Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Khutbah Jum’at: Menjaga Lingkungan dari Pelaku Oligarki Lingkungan

Sumber: Bisnis Tempo.co

Teks Khutbah Jum’at: Menjaga Lingkungan dari Pelaku Oligarki Lingkungan

Allah Swt menciptakan Bumi dan alam seisinya menjadi tempat tinggal manusia untuk memenuhi segala kebutuhan bagi kelangsungan hidupnya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا

“Dia (Allah Swt) yang telah menciptakan untukmu semua apa yang ada di bumi..” (Q.S Al-Baqarah ayat 29).

Ayat ini dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah dijelaskan, Bumi beserta alam adalah anugerah yang diberikan Allah Swt karena kemurahan-Nya. Maka, tidak ada alasan bagi manusia untuk mengingkari Allah Swt dan mendorong manusia hendaknya menjalani hidup dengan beribadah kepada-Nya sebagai tanda mensyukuri nikmat yang dilimpahkan kepadanya.  Atas konsekuensi itu pula, manusia diberikan tanggung jawab yang besar oleh Allah Swt yang dalam ayat selanjutnya Q.S Al-Baqarah ayat 30 katakan manusia diciptakan sebagai khalifah, bertugas untuk mengelola dan menjaga Bumi dengan lingkungan alam sekitarnya.

Kesadaran ini yang terkadang masih manusia lupakan, bahwa ternyata beragama tidak hanya pada ranah teosentris (ketuhanan) namun juga mencakup pada aspek ekosentris (alam) yang pada akhirnya berpengaruh kepada hubungan manusia itu sendiri yang hidup berdampingan dengan alam. Sangat disayangkan pula, ada sebagian manusia yang gemar berbuat kerusakan (fasad) dan tidak mengindahkan perintah yang Allah Swt berikan. Akibat dari kerusakan-kerusakan tersebut, manusia ditimpa oleh musibah alam yang sebenarnya disebabkan karena perbuatan manusia itu sendiri yang berbuat kerusakan. Allah Swt berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S Ar-Ruum: 41).

Baca Juga  Khutbah 'Idul Fitri: Kemenangan Sejati di Hari yang Fitri

Dalam Tafsir An-Nuur karya Hasbie Ash-Shiddiqy ayat ini menegaskan, bencana alam yang terjadi di muka bumi disebabkan karena perbuatan manusia yang melanggar perintah-perintah-Nya, berbuat maksiat dan karena sifat tamak lagi rakus manusia yang seenaknya tidak mau menjaga alam.

Berbagai perusakan alam yang terjadi disebabkan sifat kematakan dan kerasukan manusia adalah seperti yang dilakukan oleh pelaku oligarki lingkungan. Para oknum oligarki lingkungan ini mengeksploitasi sumber daya alam untuk keuntungan segelintir kelompok atau kepentingan individunya, dengan meninggalkan standar-standar perlindungan lingkungan hidup. Sehingga, apabila sumber daya alam yang tersedia tersebut dikeruk habis-habisan maka akan menimbulkan potensi terganggunya keseimbangan alam dan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Misalnya penebangan hutang secara besar-besaran tanpa memikirkan reboisasi kembali atau penambangan sumber daya alam, seperti tambang emas, gas alam, batu bara dan lain sebagainya tidak boleh berlebihan dan wajib memikirkan pemeliharaan keseimbangan alam dan makhluk hidup di sekitarnya. Maka penting bagi manusia memahami dan menanamkan akhlaq terhadap lingkungannya, agar dapat menjadikan alam sebagai mitra dan bukan sebaliknya memperlakukan alam dengan semena-mena hanya untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Walaupun tadi secara tegas dan eksplisit alam ini memang disediakan untuk kebutuhan manusia, namun tetap saja alam ini juga diperuntukkan bagi makhluk hidup lainnya yang digunakan untuk melanjutkan dan mempertahankan kehidupannya serta untuk kemaslahatan bersama. Karena itu, manusia dilarang memanfaatkan sumber daya alam ini secara berlebihan (israf), berbuat aniaya (dzalim), dan berbuat kerusakan alam di muka bumi (fasad). Larangan keras ini Allah Swt pertegas dalam Q.S Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ

 Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya..”.

Manusia semestinya memandang alam sebagai ciptaan dan berkududukan sama di hadapan Tuhan, sehingga keberadaanya senantiasa untuk dijaga dan eksistensinya terus dilestarikan. Sebab, menjaga lingkungan apalagi memelihara keseimbangan ekosistem lingkungan dan makhluk hidup lainnya adalah bernilai sebagai sedekah, sebagaimana dikutip dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:  “Tidaklah seorang muslim pun yang menanam satu tanaman lalu burung atau manusia atau hewan makan dari tanaman tersebut melainkan itu menjadi shadaqah baginya

Baca Juga  Khotbah Jumat: Menyambut Ramadan dengan Al-Qur'an dan Puasa

Perilaku merusak lingkungan merupakan salah satu ciri sifat orang Munafik. Karena kenapa? Orang munafik adalah orang yang berbaju Islam namun dalam hatinya bertolak belakang yang ia tampilkan di depan orang beriman. Gambaran perilaku orang munafik yang berbuat kerusakan di dalam al-Qur’an dapat dilihat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 204-205:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia adalah penentang yang paling keras” (204). “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan”(205).

Golongan orang munafik ini ditafsirkan oleh Hasbie adalah orang yang bahaya dan patut diwaspadai. Karena orang ini pandai berdebat dan bersilat lidah untuk menipu dan memperdayakan orang lain dengan sikapnya, yang secara lahiriah tampak ingin memperbaiki keadaan masyarakat. Orang-orang munafik ini terdapat dalam setiap umat dan masa, walaupun keadaan dan tampilannya yang berlain-lainan. Ada yang mampu menipu satu dua orang, tetapi ada yang sanggup menipu satu bangsa dan menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran.

Hasbie menafsirkan bahwa sifat orang-orang munafik sangat berlawanan dengan apa yang dituturkan saat berhadapan dengan umat Islam. Ketika di depan, mereka mengaku berbuat kebaikan dan perbaikan (shalah dan ishlah), sedangkan perbuatan yang sebenarnya dilakukan hanya membuat kerusakan. Dalam suatu hadist yang menjadi sebab turunnya ayat ini dari As-Suda berkata: “Aku berkunjung kepada al-Akhnas bin Syarif Ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zahrah. Ia datang menemui Nabi Saw di Madinah, lalu menampakkan keislaman kepadanya dan hal itu mengejutkan Nabi Saw. Ia berkata: “Sesungguhnya aku datang ingin memeluk Islam dan Allah mengetahui bahwa aku ini sangat benar seperti firman-Nya: Allah menyaksikan atas apa yang ada di dalam hatinya.” Kemudian dia pergi dari sisi Nabi Saw. Dan melintasi tanaman keledai milik sekelompok kaum Muslim, lalu membakar tanaman dan menyembeli keledai itu. Maka turunlah ayat ini berkenaan orang munafik yang perlakuannya bertolak belakang di belakang orang Muslim.

Baca Juga  Buletin Jum'at: Islam Agama Fitrah

Tindakan oligarki lingkungan ini seperti orang-orang munafik. Mereka seolah berbuat di depan umat Islam tidak menyatakan dirinya sebagai orang yang berbuat perusak. Sehingga apabila di depan orang, mereka mengatakan perbuatan yang mereka lakukan atas nama kebaikan dan kepentingan orang banyak. Misalnya ini yang banyak terjadi pada kasus proyek-proyek tambang yang berada di kawasan sekitar tempat tinggal masyarakat, mereka menjanjikan kepada masyarakat bahwa tambang ini untuk kepentingan masyarakat. Namun mereka mempunyai keinginan yang terselubung, niat pelaku oligarki ini sangat berlawanan karena mengutamakan kepentingan dirinya sendiri dan banyak merugikan masyarakat di sekitarnya..