Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Analisis Semantik Makna Kafir dalam Surat Al-Kafirun

Sumber: https://lampung.nu.or.id

Kata kafir sering sekali memicu polemik dan pertikaian yang terjadi akibat pemahaman yang berbeda mengenai makna dari kata kafir. Kata kafr sendiri menurut KBBI, kafir merupakan julukan untuk orang-orang yang tidak meyakini allah Swt dan rosulnya.  Sedangkan kosa kata kafir ini sendiri merupakan bentuk akar dari Kafara yakfuru kufr, yang mengandung arti “Menutup”. Kata kafir dalam al-Qur’an salah satunya terdapat pada surat al-kafirun yang secara ekplisit diulang berulang kali dalam surat tersebut.

Sebelum datangnya agama islam istilah ini biasa digunakan oleh orang arab untuk para petani yang sedang menanam benih. Kemudian menguburnya (menutup), dengan melihat makna dasar dan juga mengetahui istilah yang sering digunakan sebelum datangnya islam. Tentunya kalimat kafir tersebut, dapat diimplikasikan menjadi “seseorang yang bersembunyi,ataupun menutup diri, dari makna dasar “menutup”  kata kafir terus berkembang kemakna yang lain.

Ragam Makna Kata Kafir

Di dalam Al-Qur’an kata kafir memiliki berbagai macam makna. Hal ini terjadi karena kata tersebut bergantung pada kalimat dimana kata itu digunakan,berbagai macam makna yang berbeda yakni:

  • Kufur at-tauhid (tidak mempercayai adanya nabi)

Pembagian yang pertama ini melingkupi pengingkaran terhadap wujud Allah, karena mereka beranggapan bahwa alam ini terjadi secara alami. 83 Seperti yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’ãn Surah al -Kahfi ayat 29 yang artinya:

“Dan katakanlah (Muhammad), kebenaran itu datangnya dari tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kufur.

Kata kãfir disini mempunyai arti orang-orang yang tidak percaya akan kebenaran yang berasal dari Allah. Tanda terhadap keesaan Allah sudah teramat jelas dan banyak mulai dalam alam semesta ini maupun diri manusia, maka dari itu bukti adanya Allah ta’ala sudah sangat nyata. Namun ada saja sebagian dari manusia tidak berfikir dan melihat tanda- tanda tersebut, sebagai renungan ada Dzat yang lebih tinggi.

Baca Juga  Tanggung Jawab Pendidikan Anak dalam Perspektif Al-Qur'an

***

  • Kufur al-ni’mah (mengingkari nikmat)

Nikmat yang dianugerahkan allah kepada manusia sangatlah banyak, mulai nikmat kecil hingga nikmat yang besar. Kendati begitu banyak manusia yang lupa bersyukur atas nikmat yang telah diterimanya. Seperti yang telah dijelaskan pada QS al- Anbiya ayat 94 yang artinya:

”Maka barangsiapa mengerjakan amal shaleh, sedang İa mukmİn, maka tiada pembatalan terhadap amalanya. Sesungguhnya kami terhadapnya adalah penulis- penulis.”

Beberapa kasus dalam al-qurân mengatakan kata syukr adalah Iawan dari kata kufi, karena secara kosakata kedua makna tersebut bertentangan.

  • Kufur tidak percaya dengan nabi

Saat nabi menyampaikan risalah kepada umat manusia tidak selalu berjalan dengan lancar. Tidak sedikit yang menolak ajaranya bahkan sampai mengancam dengan pembunuhan. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor seperti tertutupnya hati mereka untuk menerima wahyu, sifat angkuh, dengki dan iri hati kepada para nabi.

  • Kufur meninggalkan tuntunan namun masih beriman

Risalah Yang dibawakan oleh nabi untuk disampaikan kepada seluruh umatnya memuat perintah dan larangan, yang keduanya harus dikerjakan. Apabila ada seorang muslim tidak mengerjakan perintah Nabi dan tidak meninggalkan larangan, maka ia termasuk golongan kufur, tetapi Kufur disini tidak mengindikasikan cellular dari Islam, ia hanya tidak melakukan perintah dan menjauhi larangan tetapi masih beriman.

Makna Kafir Secara Diakronik

Meskipun makna rasionalnya berbeda tetapi makna dasar dari kata tersebut tidak akan berubah dan selalu mengikuti. Mellihat perkembangan makna dari kata kafir dan keragamannya,makna dalam perspektif ilmu bahasa kata tersebut masuk kedalam kategori musytarak lafdzi, atau polisemi. Karena memiliki lebih dari satu makna, didalam ilmu simantik, majaz merupakan salah satu faktor yang menyebabkan musytarak.

Dari penjelasan di atas kita bisa meilhat beberapa perubahan makna dari kata kafir begitupula dengan kata kafir yang ada di dalam al qur’an surat al-kafirun. Umat pada zaman dahulu membuat patung dan menyembahnya hal ini dilakukan mereka karena berangapan bahwa dengan objek atau perantara.

Baca Juga  Dari Teologi Tradisional menuju Teologi Sosial: Refleksi Asmaul Husna

Maka tuhan akan semakin dekat dengan mereka. Penyembahan itupun semakin menjadi karena sudah merupakan tradisi atau keyakinan yang dianut oleh nenek moyang mereka,dan hanya mau mengikuti ajaran nenek moyang mereka,

Melihat dari segi historisnya mereka yang menjadikan patung sebagai perantar. Pada dasarnya mereka hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah; namun sejatinya mereka melalaikan Allah karena penyembahan yang mereka lakukan kepada patung.

Dengan ini dapat dikatakan tidak benar jika kafir yang terdapat dalam surat al-kafirun adalah karena mereka mengingkari wujud allah Swt. Akan tetapi konteks dari kata kafir yang ada didalam surat al-kafirun merupakan ketutupan mereka terhadap apa yang dibawah oleh nabi Muhammad Saw (sunnah dan khasanah).

Kesimpulan

Kata kafir  ini sendiri merupakan bentuk akar dari Kafara-yakfuru-kufr, yang mengandung akar dari Kafara yakfuru kufr, yang mengandung arti “Menutup”.

Kata kafir terus berkembang kemakna yang lain, didalam Al Qur’an kata kafir memiliki berbagai macam makna yakni kufur At tauhid ( Tidak mengakui adanya Allah SWT), kufur al Ni’mah (mengingkari nikmat), kufur tidak percaya dengan Nabi dan kufur meninggalkan tuntunan namun masih beriman.

Konteks dari kata kafir yang ada didalam surat Al Kafirun merupakan ketutupan mereka terhadap apa yang dibawah oleh nabi Muhammad SAW (sunnah dan khasanah).

Umat muslim sebaiknya berhenti memanggil mereka yang non muslim dengan kata kafir karena banyak dari mereka yang tidak memahami dengan benar makna kafir. Sehingga pemahaman mereka tentang makna kafir adalah merupakan suatu perkataan yang buruk untuk mereka yang non muslim ,agar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan.

Editor: An-Najmi