Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Wasiat Luqman Al-Hakim; Pendidikan Karakter dalam Al-Qur’an

Luqman
Gambar: bandung.khoiruummah.id

Sebagai orang tua memiliki anak yang berbudi pekerti yang santun adalah suatu hal yang sangat didambakan serta menyejukan hati dan pandangan. Karena berprestasi saja kurang berarti, jika anak sering membuat permasalahan ataupun keonaran di lingkungan sekitar.

Anak yang lahir ke dunia, tentu diharapkan nantinya menjadi generasi penerus bangsa serta agama. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak mempunyai etika dan sopan santun. Oleh karena itu, diperlukan upaya mendidik anak ke arah yang berarakter sesuai dengan ajaran Islam. Tentunya dalam mendidik tidak hanya asal didik, kita perlu pedoman ataupun acuan dalam melaksanakannya.

Kisah Luqman Al-Hakim

Al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam, terdapat di dalamnya kisah yang sangat inspiratif yang perlu kita pelajari dan diteladani oleh setiap orang tua. Kisah itu menceritakan seorang laki-laki yang sukses dalam mendidik anak-anaknya. Generasi yang dididiknya tumbuh menjadi anak yang berkarakter. Laki-laki itu bernama Luqman Al-Hakim.

Sebagai umat Islam tentunya Rahmania pernah mendengar nama Luqman Al-Hakim kan? Nah, Luqman adalah nama seorang laki-laki yang oleh Allah SWT diabadikan dalam Al-Qur’an. Tepatnya di Surah Luqman, yaitu surah ke-31. Tepat dikisahkan pada ayat ke 12-19 terdapat nasehat Luqman yang diwasiatkan kepada anak-anaknya sehingga tumbuh menjadi anak-anak yang berakhlaqul karimah. Dan nasehat tersebut perlu diambil pelajarannya oleh para orang tua dan diterapkan dalam mendidik anak-anak.

Baca Juga  Membunuh Kematian: Sebuah Tantangan Kontekstualisasi Alquran

Wasiat Luqman Kepada Anaknya

Ada beberapa wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya, di antaranya yaitu :

Nasehat pertama, jangan berbuat syirik (QS Luqman ayat 13).

Sebagai umat Islam tentunya kita sudah tahu bahwa syirik adalah dosa besar yang tidak terampuni. Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Luqman memperingatkan kepada anaknya agar jangan sekali-kali menyekutukan Allah SWT. Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan memelihara kita. Mestinya kita selalu menghadirkan Allah di setiap aktivitas kita. Dan tidak patut kita menyekutukan dengan yang lain.

Nasehat kedua, berbuat baik kepada orang tua (QS Luqman ayat 14).

Sahabat rahmania sekalian, sebagai seorang anak harus menyadari bahwasanya hadirnya kita semua di dunia ini juga berkat orang tua kita. Terutama ibu yang mengandung dan melahirkan sampai bertaruh nyawa demi anaknya bisa hadir ke dunia ini. Oleh karena itu, seharusnya kita membalasnya dengan berbuat baik kepada mereka. Namun, apabila orang tua mengajak kepada ha kemunkaran, maka anak berhak menolak dan dilarang mengikutinya. Taat kepada orang tua memang wajib, namun bukan mutlak karena jika kemunkaran yang diajarkan maka anak tidak boleh untuk mengikutinya. Taat yang mutlak adalah kepada Allah SWT.

Nasehat ketigayaitu menanamkan nasehat bahwasanya Allah Maha Melihat.

Luqman berkata pada anak-anaknya dengan sebuah perumpaan “jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada di dalam batu atau di langit atau di bumi, nisacaya Allah akan memberinya balasan. Sungguh Allah Maha Halus, Maha Teliti”. Melalui perumpaan ini, maka dalam diri anak akan tertanam sebuah keyakinan bahwa Allah menyasikan segala perbuatan kita baik maupun buruk akan senantiasa dicatat oleh Allah SWT dan akan mendapatkan balasan. Hal ini akan menuntun anak untuk lebih berhati-hati dalam berbuat, dan mempertimbangkan apakah pantas untuk dilakukan atau tidak. Dan apa dampaknya jika dilakukan, bahaya atau tidak.

Baca Juga  Aksin Wijaya dan Konsep Baru Mengenai Wahyu
Nasehat keempat, mengajak tertib untuk beribadah (Q.S. Luqman ayat 17).

Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan munkar. Maksudnya yaitu bahwasanya keshalehan seseorang tidak hanya berdampak baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga kepada orang-orang sekitar kita. Semua itu diwujudkan dengan saling beramar ma’ruf nahi munkar. Hal itu tidak serta mudah, tentunya banyak tantangan yang ditemui di tengah jalan, dan harus dihadapi dengan sabar.

Nasehat kelima, untuk tidak berlaku sombong (Q.S. Luqman ayat 18-19).

Sombong dalah bangga terhadap diri sendiri. Sikap sombong bukanlah ditujukan kepada manusia, karena yang paling berhak sombong adalah Allah SWT karena Allah yang Maha Memiliki bumi dan seisinya. Manusia tidak berhak sombong, karena manusia tidaklah kekal di dunia ini. Oleh karena itu sifat sombong jangan dipelihara karena menjadikannya angkuh lupa dengan Tuhannya. Karena pada hakekatnya manusia adalah milik Tuhannya dan nanti akan kembali padaNya. Di mana dalam ayat 19 disebutkan ciri-ciri orang yang sombong dilihat dari cara berjalan dan berbicaranya yang angkuh.

Karakter

Karakter adalah penentu persaingat ketat di era globalisasi ini. Pada era di mana perubahan zaman yang semakin melaju cepat, maka penting bagi setiap anak untuk memiliki kekuatan pada dirinya agar tidak terhempas dari arus globaliasi. Harus mempunyai filter dalam menerima setiap hal yang masuk, mana yang pantas diterima dan mana yang tdak.

Tidaklah cukup ketika anak hanya menonjol di aspek kognitif saja, misal; pandai matematika, menjadi dokter, ataupun menjadi atlet, karena sepandai apapun anak jika ia mempunyai perilaku yang amoral maka sangat mudah hanyut ke dalam pergaulan negatif yang dampaknya akan merusak bangsa ini. Tentunya kita tidak ingin anak kita berani kepada orang tuanya, kasar dalam berkata maupun bertindak. Anak yang diharapkan menjadi pemimpin bangsa dan agama di masa depan justru menjadi boomerang bagi kedua orang tuanya karena salah dalam mendidik.

Baca Juga  Huzaemah T. Yanggo: Ulama Perempuan Asal Sulawesi Tengah

Demikian wasiat Luqman yang merupakan pesan dari Allah SWT melalui kisahnya Al-Qur’an. Mari kita mencatat pelajaran didalamnya agar kita senantiasa mendapat petunjuk dalam mengarungi kehidupan ini ke arah yang lebih baik. Terutama dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif saja tetapi juga berkarakter, wasiat Luqman Al-Hakim bisa dijadikan pedomannya.

Selengkapnya dapat dibaca di sini

Penyunting: Bukhari

Lahir di Kulon Progo pada 27 November 1998. Motto hidupnya adalah inna ma’al usri yusro wa inna ma’al ‘usri yusro.