Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Laku-Laku Fatalisme dan Dekandensi Umat Islam

Fatalisme
Gambar: jigang.id

Sepanjang bentangan sejarah dunia, umat Islam pernah merengkuh puncak kejayaannya pada rentang waktu sekitar tahun 750 M hingga 1258 M. Gemilangnya kejayaan ini bahkan mampu menjadi jembatan emas yang mendistribusikan berbagai pengetahuan menuju tanah Eropa. Hal ini kemudian diafirmasi oleh Will Durant dalam History of Civilization:

“Sarjana-sarjana muslim Arab telah memelihara dan memperbaiki Matematika Yunani, Ilmu Pengetahuan Alam, Kimia, Astronomi, dan Kedokteran Yunani dan mengalihkan warisan Yunani yang telah diperkaya untuk Eropa. Para fisikiawan Arab telah mempelajari dan mengubah karya-karya Aristoteles untuk Eropa. Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd menerangi filosof skolastik di Eropa.”

Namun kejadian itu sudah terjadi lama sekali, sudah sangat terlalu ketinggalan zaman untuk diagung-agungkan, dan memang sudah semestinya bagi kita untuk berhenti mengagung-agungkannya. Sebab ada hal yang butuh untuk kita beri perhatian secara seksama. Yaitu kondisi umat Islam di saat sekarang, terkhusus di Indonesia, yang konon katanya menjadi salah satu negera dengan umat Islam terbanyak di dunia. 

Sebelumnya, penulis akan memberi disclaimer terlebih dahulu. Bahwasanya di sini penulis tidak memiliki intensi untuk memberi sebuah jalan keluar, jawaban, atau hal-hal semacam itu. Untuk hal-hal semacam itu, penulis serahkan sepenuh-penuhnya kepada pembaca yang arif lagi bijaksana. Pada tulisan ini penulis hanya ingin—setidaknya—menepuk kesadaran kita, bahwa telah sejauh dan sedekat mana laku-laku yang fatalistik ini menggerogoti hidup kita sebagai umat Islam.

Fatalisme?

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, tatkala pandemi Covid-19 yang begitu tiba-tiba datang mengawali penyebarannya di negara ini, dan orang-orang masih banyak belum mengetahui mesti bagaimana untuk menghadapi penyebarannya. Sikap-sikap fatalistik sialnya masih saja tumbuh menjamur ke permukaan; sikap-sikap yang membiarkan diri—dengan segala potensialitasnya—mengombang-ambing dalam anggapan bahwa menyerahkan diri dalam “tangan-tangan gaib” saja sudahlah cukup.

Baca Juga  Jejak Lailatul Qadar Pasca Ramadhan

Padahal manusia memiliki seperangkat potensi—yang katakanlah telah Tuhan karuniakan pada kita—yang dapat difungsikan untuk meraih solusi yang lebih optimal lagi solutif, ketimbang membuat diri hanya terbiar dalam ketidakberdayaan semu.

Sebenarnya apa itu fatalisme? Mengapa kita perlu untuk menguburnya sedalam mungkin?

Dalam Encyclopedia Britannica, fatalisme disebut sebagai: “the attitude of mind which accepts whatever happens as having been bound or decreed to happen/sikap pikiran yang menerima apapun yang terjadi sebagai sesuatu yang telah terikat atau ditentukan untuk terjadi”. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menampilkan fatalisme sebagai: ajaran atau paham bahwa manusia dikuasai oleh nasib.

Terdapat pendefinisian-pendefinisian lain mengenai fatalisme. Namun meski demikian hal itu tidaklah merupakan sebuah persoalan. Karena pendefinisian-pendefinisian tersebut memiliki kata kunci dasar yang sama dan tidak saling menegasikan.  

Tetapi, di sini penulis akan mengambil “the attitude of mind/sikap pikiran” sebagai kata kunci untuk dielaborasi lebih lanjut dalam tulisan ini. Karena melalui sikap pikiran inilah manusia dapat memosisikan dirinya dalam merespon realitas. Bahkan melampaui itu, kemunduran atau kemajuan sebuah masyarakat, atau hancur-leburnya atau gemilangnya sebuah sistem kepercayaan, kedua hal itu bergantung pada salah satunya; bagaimana sikap pikiran manusianya.    

Menimbang Teologi Rasional Harun Nasution

Bukanlah lagi anjuran yang asing bagi kita untuk lebih sering mengarahkan pikiran kepada hal-hal positif. Begitupun sebaliknya, menjauhkan pikiran dari segala hal-hal yang bersifat negatif. Anjuran ini barangkali kerap kita temui di berbagai platform media sosial. Terlebih karena sudah meningkatnya collective-awareness perihal kesehatan mental. Kita tinggalkan dulu ini, karena saat ini kita tidak akan menyasar ke sana.

Harun Nasution dalam bukunya Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah—yang juga merupakan disertasinya di McGil University, Canada—memberikan kita alternatif soal the attitude of mind yang baik untuk dikenakan. Yakni dengan apa yang ia sebut sebagai teologi rasional.

Baca Juga  Wajah Spiritualitas Masyarakat Modern

Sejak awal kehadiran teologi rasional yang ditawarkan oleh Harun Nasution, memanglah untuk mendobrak sikap pikiran masyarakat muslim di Indonesia kala itu yang masih didominasi oleh sikap fatalisme. Upaya itu dilakukan oleh Harun Nasution sekitar 30 tahun yang lalu. 

Harun mengatakan bahwa sikap berpikir yang fatalistik akan dapat menghambat Dinamika berpikir seseorang. Bahkan melampaui itu, aspek politik, ekonomi, sosial, dan juga kebudayaan akan turut meredup dibuatnya. Imbas dari hal-hal itu semua tentu saja dekadensi.

Sikap berpikir rasional yang ditawarkan Harun dapat setidaknya membuat kita tidak menjadi semacam orang-orang yang hidup segan-mati tak mau. Rasional yang dimaksud oleh Harun bukan berarti rasional yang berarti “masuk akal,” tetapi rasional yang berarti ilmiah.

Mendudukkan Pemahaman Terkait Takdir

Terkait takdir, Nurcholish Madjid berkata pemahaman takdir yang keliru atau tidak pada tempatnya akan menjatuhkan kita pada sikap mental yang sangat negatif, yakni fatalisme. Karena sikap pikiran dari fatalisme ini mengandung spirit menyerah-kalah terhadap fate (nasib). Nurcholish mengambil ayat-ayat Al-Quran perihal takdir. Yakni ayat-ayat yang difungsikan sebagai sistem hukum ketetapan Tuhan untuk alam raya, sederhananya apa yang disebut sebagai “hukum alam.”

Oleh karena ia adalah hukum alam maka tidak satu pun gejala alam yang terlepas dari Dia, termasuk amal perbuatan manusia. Karena itu perkataan “taqdir” dan “qadar” (sebagai tafsir atau derivasi akar kata yang sama) juga digunakan dalam pengertian: (1) “Dan Dia ciptakan segala sesuatu, maka dibuat hukum kepastiannya (takdir-nya) sepasti-pastinya,” (QS 25:2); (2) “Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu dengan hukum kepastian (qadar),” (QS 54:49).

Karena jelas termuat unsur kepastian padanya, maka mau tidak mau takdir tidak akan dapat dilawan oleh manusia. Oleh sebab itu manusia harus tunduk dan patuh serta menyerah dan pasrah kepada takdir tersebut. Karena mungkin sering kita dapati dalam hidup, kita berhadapan dengan beberapa hal memang di luar dari kuasa kita sebagai manusia.

Baca Juga  Beyond Beauty: Menerima Diri dengan Seutuh Hati

Lalu apakah berarti kita harus mengenakan attitude of mind/sikap pikiran yang fatalistik? Tentu saja tidak. Sebab hal yang dapat dilakukan oleh manusia adalah berikhtiar untuk membaca dan menganalisis tanda-tanda yang telah Tuhan taruh ke dalam “hukum alam” tadi. Dan salah satu sikap pikiran yang baik untuk membaca dan menganalisis tanda-tanda itu adalah dengan sikap pikiran yang rasional-ilmiah.

Penyunting: Bukhari