Dalam hari ini umat Muslim ketinggalan jauh oleh peradaban barat. Bukanya Muslim yang terlalu konservatif, tetapi kurangnya kesadaran transformatif secara kolektif akan pentingnya kemajuan Islam. Kemajuan dan kebangkitan tersebut tidak lepas dengan sistem pendidikan itu sendiri, secara umum masyarakat Muslim masih banyak terdikotomi dengan keilmuan, bahkan membagi dua kategori Ilmu yakni ilmu dunia (sains) dan ilmu akhirat
Sebenarnya pendikotomian tersebut untuk memudahkan kita mengkaji secara disipliner tapi bukan menjadikan prasangka bahwa keilmuan agama lebih mulia, sebenarnya mulianya suatu ilmu dilandasi dari subjek pemilik ilmu tersebut. Dalam hakekatnya keduanya itu tersublimasi dalam firman Tuhan yakni Allah Swt. Jadi kedua ilmu tersebut sangat mulia. Kemudian salah satu problem pendidikan Islam adalah yang mengarah kepada alienasi pengembangan kurikulum klasik.
Maka dari itu tujuan tulisan ini untuk menggugah semangat kita dalam mengembangkan kebangkitan pendidikan Islam transformatif dan trogresif melalui tafsir double movement Fazlur Rahman. Berharap kita semakin semangat untuk menyuarakan pergerakan ini kepada Islam rahmatan lil ‘alamin dan berkemajuan.
Biografi Fazlur Rahman
Ia dilahirkan pada hari Minggu, 21 September 1919 M, di suatu desa yang berada di barat laut Pakistan. Desa tersebut bernama Hazara. Tempat dimana ia tumbuh dan memperoleh pelajaran khusus Agama dari Ayahnya yang bernama Maulana Syihab Al Din. Dan nama keluarga marganya adalah malak. Dengan dibesarkan dari keluarga muslim yang taat, seperti menjalankan kewajiban yang ketat, maka ketika ia menginjak umur 10 tahun, mudah sekali menghafal Al Qur’an diluar kepalanya. Orang yang berjasa dalam mendidik beliau adalah ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya seorang ‘Alim lulusan sarjana dari Deoband, sebuah madrasah tradisional yang terkenal di indo-pakistan.
Ayahnya yang seorang ulama kontemporer yang cenderung terlibat dalam pemikiran modern. Banyak ditentang oleh ulama tradisionalis dari asalnya. Dan ibunya yang selalu menanamkan kasih sayang dan mengajarkan moral. Maka tidak perlu curiga bahwa karakter Fazlur Rahman sudah terbentuk sejak masa kecil.
Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Deoband, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah modern di Lahore pada tahun 1993. Lalu menempuh pendidikan tingginya di Departemen ketimuran, jurusan Bahasa Arab, Punjab University dan selesai gelar B.A (Bachelor Art) nya pada tahun 1940. Gelar masternya juga ia peroleh ditempat yang sama pada tahun 1942. Setelah empat tahun kemudian ia meneruskan studinya ke Universitas Oxford, menyelesaikan studi Ph.D pada tahun 1950 dengan disertasinya tentang Ibnu Sina, judul disertasinya “Avicenna’s Psychology” karya suntingan dari kitab An-Nafs karya Ibnu Sina.
Meski ia telah menyelesaikan studinya, ia tidak semerta-merta langsung kembali ke tempatnya. Namun ia mengajar menjadi dosen Bahasa Persia dan Filsafat Islam, di Durham University di Inggris, pada tahun 1950-1958. Di Durham pula ia menghasilkan karyanya yang berjudul Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy, Namun karya diterbitkan setelah ia pindah ke McGill University di Kanada sebagai Associate Professor dalam bidang Islamic Studies. [3]
Double Movement Sebagai Modal Analitik dan Refleksi.
Tujuan utama dalam sebuah pendidikan adalah menciptakan Insan yang merdeka. Kemerdekaan itu tidak bisa langsung di dapat, perlunya kita untuk memahami seluk beluk dari diri kita sebagai objek terdidik, melakukan pencarian Ilmu dengan bebas. Maksudnya tanpa ada beban dari hal apapun.
Prinsip pendidikan double movement dalam teori Fazlu Rahman adalah dari konteks menuju teks. Rekontruksi (konteks) Kebangkitan perkembangan pendidikan Islam sekarang yang beragam variasi masalah sosial. Seperti contoh banyak kasus tentang degradasi moral umat islam, banyaknya kasus pelecehan seksual di lembaga keagamaan Islam. Seharusnya upaya kita untuk menganalisis dan mengembalikan studi kasus ini.
Bagaimana kontrol ini dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran kritis mengambil jalan penyelesaian dari teks berupa al-Qur’an, hadist, ijma’ ulama, kitab-kitab Ulama. Untuk menangani permasalahan sosial yang terjadi. Selain itu juga nilai nilai dalam Islam patut kita syiarkan kembali.
Kemudian dari Teks menuju Konteks, ada yang perlu digaris bawahi. Sejarah perjuangan syiar islam dan visi misi Islam yang kolektif, seharusnya tugas kita juga sebagai bagian dari pendidikan, untuk membuat gagasan baru. Dengan melalui refleksi pemikiran para tokoh muslim yang dedikasinya selain ilmu agama. Seperti Al Kindi ahli Filsafat, Al Farabi Ahli kedokteran, Al Fargani Ahli Astronomi.
Seharusnya juga pemikiran tersebut melahirkan sebuah kebangkitan gerakan baru dalam pendidikan Islam. Untuk lebih menyublim karakter pendidik dalam bidang keilmuan, maksudnya selain ahli satu bidang ilmu, juga harus ahli dari segala macam ilmu.
Jadi dalam dimensi double movement pendidikan selain mendidik spiritual dari konteks menuju teks. Juga mendidik Intelektual untuk bermuhasabah, apa yang ingin diperbarui dalam pemikiran Islam yang aktualisasinya untuk Pendidikan Islam. Sekian.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply