Pendidikan dan pengajaran adalah terma yang tidak asing lagi di dunia pendidikan. Keduanya sering dipahami secara reduktif tanpa ada perbedaan. Mereduksi makna pendidikan dan pengajaran bukanlah tanpa dasar. Hal ini dapat ditelusuri dalam teks suci al-Qur’an maupun hadis yang tidak membedakan di antara keduanya. Mengajar yang dalam Bahasa Arab musytaq dari عَملَ َّيُعَمل memang sering diterjemahkan dan dipahami dengan proses mendidik dengan segala derivasinya atau setidaknya sering dipahami dengan interpretasi mengenai proses pendidikan.
Hal ini dapat dilihat dari penjelasan tentang QS al-Baqarah ayat 31, yang dijadikan dalil sejarah manusia yang pertama kali bersinggungan dengan pendidikan adalah Nabi Adam AS yang didik langsung oleh Allah Swt mengenai nama-nama benda. Terkadang al-Qur’an menggunakan lafal اوتواالعلم ,اولو األباب juga sering diinterpretasikan dengan hal yang berkaitan tentang pendidikan (orang yang diberi ilmu).
Menelaah Qs.Al-Baqarah Ayat 31-32 Dengan Pendekatan Filosofis
وَعَلَّمَءَادَمَ ٱلْأَسْمَاءَكُلَّهَاثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَٰٓئِكَةِفَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِهَٰٓؤُلَآءِإِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ قَالُوا۟سُبْحٰنَكَ لَاعِلْمَلَنَآإِلَّامَاعَلَّمْتَنَآۖإِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudianmengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!, Mereka menjawab, ”Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Saya mencermati poin penting yakni pada penggalan ayat وعلم آدم الأسمآء كلها yang menegaskan terkait “pengajaran” Allah kepada Nabi Adam mengenai nama-nama (benda-benda). Di sini, hakikat “pengajaran” ialah sebuah “anugerah” dari Allah yang diberikan kepada Adam sehingga mengetahui nama-nama (benda-benda). Dimana Adam ini adalah makhluk “manusia” pertama yang diciptakan Allah dan sebagai khalifah pertama di muka bumi bagi manusia-manusia selanjutnya.
Terkait pertanyaan mengenai Bagaimana Cara Allah mengajari Adam Tentang Nama-Nama (Benda-Benda)bukanlah pertanyaan yang semestinya dijawab dengan konkret dan absolut. Dari kacamata pendekatan filsafat, “pengajaran” disini adalah diberikannya anugerah oleh Tuhan untuk Adam sebagai khalifah pertama di mukabumi. Agar mengetahui apa-apa atau objek-objek untuk kelangsungan hidup selanjutnya. Pendapat seperti itu berdasar dengan analogi dari sudut pandang filsafat yakni, pada hakikatnya “Tuhan” disetiap agama. Bukan hanya agama Islam namun juga agama-agama yang lain itu bersifat “ghaib”. Rezeki, berkah, ridha dan istilah-istilah agama yang lain yang sumbernya dari Tuhan tidak bisa dirasakan secara indrawi, artinya tidak terlihat nyata.
***
Begitu pula dengan pemaknaan “pengajaran Allah kepada Adam”. Dilanjutkan dengan pemahaman kontekstualis, di ayat 31 “Dia” yang berarti Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk melakukan hal yang sama dengan Adam, yakni menyebutkan nama-nama (benda-benda). Lalu pada penggalan ayat selanjutnya yakniلاعلم لنا, menunjukkan bahwa hanya Adam saja yang mampu meneyebutkan nama-nama sedang malaikat tidak bisa. Ini terkait kuat dengan makna “pengajaran” adalah sebagai anugerah. Allah hanya memberikan anugerah kepada makhluknya yang bernama “manusia” yakni Adam untuk sebagai khalifah pertama di mukabumi.
Secara logika, dalam ajaran umat Islam penciptaan malaikat dari cahaya sedang manusia dari tanah tentunya sangat membingungkan. Seharusnya malaikat yang memiliki derajat lebih tinggi karena penciptaan dari cahaya yang diberi amugerah oleh Allah. Bukan manusia yang hanya dari tanah.Ini sudah merupakan ranah kehendak Tuhan. Sebab Tuhanlah yang berkuasa dan memaksa semua untuk tunduk dan sujud pada perintahNya.
Nilai-Nilai Pendidikan Pada Kisah Nabi Adam as.
Dalam konteks pendidikan Islam, sumber nilai yang paling sahih adalah Al-Qur’an dan Sunnah kemudian dikembangkan menjadi ijtihad para ulama. Nilai-nilai yang bersumber dari adat istiadat atau tradisi dan idiologi sangat rentan dan situasional. Sedangkan nilai-nilai yang bersumber kepada al-Qur’an adalah kuat, karena ajarannya yang bersifat mutlak dan universal. Dalam konteks ini, nilai yang dimaksud adalah nilai yang berkaitan dengan proses pendidikan pada kisah Nabi Adam as.
Uraian ini akan mencoba menggali lebih dalam mengenai nilai yang dimaksud. Nilai-nilai tersebut adalah nilai sikap dan perilaku, nilai yang berkaitan dengan tujuan pendidikan, nilai yang berkaitan dengan materi pendidikan dan nilai-nilai yang berkaitan dengan metode pembelajaran. Sementara itu definisi pendidikan sangat beragam, tergantung kepada background masing-masing para ahli pendidikan yang memberikan pandangannya.
***
Di dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Secara sederhana kisah adalah cerita, berita atau keadaan.
Sedangkan menurut istilah yang dikenal dalam ulumul quran, kisah merupakan kisahkisah atau cerita-cerita dalam Alquran tentang para Nabi dan Rasul, serta peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Manusia dituntut untuk merenungi pembicaraan Alquran tentang kisah-kisah orang-orang dahulu sebagai pengantar interaksi terhadap kisah tersebut. Nilai-nilai yang bisa di ambil dari kisa nabi adam yaitu: Rendah hati, menjauhi sifat angkuh dan dengki, pemaaf.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply