Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pengaruh Al-Quran Terhadap Perkembangan Kesusasteraan Arab

kesusasteraan
Gambar: pcinusudan.com

Jika dilihat dari ruang lingkupnya, sastra dibagi tiga yakni teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra membahas segala hal berkaitan dengan penulis karya, karya sastra, pembaca dan realitas atau kenyataan. Sedangkan sejarah sastra membicarakan mengenai perkembangan kesusasteraan, dialektika aliran-aliran kesusasteraan dan tokoh-tokoh sastra yang menonjol pada zamannya.

Adapun kritik sastra membahas hal-hal yang berkaitan dengan penafsiran, apresiasi, penghayatan dan penilaian terhadap karya sastra.

Esai ini dikategorikan ke dalam sejarah sastra sebab membicarakan perkembangan kesusasteraan Arab pada masa Islam. Esai ini diharapkan menjawab pertanyaan bagaimana kondisi kesusasteraan Arab pada masa itu beserta pengaruh-pengaruh seperti apa yang membuat kesusasteraan Arab mengalami perkembangan.

Mengapa perkembangan? Sebab kesusasteraan Arab mendapatkan momentum puncaknya pada masa Islam. Tentu saja ada pengaruh-pengaruh khusus yang membuatnya berkembang. Sejarah sastra berfungsi mencari tahu bagaimana pengaruh-pengaruh tersebut dapat memberikan dampak signifikan yang membedakannya pada masa sebelum dan setelahnya.

Al-Adab Al-Arabi

Sebelum lebih jauh, kita perlu mendefinisikan apa itu sastra Arab. Sepertinya kata adab dipakai untuk mendefinisikan sastra dalam bahasa Arab. Kata adab pada masa Jahiliah bermakna “jamuan makan” atau “menghormati tamu”. Bisa kita lihat penggunaan kata adab dalam puisi-puisi masa Jahiliah mencangkup hal-hal yang tidak jauh dari penghormatan terhadap tamu.

Berkembangnya Islam membuat pemaknaan kata adab bergeser lebih luas. Bukan hanya soal penghormatan terhadap tamu atau menjamu tamu dengan makanan, adab dipakai untuk menggambarkan budi pekerti. Menjamu tamu tentu adalah budi pekerti yang baik. Pada intinya, kata adab sejak dahulu kala memiliki konotasi positif.

Baca Juga  Tafsir Ilmi: Fungsi Atmosfer Dalam QS. Ath Thariq Ayat 11

Lantas kapan kata adab menjadi padanan sastra dalam kebudayaan masyarakat Arab? Tidak perlu kita jauh untuk mencari. Salah satu alasan kuatnya dikarenakan bangsa Arab adalah sastra itu sendiri. Budaya bangsa Arab menyatu dengan kesusasteraan sehingga sulit mencari kata padanan kesusasteraan dalam bahasa Arab. Bangsa Arab tidak memerlukan batasan untuk membicarakan sastra sebab kebudayaannya memang terbentuk dari kesusasteraan.

Kata adab berkembang sedemikian rupa. Syauqi Dhaif dalam karyanya, Tarikh al-Adab al-Arabi, menjelaskan bahwa kata adab pada masa dinasti umayyah dipadankan dengan akademisi. Kata muaddibin atau muaddibun yang merupakan derivasi kata adab berposisi sebagai fail digunakan untuk menunjukkan orang yang ahli berbagai disiplin ilmu.

Maka dari itu, para khalifah pada masa umayyah mengajarkan anak-anak mereka adab, atau dengan kata lain mengajarkan berbagai disiplin ilmu seperti berpidato, menulis karya sastra, administrasi Negara, militer, keilmuan agama, dll.

Kesusasteraan Arab Pada masa Jahiliah

Sebelumnya, saya pernah menulis mengenai kesusasteraan Arab pada masa Jahiliah. Budaya masyarakat Arab sejak dahulu memang begitu lekat dengan kesusasteraan. Bahkan Philip K. Hitti dalam karyanya History of the Arabs, berani berpendapat bahwa tidak ada bangsa selain bangsa Arab yang begitu fanatik dengan bahasanya.

Pada masa Jahiliah pula, terdapat pasar ukaz, dzu al-Majinnah dan dzu al-Majaz yang difungsikan sebagai panggung kompetisi berpuisi. Alasannya pertama, pasar adalah tempat kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak orang dari berbagai suku. Kedua, fanatisme kesukuan bisa dipertontonkan lewat panggung berpuisi. Mengapa harus dipertontonkan? Sebab penilaian terhadap tinggi rendahnya kelas sosial suku dilihat dari keindahan karya sastra yang mereka bacakan.

Para penyair dinilai begitu tinggi oleh masyarakat pada umumnya. Keindahan untaian syair yang dilontarkan dapat mengetuk hati para pendengarnya. Makanya para dukun (kahin) yang dimaksud dalam terminologi Al-Qur’an adalah orang-orang yang memiliki kemampuan membuat mantra-mantra. Mantra bukanlah sekadar mantra. Mantra yang dimaksud mempunyai efek magis yang dimainkan lewat permainan bunyi bahasa yang sarat makna.  

Baca Juga  Ketika Syekh Yusuf Qardhawi Bicara Seni

Pengaruh Al-Qur’an dalam Perkembangan Kesusasteraan Arab

Allah Swt menurunkan Al-Qur’an yang mulia dengan bahasa Arab yang terang agar kita menggunakan potensi akal secara sempurna (QS. Az-Zukhruf 1-3).

Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa kalimat quraanan arabiyyan merujuk pada kesempurnaan. Artinya, wahyu yang datang dari Allah sang Maha Sempurna perlu disampaikan dalam medium yang sempurna pula, yaitu bahasa Arab.

Kesempurnaan bahasa Arab dibuktikan dengan kekayaan kosa kata yang dapat menyampaikan berbagai makna yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an kepada manusia.

Luar biasanya, kekayaan makna yang dimiliki kosa kata bahasa Arab dapat dipahami dengan mudah. Di sinilah letak kesempuraannya, sebab kekayaan serta kerumitan kosa kata bahasa Arab dapat menyeimbangi kemudahan dalam memahaminya.

Untuk memperkuat argument keagungan Al-Qur’an, penjelasan Prof Kuntowijoyo mengenai mengapa Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah masyarakat Arab kiranya perlu dikemukakan.

“…Al-Qur’an dimaksudkan sebagai model untuk semua sistem sosial, maka ia diujicobakan kepada sebuah masyarakat yang sangat cair seperti yang terdapat dalam masyarakat Makkah dan Madinah ketika itu. Karena terlektak pada lalu-lintas dagang yang ramai yang menghubungkan dua kekuatan adikuasa yang dominan ketika itu, yakni Persia di timur dan Romawi di barat, maka ciri utama penduduk Arab adalah mobilitasnya yang tinggi, suatu kondisi yang menyebabkan stratifikasi dan hirarki sosialnya selalu dalam keadaan berubah.” (Paradigma Islam hal. 332)

Masyarakat Arab dengan setting sosial yang begitu cair, bahasa sebagai medium komunikasi mempunyai andil penting. Masyarakat Arab dengan mobilitas yang begitu tinggi memerlukan medium bahasa yang mempunyai kekayaan kosa kata dan maknanya.

Keterikatan Al-Qur’an dengan bahasa Arab sangat erat, maka memahami Al-Qur’an tanpa memahami bahasa Arab sulitlah dirasa benar.

Baca Juga  Frugal Living dalam Al-Quran

Dengan turunnya Al-Qur’an, para penyair tunduk dihadapannya. Keindahan gaya bahasa serta kekayaan makna yang dimiliki Al-Qur’an terasa mustahil bagi penyair untuk menandinginya. Bahkan mereka mengklaim bahwa Al-Qur’an tidaklah berasal dari ucapan manusia.

Tema-Tema Syair Arab

Sebelumnya, tema-tema syair Arab didominasi oleh deskripsi mengenai tubuh perempuan secara vulgar, minuman keras, perang kesukuan, elegi kehidupan yang mematikan semangat, dan pengagungan terhadap berhala. Uniknya, Al-Qur’an sebenarnya tidak menghilangkan tradisi kesusasteraan, malah memperkuatnya dengan mengubah tema-tema maupun isi syair yang lebih estetik dan beradab.

Al-Qur’an mencela sikap para penyair yang tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan dalam syairnya. Bukan berarti tradisi bersyair itu diharamkan, sebab nilai-nilai estetik sangat dihargai oleh Al-Qur’an.

Kemudian, pengkajian mendalam terhadap Al-Qur’an memunculkan ilmu-ilmu mengenai sastra maupun linguistik bahasa Arab. Ilmu mengenai bahasa mulai disistematisasi sejak konsentrasi kajian terhadap Al-Qur’an mulai digaungkan. Apakah kemudian ilmu-ilmu tersebut tidak ada sebelum turunnya Al-Qur’an? Tidak. Tetapi pengetahuan mengenai bahasa yang disistematisasi dirasa perlu untuk mempermudah demi memperdalam kajian terhadap Al-Qur’an.  

Perkembangan kesusasteraan bukan hanya terjadi di ranah puisi, tetapi juga prosa. Risalah atau surat-menyurat dan khutbah atau retorika mengalami perkembangan pesat di masa Islam. Sebab keduanya mempunyai peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Penyunting: Bukhari

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sekarang aktif di Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Agama Islam sebagai Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan. Alumni PP Shohwatul Is’ad Padanglampe, Sulawesi Selatan dan Muhammadiyah Boarding School Muhiba Bantul, Yogyakarta.