai cerita itu merasuk ke dalam pikiran-pikiran kaum muslimin.
Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hanya mengikuti cerita bohong yang dibuat-buat. Sesungguhnya hanya Allah Swt-lah yang Maha mengetahui atas segala sesuatu. Masalah ini kira-kira berlangsung sebulan, hingga Allah menurunkan ayat ini dan membebaskan Aisyah dari tuduhan-tuduhan itu.
Relevansi Al-Qur’an dan Fenomena Oversharing
Kesimpulannya, ayat di atas berisi kandungan yang menyeru umat Islam agar tidak termakan dan terhasut berita-berita yang belum tentu benar. Selain itu, ayat ini juga berisi anjuran untuk tidak membagikan berita atau cerita yang sifatnya berlebihan. Lebih-lebih terhadap informasi yang masih belum jelas lagi akan menimbulkan kesalahpahaman di antara orang-orang. Semua itu terangkum dalam nasehat untuk bersikap bijak terhadap hal-hal yang berkaitan dengan oversharing.
Dalam konteks kekinian, ayat tersebut masih relevan karena maraknya penyebaran berita-berita yang terlampau batas dan tidak benar. Bahkan jika itu adalah suatu berita yang benar, maka cukup sekedarnya saja dan tidak berlebihan, baik dalam urusan pribadi maupun sosial. Kita sebagai umat Islam saling bersatu padu dalam memberantas berita yang tidak benar dan tidak melakukan penyebaran secara berlebihan.
Tindak Preventif terhadap Risiko Oversharing
Berdasarkan berbagai temuan literatur, ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai akibat kebiasaan oversharing di media sosial. Pertama, ancaman terhadap privasi sangat nyata. Informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka bisa menarik perhatian pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hal-hal yang merugikan.
Kedua, dari sisi keamanan, mengunggah lokasi dapat membuat seseorang rentan terhadap bahaya di dunia nyata. Ketiga, ada risiko pencurian identitas. Data seperti tanggal lahir dan alamat bisa saja dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital.
Keempat, informasi yang terlalu terbuka juga bisa digunakan untuk aksi penipuan. Misalnya dengan menyusun cerita bohong yang tampak meyakinkan. Terakhir, tekanan sosial untuk terus mendapatkan respons positif dalam bentuk “like” dan komentar bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Contohnya ialah menimbulkan stres dan kecemasan.
Di era serba digital ini, kemampuan literasi bahkan menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang dalam menyaring dan mengelola informasi yang terus mengalir tanpa henti. Literasi membentuk kemampuan berpikir kritis dan mampu membentuk karakter yang lebih baik.
Editor: Dzaki Kusumaning SM


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.