Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Agamaku Air yang Menghapus Pertanyaanmu: Membedah Puisi Jokpin

Jokpin
Gambar: https://jogja.tribunnews.com/

Membedah Puisi Jokpin

Manusia menurut Kierkegaard akan melalui beberapa tahapan kesadaran dan paling puncaknya ialah menjadi religius. Kesadaran religius merupakan aforisme yang dicari di zaman ini. Zaman manusia telah beragama kepada media Sosial. Joko Pinurbo alias Jokpin yang notabene seorang sastrawan Indonesia, pernah membuat salah satu penggalan puisi yakni:

“Agamaku adalah air yang menghapus pertanyaanmu”.

Puisi-puisi Jokpin memang selalu dilatarbelakangi narasi-narasi sakral. Islam yang berdiri kokoh di Indonesia, merupakan Islam yang penuh kedamaian. Konflik horizon, tentang perbedaan pendapat syariah, seperti fikih, kalam, akidah kerap kali terjadi di Indonesia. Seperti ajaran Wahabiyah yang sering membuat doktrin-doktrin baru yang tidak sesuai dengan keadaan kultur keindonesiaan. Padahal Tuhan telah berfirman surat Yunus ayat 99:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS: Yunus: 99.)

Padahal pada ayat tersebut telah tertera dan tersinergi dengan puisi Jokpin. Bahwa Tuhan bisa saja membuat satu dunia ini dengan satu Ideologi. Tetapi Tuhan menciptakan perbedaan agar kita sadar bahwa beragama dengan tafakur sosial, pluralisme itu ada, dan menghargai pendapat adalah solusi.

Tetapi bagaimana jika beberapa ideologi itu cenderung destruktif dalam beragama, seperti radikal, liberal? Selama koridor tersebut tidak menciptakan kegaduhan sosial, maka masih bisa ditoleransi. Tetapi bilamana itu sudah menjadi penyakit, maka tabligh (menyampaikan) adalah jalan keluar. Tentunya dengan air yang mengalir menghapus pertanyaan- pertanyaan destruktif menuju konstruktif.

Baca Juga  Metode Ibnu Rusyd Dalam Mencari Kebenaran

Agama Itu Santai, Yang Kaku Personalnya

Dalam beragama yang paling penting adalah memahami teologi sebagai wahana spiritual dalam memahami apa itu saleh sosial. Beragama adalah ruang ekspresionis dari individu dalam meraih kebaikan-kebaikan yang realistis. Dan jika kepercayaan atau keyakinan itu adalah dapur masing- masing.

Umat Islam sebenarnya banyak bertengkar perihal- perihal hasil interpretatif jumhur ulama yang mana sebenarnya itu adalah ilmu yang dinamis, atau kata Soroush pengalaman keagamaan. (Wijaya, 2021)

Agama dan keagamaan adalah suatu hal yang berbeda. Agama merupakan hal yang sakral, berkaitan tentang hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sementara keagamaan adalah usaha manusia dalam memahami agama tersebut.

Sebenarnya pertanyaan- pertanyaan yang datang dari pengalaman keagamaan, yang membuat kita gaduh, dan paling superior. Padahal kebenaran hanya milik Sang Pencipta.

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (QS: Al- Baqarah: 147).

Kegaduhan, amarah atau turbulensi beragama, merupakan bentuk subjektif personal, maupun kelompok yang masih mementingkan fanatisme, etnosentrisme, egoisme di lingkunganya. Padahal islam sendiri mengajarkan bahwa semua itu sama derajatnya (sebagai manusia), di sisi Allah SWT. 

Semua yang menjadi permasalahan dalam beragama adalah jalan menuju fastabiqul khairat masing- masing. Ada yang berdagang, ada yang ingin melanggengkan kekuasaan dengan agama, atau hanya mementingkan pendapat pribadi dalam beragama.

Maka kebanyakan yang radikal itu biasanya masih belum dalam memahami Islam secara kaffah. Padahal dalam beragama perlu belajar terus menerus sampai liang lahat.

Belajar Itu Bukan Hanya Tekstual, Juga Kontekstual

Dalam beragama, yang paling penting selain belajar tekstual dengan kitab- kitab ulama. Juga belajar kontekstual, yakni memahami tradisi, sejarah, sosial- politik, nilai- nilai filosofis, di daerah tersebut. Zaman yang semakin maju, jika hanya menafsirkan sesuatu hanya dengan teks, kurang dalam untuk menggali pencarian solusi.

Baca Juga  Tuhan Itu Nyata (1): Gugatan Dawkins Terhadap Tuhan

Maka dari itu sebenarnya, dalam beragama kita harus belajar bagaimana Islam di daerah itu dulunya berkembang, dan bagaimana relevansinya dengan situasi sekarang. Kalau dunia tafsir tidak asing dengan kata double movement milik Fazlur Rahman. Seharusnya itu juga digunakan landasan analitik untuk mencari epistemologi yang tepat untuk digunakan dalam beragama di daerah tersebut.

Tambahan atas Puisi Jokpin

Kurangnya kita menjaga keseimbangan antara turats wal tajdid, yang dimiliki daerah kita sendiri, membuat kita lupa. Bahwa kita juga lahir disitu, maka juga sebaiknya memahami juga bagaimana konteks historis, kultural kebudayaan bangsa itu. Karena beragama juga terikat namanya norma, adat, kebudayaan setempat. Maka saya penulis menambahkan puisi Jokpin dengan begini:

“Dan mengalir, menuju ke hilir dan menghidupimu”.

Artinya ketika perbedaan itu telah mencapai titik keharmonisan, maka wajib bagi air untuk mengalir, menyesuaikan medan, dan menuju ke hilir (sosial) dan menghidupmu, kita dan elemen- elemen sosial yang terkandung. Dengan itu keselarasan dalam beragama akan tercipta, sebenarnya agama itu mengajarkan satu kesatuan yang membawa kita kepada kedamaian dan jalan yang lurus.

Penyunting: Bukhari