Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Hayat dalam Al-Quran: Dari Kehidupan Dunia ke Potensi Berpikir

Al-Hayat
Gambar: antvklik.com

Al-Hayat atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kehidupan adalah sebuah misteri ,tidak ada yang tahu bagaimana setiap part dalam kehidupan akan terjadi dan berlangsung . Seorang filsuf Yunani yang bernama Descartes mendifinisikan bahwa manusia ada dan dinyatakan hidup di dunia bila ia melakukan aktivitas berpikir.

Selanjutnya, Karl Marx juga menyatakan bahwa manusia ada dan dinyatakan hidup jika manusia mampu berusaha untuk mengendalikan alam dalam rangka mempertahankan hidupnya. Sedangkan Islam menjelaskan manusia ada dan dianggap hidup jika ia telah melakukan aktivitas “jihad”. Seperti yang telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Q.S. Ali Imran [3] : 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

Artinya: Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki.

Sedangkan kata hayat حياة dalam Lisanul Arab telah dijelaskan sebagai lawan dari maut dengan nsal kata  َّيح-يحيا. . Sedangkan dalam Kamus Al-Munawwir akar حياة  katanya adalah يِيَح-حياة  yang berarti hidup. Al-Hayat ( الحياة ) biasa diterjemahkan sebagai “kehidupan”. Al-hayatu  ( الحياة ) adalah salah satu sifat Allah, yaitu Allah hidup. Dalam asmaul husna al-hayyu artinya Yang Maha Hidup.

Kata al-hayyu berasal dari kata hayiya-yahya-hayatun artinya hidup. Al-Hayyu umumnya diterjemahkan “Maha Hidup” dan “Maha Abadi”. Hidupnya Allah tentulah berbeda dengan makna hidup bagi manusia maupun makhluk-Nya yang lain. Allah adalah sang Maha hidup, kekal dengan mencukupi diri-Nya sendiri sejak semuanya belum ada hingga semuanya sudah tidak ada. Hal ini berbeda dengan makhluk, yang hidupnya selalu bergantung kepada-Nya dan dibatasi oleh kematian.

Baca Juga  Pentingnya Memahami Al-Qur'an Melalui Ilmu Nahwu

Bentuk Kosa Kata dan Derivasinya dalam Al-Quran

Kata al-hayat diulang sebanyak 184 kali dalam Al -Quran dengan berbagai bentuk. Derivasi dari lafadz al-hayat dalam al-Quran terdiri dari isim dan fiil seperti يَسْتَحْىِ, حَىَّ, مُحْى, ٱسْتِحْيَآء, حَيَوٰة, أَحْيَا dan sebagainya. Dari semua  lafadz tersebut memiliki arti masing-masing dalam pemaknaannya. Berikut adalah macam-macam lafaznya

  • 33 kali dalam bentuk حَىَّ
  • 51 kali dalam bentuk أَحْيَا
  • 9 kali dalam bentuk يَسْتَحْىِ
  • 1 kali dalam bentuk حَيَوَان
  • 76 kali dalam bentuk حَيَوٰة
  • 1 kali dalam bentuk حَيَّة
  • 2 kali dalam bentukمَّحْيَا
  • 6 kali dalam bentukتَحِيَّة
  • 2 kali dalam bentuk مُحْى
  • 1 kali dalam bentuk ٱسْتِحْيَآء

Makna Relasional Al-Hayat dalam Al-Quran

Secara umum al-hayat dalam  Al-Quran mengandung beberapa makna:

  • Makna al-hayat yang pertama, berlaku untuk manusia jika dihubungkan dengan konsep manusia menurut Ibn Sina. Menurutnya, dalam diri manusia memiliki tiga unsur nafs, yakni nafs al-nabatiyah (jiwa tumbuhan), nafs al-hayawan (jiwa hewani – mencakup nafsu, naluri atau insting), dan nafs al-natiqqiyah (jiwa rasio – demikian inilah yang membedakan manusia dengan hewan). Ada juga istilah, “jiwa tumbuhan”, dari sana bermakna bahwa manusia mampu tumbuh. Tumbuh dalam konteks tumbuh menjadi besar, tumbuh menjadi tinggi; dapat dikatakan, نباتٌ حيٌ  nabatun hayyun “tumbuhan hidup. Sebagaimana dalam Q.S. Al Hadid [57]: 17
  • ٱLalu makna al-hayat yang kedua adalah sesuatu yang memiliki indra. Dari pemaknaan inilah,dapat ditemukan hewan dalam bahasa Arab dinamakan hayawaanun (حيوان). Adapun manusia adalah hayawaanun natiq atau bermakna “hewan yang berakal.”

Allah berfirman dalam QS. Al-Fathir [35]: 22,

وَمَا يَسْتَوِى ٱلْأَحْيَآءُ وَلَا ٱلْأَمْوَٰتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُسْمِعُ مَن يَشَآءُ ۖ وَمَآ أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِى ٱلْقُبُورِ

Artinya, “Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.”

  • Makna hayat yang ketiga menunjuk pada potensi bekerja dan berpikir, sebagaimana Allah SWT berfirman :

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ

Artinya, “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan…” (QS. Al-An’am [6]: 122)

  • Makna al-hayat keempat yakni ungkapan untuk hilangnya duka cita atau kesedihan
  • Kemudian makna al-Hayat yang kelima adalah menunjukkan kehidupan yang abadi di akhirat sebagaimana kita mengetahuinya bahwa kehidupan akhirat dapat dicapai hanya dengan ketakwaan. Seperti kehidupan akhirat yang disampaikan dalam bentuk lafad Hayat pada ayat berikut :

يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى

Artinya, “Alangkah baiknya sekiranya diriku dahulu mengerjakan amal shalih untuk kehidupanku.” (QS. Al-Fajr [89]: 24).

Baca Juga  Review Buku: Fahmi Salim dan Penolakan yang Bernuansa Hermeneutis

Dari yang Maha Hidup Sampai Kekuatan Untuk Tumbuh

  • Makna al-hayat keenam yaitu yang Maha Hidup. Ini dimaksudkan pada sifat Allah. Apabila dikatakan هو حيٌّ (Dia Maha Hidup), maka maknanya adalah Allah tidak mengenal kematian, yang demikian ini hanya dimiliki oleh Allah semata. (QS. Ali Imran [3]: 2)

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ

Artinya, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Artinya: Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. (QS.an Nazi’at : 38)

  • Makna Hayat kedelapan yakni kekuatan tumbuh yang dimiliki tumbuhan.

اَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً ۗقُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْۚ هٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَّعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِيْۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَۙ الْحَقَّ فَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

 Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan  dari  langit,  lalu  menghidupkan  bumi  dengan  air  itu  sesudah  matinya. Sesungguhnya  pada  yang  demikian  itubenar-benar terdapat tanda-tanda  bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (QS. Al-Anbiya [21]: 24).

Penyunting: Bukhari