Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tarbawi: Kewajiban Mengelola Pembelajaran bagi Guru

Pembelajaran
Gambar: rijal09.com

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh guru di era modern adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, pengembangan peserta didik, dan evaluasi hasil belajar peserta didik untuk mengaktualisasi potensi yang mereka miliki. Ringkasnya, kompetensi pedagogik ialah penguasan atas kendali pembelajaran, dalam hal ini adalah pengelolaan pembelajaran.

Di dalam Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur, serta harus tertulis (baca: tertib administrasi) sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 282. Segala sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, apalagi di dalam mengelola pembelajaran. Salah dalam pengelolaannya, maka berakibat fatal secara keseluruhan. Bahkan, Allah swt sendiri mencontohkan bagaimana ia sebagai Sang Pencipta, mengatur dan merencanakan segala sesuatu dengan sangat rapi dan sistemik sebagaimana Ia kumandangkan dalam firman-Nya,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ

Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang. (Q.S. Ibrahim [14]: 33)

Pengelolaan Pembelajaran dalam Islam

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Swt. menundukkan matahari dan bulan dengan hukum-hukum-Nya di alam sehingga bumi terus mengitari matahari (yang tampak seolah matahari yang mengitari bumi) dan bulan terus mengitari bumi, serta bumi terus berotasi sehingga menampakkan fenomena malam dan siang.

Kata da’ibain, menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, mengandung makna berlanjutnya satu aktivitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Seseorang yang tekun bekerja dalam satu kegiatan tertentu dan secara rutin dilakukannya dilukiskan dengan kata da’ibain itu. Peredaran matahari dan bulan yang berjalan secara rutin dilukiskan pula dengannya. Perurutan penyebutan anugerah-anugerah Allah di atas sungguh sangat serasi.

Baca Juga  Self Care Era Gen Z Menurut Ajaran Al-Qur'an

Dalam ayat yang lain, Allah sebutkan,

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. Fussilat [41]: 53)

Guru dan Pentingnya Perencanaan yang Matang

Dengan demikian, bagi seorang guru atau pendidik, sudah semestinya ia memiliki perencanaan yang matang sebelum, ketika dan pasca melakukan pembelajaran. Tujuannya, agar potensi peserta didik dapat berkembang dengan baik sesuai fitrahnya. Sebab di dalam Islam, segala sesuatu itu harus direncanakan dengan baik, apalagi mengajar merupakan kebaikan yang tiada ternilai harganya. Mengutip pernyataan Musthafa Shabri Afandi (w. 1954 M), ulama Turki, yang terinspirasi dari khutbah Sayyidina Ali r.a. ia mengatakan,

اَلْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِلَا نِظَامٍ

“Kebenaran yang tidak terorganisir (direncanakan) akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir (direncanakan)”

Termasuk bagian dari pengelolaan pembelajaran adalah tidak diperkenankan bagi seorang guru mengajarkan materi-materi yang masih belum bisa diterima oleh muridnya. Sebab, itu akan sangat menyusahkan dan dapat menumpulkan otak. Selain itu, seorang guru hendaknya peduli terhadap keadaan murid-muridnya sebagaimana kepeduliannya terhadap dirinya dan anak-anak kandunganya sendiri. Hal itu bisa ia lakukan, misalnya, dengan membantu dan mempersiapkan hal-hal yang mereka butuhkan. Hendaknya, ia juga menyayangi mereka sebagaimana sayangnya terhadap anak-anak kandungnya. Seorang guru juga harus ramah ketika menyampaikan materi pelajaran, serta menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah agar dapat dipahami dengan baik oleh murid-muridnya.

Baca Juga  Zainab binti Muhammad

Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدَكُمُ الْعَمَلَ أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara Itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (HR Thabrani)

Penutup

Sebagai penutup, Imam An-Nawawi dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim wa Adabul Mufti wal Mustafti berpesan kepada guru bahwa seorang guru hendaknya secara bertahap mendidik muridnya, dapat mengelola kelas dengan baik, memiliki perencanaan yang matang sebelum mengajar dan disesuaikan berdasarkan kemampuan muridnya. Hal ini berfungsi sekaligus sebagai latihan untuk dirinya sendiri agar tetap bisa beradab, agar ia mampu memilih mana hal yang bisa disampaikan (diajarkan) dan mana yang harus disimpan (tidak atau belum waktunya diajarkan). Wallahu A’lam.

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penikmat kajian keislaman, pendidikan Islam, pemikiran dan filsafat Islam, sosiologi dan studi al-Quran