Ramadan merupakan bulan pilihan Allah sebagai satu-satunya bulan yang disebut dalam Al-Qur’an— untuk disediakan bagi hambaNya yang mau memenuhi panggilanNya, yaitu berpuasa dengan penuh keimanan dan harapan positif untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.
Puasa sendiri adalah ibadah yang istimewa dibandingkan dengan ibadah lain. Menurut Ibnu Arabi, ibadah yang biasa dilakukan dengan action (perbuatan melakukan). Sedangkan puasa adalah laku negasi, maksudnya menahan sesuatu dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Ibadah puasa ialah ibadah personal yang hanya melibatkan seorang dengan yang Ilahi. Bahkan, Allah mengabarkan disaat ibadah-ibadah lain yang dikerjakan seorang hamba sejatinya untuk dirinya sendiri. Sementara nilai ibadah puasa akan langsung dipersembahkan kepadaNya.
Sebagaimana dalam hadits qudsi dikatakan; setiap amal ibnu adam itu untuknya, kecuali ibadah puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan akulah yang akan membalasnya.”(HR. Bukhari No. 1771)
Puasa yang merupakan ibadah untuk Allah, yaitu seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhan-nya dengan meninggalkan apa saja yang dicintai jiwa dan nafsunya. Dari situ jelas terlihat ketulusan iman seorang hamba, kesempurnaan penghambaannya, kecintaannya kepada Allah dan harapnya kepada ganjaran dariNya.
Puasa Mengajarkan Shaimin untuk Mengendalikan Hawa Nafsunya
Di antara hikmah puasa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, ialah untuk membentuk pribadi seseorang menjadi manusia yang bertaqwa. Bukan untuk penyiksaan fisik dengan menahan lapar dan dahaga, juga bukan untuk pengebirian nafsu, melainkan pengendalian dan pengelolaan hawa nafsu.
Sebagaimana para mufassir sufi, sperti Syekh Ismail Haqqi dalam Tafsir Ruh al-Bayan; menerangkan bahwa pensyariatan puasa Ramadan adalah untuk mendidik jiwa kita agar menjadi lebih terkendali dalam mengelola hawa nafsu, menghindar dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan mengutamakan akhirat dari pada duniawinya.
Diterangkan juga dalam Tafsir al-Jailani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa puasa itu menjaga diri dari sikap berlebihan dalam urusan makan karena itu dapat mematikan kalbu, memadamkan api rindu kepada Allah, dan meredupkan cinta yang hakiki kepadaNya.
***
Dalam tasawuf, hakikat puasa yang dijalankan muslimin itu terdapat tingkatannya. Meskipun pada konsepsinya para sufi dalam menyebutkannya itu berbeda-beda namun maknanya sebenarnya serupa. Beberapa tingkatan puasa dalam tasawuf adalah sebagai berikut:
Tingkatan pertama adalah mereka yang menahan dirinya dari lapar dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Tingkatan ini oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani disebut puasa syariat, sementara Imam al-Ghazali dan Imam al-Qusyairi menyebutkan puasa lahiriyah atau awam.
Yang kedua, selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan segenap anggota badan, seperti pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, dan kaki dari semua dosa. Syekh al-Jailani dan SyekhIsmail Haqqi menyebutnya dengan puasa ruhani atau batin. Inilah puasa yang dikerjakan oleh orang-orang pada maqam khowas yang mana mereka masih juga melakukan perkara mubah dalam kehidupan.
Sedang pada tingkatan terakhir yaitu pasa khawasul khowas. Selain menjaga dari dua yang telah disebutkan diatas, mereka juha menjaga hati, dan ruhnya, serta segala sesuatunua untuk tidak melirik dari selain Allah, secara total. Puasa jenis kedua dan ketiga tersebut, menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani dilakukan oleh orang-orang yang berakal, mempunyai keyakinan yang telah mencapai kasyf atas segala hal, serta mencapai hakikatnya yang semampunya.
Di sinilah peran ibadah puasa. Dengan berpuasa, seorang hamba mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Sehingga semua tindakannya selalu dituntun oleh akal dan qalbu yang jernih, bukan dikendalikan oleh nafsu, sebab nafsu dapat menjerumuskan seseorang kepada kemaksiatan dan juga menghalang-halanginya dari jalan menuju Allah.
Hasil dari Puasa: Mentraformasi kepada Pelakunya
Sebagaimana puasa Ramadan yang merupakan bulan pendidikan mental spiritual. Menurut Imam al-Ghazali, melalui pendidikan Ramadan, Muslim dididik untuk memiliki kompetensi transformasi spiritual dari manusia yang berwatak sebagai ―budak hawa nafu (‘abdul hawa) menjadi hamba Allah (‘abdullah) yang menyucikan dirinyam Dengan puasa ramadhan akan tumbuh kesadaran pada seseorang untuk senantiasa beribadah dan berserah diri terhadap perintah dan hukum Allah.
Hal ini merupakan tujuan tertinggi dan tujuan puncak semua ibadah. Bahkan lebih dari itu, kesadaran dan penyerahan diri ini merupakan tujuan asasi diciptakannya manusia. Sebagaimana firman Allah, “Dan kami diperintahkan untuk selalu berserah diri kepada Tuhan pencipta semesta”. (QS. al Anfal: 71).
Ketika sudah pada predikat kehambaan ini, ia selalu merasa dekat dan diawasi oleh Allah. Sehingga perilaku dan perkataan yang keluar dari lisannya adalah rahmat, kepada orang lain ia berlaku sopan dan hormat, memiliki rasa peduli dan simpati ketika saudaranya tertimpa kemalangan, pada akhirnya kehadirannya di masyarakat selalu mendaimakan dan menenangkan.
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply