Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kemajuan Teknologi dalam Pembuatan Dinding Zulkarnain

dinding
gambar: inews.id

Al-Qur’an memuat sejarah yang memaparkan garis besar proses suatu teknologi. Salah satunya digambarkan dalam cerita Nabi Zulkarnain yang berusaha menyelamatkan penduduk dari gangguan Ya’juj dan Ma’juj. Hal itu dilakukan dengan membangun dinding kokoh di celah antara dua dinding tinggi.

Penjelasan Al-Qur’an tentang Dinding Kokoh Zulkarnain

Dalam pembuatan ini perlu adanya teknik tertentu. Pembuatan ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahf [18]: 96, yang berbunyi:

ءَاتُونِى زُبَرَ ٱلْحَدِيدِ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ ٱلصَّدَفَيْنِ قَالَ ٱنفُخُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارًا قَالَ ءَاتُونِىٓ أُفْرِغْ عَلَيْه قِطْرًا

“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) apabila besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia Zulkarnain berkata, “Tiuplah (api itu)!”. Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (QS. Al-Kahf [18]: 96)

Teknik Pengecoran dalam Surah Al-Kahf [18]: 96

Ayat tersebut menggambarkan teknik tertentu, tepatnya teknik pengecoran lengkap dengan bahan dasarnya. Teknik yang digambarkan ayat tersebut memuat dua unsur atau bahan; al-ẖadîd dan qithrun, dua keadaan; sâwâ baina al-shadafaini dan nârun, serta dua proses; anfakhû dan ufrigh.

Tujuan pengecoran dalam ayat tersebut, memperoleh paduan besi-tembaga yang lebih kuat dari pada logam besi murni dan kokoh sebagai benteng pembatas. Karena bersifat teknis operasional, proses ini tidak terkait dengan keyakinan tertentu termasuk islam.

Pengecoran logam merupakan teknik pembuatan produk melalui pencairan atau peleburan logam dalam tungku, lalu dituangkan dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk yang diinginkan.

Tahap berikutnya adalah mengembalikan logam cair menjadi padat. Setelah tercapai cetakan disingkirkan dan dan produk logam cor digunakan untuk proses dan keperluan lebih lanjut. Isyarat Al-Qur’an tersebut, ternyata banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di zaman modern sekarang, teknik pengecoran logam berkembang pesat dan menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.

Proses Pengecoran Logam

Surat al-Kahf (18): 96 juga memuat informasi tentang proses dan kondisi logam. Proses pertama adalah pengumpulan bongkahan dan potongan besi sampai sâwâ baina al-shadafaini. Al-shadafaini adalah bentuk isim dua dari al-shadafu yang berarti dua kulit kerang. Seekor kerang memang mempunyai dua kulit yang keras, dan ketika kedua kulit ini terbuka, tampak ada celah antara dua kulit tersebut.

Baina al-shadafaini berarti celah di antara dua tempat yang kokoh, sedangkan sâwâ baina al-shadafaini adalah setinggi celah dua tempat yang kokoh. Kulit keong juga dapat dipandang sebagai dinding kokoh yang membentuk dan berfungsi sebagai cetakan dasar.

Setelah tumpukan potongan besi sama dengan ukuran cetakan, dilakukan proses pemesanan di antaranya dengan cara mengembuskan api. Proses dilakukan sampai besi mencair merah menyala, selanjutnya dituangkan tembaga cair. Inti dari proses ini adalah pemanasan sampai keadaan cair, lalu penuangan ke dalam cetakan, dan proses perpaduan melalui penuangan salah satu logam ke logam lainnya.

Baca Juga  Shalat Jumat Bersama Anak

Proses yang dilakukan oleh Zulkarnain dalam Surah Al-Kahf tersebut, tidak lain adalah proses pengecoran (casting) logam. Pengecoran logam merupakan teknik pembuatan produk melalui pencairan atau peleburan logam dalam tungku, kemudian dituangkan dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk yang diinginkan. Tahap berikutnya adalah mengembalikan logam cair menjadi padat. Setelah tercapai, cetakan disingkirkan dan produk logam cor digunakan untuk proses dan keperluan lebih lanjut.

Bahan logam padat dicairkan sampai suhu titik cair. Logam yang paling banyak digunakan dalam pengecoran adalah besi. Pemanasan dengan tujuan peleburan atau pencairan logam merupakan aspek terpenting dalam proses pengecoran karena berpengaruh langsung pada kualitas produk cor. Pada proses peleburan, mula-mula muatan yang terdiri dari logam, unsur-unsur paduan, dan material lainnya dimasukkan ke tungku.

Perkembangan Teknik Pengolahan Logam pada Era Kejayaan Islam

Pada era kejayaan Islam, perkembangan teknik pengolahan besi dan baja sudah sangat berkembang pesat.  Dari potongan besi sama dengan ukuran cetakan, dilakukan proses pemanasan di antaranya dengan cara mengembuskan api. Proses dilakukan sampai besi mencair merah menyala, selanjutnya dituangkan tembaga cair, lalu penuangan ke dalam cetakan, dan proses perpaduan melalui penuangan salah satulogam ke logam lainnya.

Sejak abad ke-14, tungku oven raksasa telah digunakan untuk mengubah bijih besi. Besi tuang adalah besi yang mengandung jumlah kecil karbon yang tertinggal dari arang tungku pengecoran. Besi tuang dipakai untuk membuat berbagai peralatan seperti senjata dan benda-benda lain.

Sejak tahun 1850-an, makin banyak besi tuang diubah menjadi baja. Baja lebih lentur dan mengandung lebih sedikit karbon daripada besi tuang. Baja dibuat dengan menghembus udara atau oksigen pada besi tuang panas.

Hikmah Surah Al-Kahf [18]: 96

Sungguh menakjubkan bangunan tersebut, suatu bangunan yang sangat kuat, terletak di antara dua gunung yang tinggi, terbuat dari potongan-potongan besi, lalu dituangkan dengan cairan tembaga yang mendidih. Tidak akan hancur bangunan tersebut hingga janji Allah telah tiba.

Yang tidak kalah mengusik manusia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana rahasia-rahasia penciptaan alam semesta banyak terungkap, tetapi belum ada ekspolasi ilmiah yang mampu mengungkapkan bangunan yang telah dibuat oleh hamba Allah yakni Zulkarnain. Ini menunjukkan bahwasanya Allah berkuasa sesuatu termasuk diri manusia itu sendiri.

Harapannya tentu dengan pengetahuan dan kecerdasan yang miliki manusia, menjadi sebuah sarana untuk berbakti kepada sang pencipta yakni Allah. Betapapun tinggi pengetahuan dan kecerdasan manusia, tetapi nyatanya manusia adalah makhluk yang lemah, meskipun dia makhluk yang paling unggul dan sempurna di antara makhluk-makhluk yang telah diciptakan.

Tidak ada keunggulan dan kemulian terkecuali dengan jalan berbakti kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan segala potensi yang dimiliki. Tidak ada yang dapat menyelamatkan dari kehinaan kecuali keimanan dan amal saleh yang telah dikerjakan. Allah berjanji akan memberikan kemuliaan bagi hambanya yang beriman dan mengerjakan amal saleh, juga balasan yang lebih baik dari apa yang sudah dikerjakan.

Baca Juga  Belajar Keindahan Puasa Lewat Kisah Keluarga Nabi dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memuat sejarah yang memaparkan garis besar proses suatu teknologi. Salah satunya digambarkan dalam cerita Nabi Zulkarnain yang berusaha menyelamatkan penduduk dari gangguan Ya’juj dan Ma’juj, yang dilakukan dengan membangun dinding kokoh di celah antara dua dinding tinggi.

Penjelasan Al-Qur’an tentang Dinding Kokoh Zulkarnain

Dalam pembuatan ini perlu adanya teknik tertentu, pembuatan ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahf [18]: 96, yang berbunyi:

ءَاتُونِى زُبَرَ ٱلْحَدِيدِ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ ٱلصَّدَفَيْنِ قَالَ ٱنفُخُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارًا قَالَ ءَاتُونِىٓ أُفْرِغْ عَلَيْه قِطْرًا

“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) apabila besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia Zulkarnain berkata, “Tiuplah (api itu)!”. Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (QS. Al-Kahf [18]: 96)

Teknik Pengecoran dalam Surah Al-Kahf [18]: 96

Ayat tersebut menggambarkan teknik tertentu, tepatnya teknik pengecoran lengkap dengan bahan dasarnya. Teknik yang digambarkan ayat tersebut memuat dua unsur atau bahan; al-ẖadîd dan qithrun, dua keadaan; sâwâ baina al-shadafaini dan nârun, serta dua proses; anfakhû dan ufrigh.

Tujuan pengecoran dalam ayat tersebut, memperoleh paduan besi-tembaga yang lebih kuat dari pada logam besi murni dan kokoh sebagai benteng pembatas. Karena bersifat teknis operasional, proses ini tidak terkait dengan keyakinan tertentu termasuk islam.

Pengecoran logam merupakan teknik pembuatan produk melalui pencairan atau peleburan logam dalam tungku, lalu dituangkan dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk yang diinginkan.

Tahap berikutnya adalah mengembalikan logam cair menjadi padat. Setelah tercapai cetakan disingkirkan dan dan produk logam cor digunakan untuk proses dan keperluan lebih lanjut. Isyarat Al-Qur’an tersebut, ternyata banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di zaman modern sekarang, teknik pengecoran logam berkembang pesat dan menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.

Proses Pengecoran Logam

Surat al-Kahf (18): 96 juga memuat informasi tentang proses dan kondisi logam. Proses pertama adalah pengumpulan bongkahan dan potongan besi sampai sâwâ baina al-shadafaini. Al-shadafaini adalah bentuk isim dua dari al-shadafu yang berarti dua kulit kerang. Seekor kerang memang mempunyai dua kulit yang keras, dan ketika kedua kulit ini terbuka, tampak ada celah antara dua kulit tersebut.

Baina al-shadafaini berarti celah di antara dua tempat yang kokoh, sedangkan sâwâ baina al-shadafaini adalah setinggi celah dua tempat yang kokoh. Kulit keong juga dapat dipandang sebagai dinding kokoh yang membentuk dan berfungsi sebagai cetakan dasar.

Setelah tumpukan potongan besi sama dengan ukuran cetakan, dilakukan proses pemesanan di antaranya dengan cara mengembuskan api. Proses dilakukan sampai besi mencair merah menyala, selanjutnya dituangkan tembaga cair. Inti dari proses ini adalah pemanasan sampai keadaan cair, lalu penuangan ke dalam cetakan, dan proses perpaduan melalui penuangan salah satu logam ke logam lainnya.

Baca Juga  Hikmah Pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy

Proses yang dilakukan oleh Zulkarnain dalam Surah Al-Kahf tersebut, tidak lain adalah proses pengecoran (casting) logam. Pengecoran logam merupakan teknik pembuatan produk melalui pencairan atau peleburan logam dalam tungku, kemudian dituangkan dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk yang diinginkan. Tahap berikutnya adalah mengembalikan logam cair menjadi padat. Setelah tercapai, cetakan disingkirkan dan produk logam cor digunakan untuk proses dan keperluan lebih lanjut.

Bahan logam padat dicairkan sampai suhu titik cair. Logam yang paling banyak digunakan dalam pengecoran adalah besi. Pemanasan dengan tujuan peleburan atau pencairan logam merupakan aspek terpenting dalam proses pengecoran karena berpengaruh langsung pada kualitas produk cor. Pada proses peleburan, mula-mula muatan yang terdiri dari logam, unsur-unsur paduan, dan material lainnya dimasukkan ke tungku.

Perkembangan Teknik Pengolahan Logam pada Era Kejayaan Islam

Pada era kejayaan Islam, perkembangan teknik pengolahan besi dan baja sudah sangat berkembang pesat.  Dari potongan besi sama dengan ukuran cetakan, dilakukan proses pemanasan di antaranya dengan cara mengembuskan api. Proses dilakukan sampai besi mencair merah menyala, selanjutnya dituangkan tembaga cair, lalu penuangan ke dalam cetakan, dan proses perpaduan melalui penuangan salah satulogam ke logam lainnya.

Sejak abad ke-14, tungku oven raksasa telah digunakan untuk mengubah bijih besi. Besi tuang atau gubal adalah besi yang mengandung jumlah kecil karbon yang tertinggal dari arang tungku pengecoran. Besi tuang dipakai untuk membuat berbagai peralatan seperti senjata dan benda-benda lain.

Sejak tahun 1850-an, makin banyak besi tuang diubah menjadi baja. Baja lebih lentur dan mengandung lebih sedikit karbon daripada besi tuang. Baja dibuat dengan menghembus udara atau oksigen pada besi tuang panas.

Hikmah Surah Al-Kahf [18]: 96

Sungguh menakjubkan bangunan dinding tersebut, suatu bangunan yang sangat kuat, terletak di antara dua gunung yang tinggi, terbuat dari potongan-potongan besi, lalu dituangkan dengan cairan tembaga yang mendidih. Tidak akan hancur bangunan tersebut hingga janji Allah telah tiba.

Yang tidak kalah mengusik manusia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana rahasia-rahasia penciptaan alam semesta banyak terungkap, tetapi belum ada ekspolasi ilmiah yang mampu mengungkapkan bangunan yang telah dibuat oleh hamba Allah yakni Zulkarnain. Ini menunjukkan bahwasanya Allah berkuasa sesuatu termasuk diri manusia itu sendiri.

Harapannya tentu dengan pengetahuan dan kecerdasan yang miliki manusia, menjadi sebuah sarana untuk berbakti kepada sang pencipta yakni Allah. Betapapun tinggi pengetahuan dan kecerdasan manusia, tetapi nyatanya manusia adalah makhluk yang lemah, meskipun dia makhluk yang paling unggul dan sempurna di antara makhluk-makhluk yang telah diciptakan.

Tidak ada keunggulan dan kemulian terkecuali dengan jalan berbakti kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan segala potensi yang dimiliki. Tidak ada yang dapat menyelamatkan dari kehinaan kecuali keimanan dan amal saleh yang telah dikerjakan. Allah berjanji akan memberikan kemuliaan bagi hambanya yang beriman dan mengerjakan amal saleh, juga balasan yang lebih baik dari apa yang sudah dikerjakan.

Penyunting: Bukhari