Al-Qur’an memiliki berbagai pembahasan di dalamnya yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Di antaranya tentang kehidupan dunia-akhirat, pengetahuan tentang ilmu sains dan ilmu sosial. Hingga tata cara beribadah, pahala dan dosa, serta janji dan peringatan yang Allah Swt berikan pada ummat-Nya. Dari berbagai isu tersebut, penulis hendak membahas terkait kajian semantik kata ithmun (dosa) serta variasi maknanya di dalam Al-Qur’an.
Sekilas tentang Semantik
Kata semantik berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti memakai atau to signify. Sementara secara istilah, semantik dipahami sebagai studi ilmu tentang makna suatu kata yang terdapat dalam sebuah bahasa. Singkatnya, menurut Aminuddin dalam Semantik Pengantar Studi tentang Makna, semantik merupakan salah satu bagian dari pembahasan linguistik.
Adapun kaitannya dengan Al-Qur’an, semantik merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk memahami kandungan di dalamnya. Penggunaan semantik pada Al-Qur’an biasanya ditujukan untuk membuktikan bahwa terdapat variasi makna dari lafadz-lafadz. Yang secara umum lafadz itu memiliki arti sama namun sebenarnya memiliki arti yang lebih spesifik.
Pada kali ini, penulis akan menggunakan teori semantik Izutsu untuk menganalisis makna kata ithmun dalam Al-Qur’an. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa Toshihiko Izutsu dalam Relasi Tuhan dan Manusia memahami semantik sebagai kajian analitis atas istilah kunci suatu bahasa. Sehingga akhirnya dapat mencapai konsep pandangan dunia masyarakat (weltanschauung). Tak hanya berfungsi sebagai alat berfikir dan berbicara, namun juga berfungsi sebagai alat penafsiran serta pengkonsepan dunia yang terdapat di sekelilingnya.
Pengertian dan Penyebutan Kata Ithmun dalam Al-Qur’an
Kata ithmun dalam kamus al-Munawwir memiliki arti perbuatan yang tidak halal. Sementara dalam Lisan al-Arab, ithmun didefinisikan sama dengan kata dhanb dan ma’shiyat yang bermakna kesalahan atau dosa.
Adapun terkait penyebutannya di dalam Al-Qur’an, mengutip Mu’jam Mufahrash, kata ithmun disebutkan sebanyak 40 kali dengan beragam derivasinya. Yakni ithmun, ithman, athimun, athiman, serta athimin (إثم-اثما-اثيم-اثيما-الاثمين) yang tersebar di berbagai surat dalam Al-Qur’an diantaranya Q.S. an-Nur:11, Q.S. an-Nisa: 48, dan Q.S. ali-Imran:178 yang memiliki makna berbeda sesuai dengan konteks ayatnya masing-masing.
Ragam Makna Ithmun dalam Al-Qur’an
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, derivasi kata ithmun akan menimbulkan beragam makna sesuai dengan konteks ayatnya. Diantara tiga makna dari kata ithmun tersebut:
1. Ithmun bermakna kufr
Salah satu contoh kata ithmun yang bermakna kufr terdapat dalam Q.S. Ali Imran: 178 dengan penyebutannya yakni ithman.
وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّمَا نُمْلِى لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِى لَهُمْ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
Merujuk pada Tafsir al-Mukhtasar, penafsiran ayat di atas adalah sebagai peringatan kepada orang-orang yang kafir ataupun mereka yang mendustakan agama-Nya yang mengira bahwa kemewahan serta kesenangan duniawi dan panjangnya umur mereka merupakan hal yang baik. Sebab, hal yang sebenarnya terjadi adalah Allah Swt sengaja menangguhkan waktu mereka (orang-orang kafir) agar mereka semakin banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah Swt hingga Allah Swt akan mengadzab mereka dengan adzab yang menghinakan.
Singkatnya, umur panjang dan kesenangan duniawi yang didapatkan oleh orang-orang kafir bukanlah nikmat yang berasal dari Allah Swt. Sebaliknya, dua hal yang disebutkan tadi adalah cara Allah Swt untuk menghukum orang-orang kafir dengan hukuman yang hina setelah mereka merasa bebas menjalani kehidupan di dunia.
2. Ithmun bermakna syirik
Selain bermakna kufr, ithmun juga dapat bermakna syirik. Seperti yang terdapat dalam Q.S. an-Nisa: 48 yang berbunyi:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
Ayat di atas dengan merujuk pada Tafsir al-Muyassar memiliki makna bahwa Allah Swt akan mengampuni segala kesalahan dan dosa para hamba-Nya yang Ia kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebab syirik atau mempersekutukan Allah dengan selain-Nya merupakan dosa besar. Namun, bukan berarti Allah menutup pintu taubat bagi para pelaku syirik, hanya saja mereka yang telah berbuat syirik jika ingin bertaubat harus melakukan taubatan nasuha, yakni bersungguh-sungguh untuk bertaubat atas dosa syirik yang pernah mereka lakukan serta berjanji untuk tidak akan pernah lagi mengulangi perbuatannya tersebut.
3. Ithmun bermakna berprasangka buruk
Makna ithmun yang ketiga yakni berita bohong, seperti yang terdapat dalam Q.S. al-Hujurat: 12 yakni:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Penafsiran dari ayat di atas, seperti yang terdapat dalam Tafsir as-Saghir, merupakan perintah Allah Swt kepada orang-orang yang beriman agar menjauhkan diri dari prasangka buruk. Sebab, bersuudzan terhadap orang lain merupakan salah satu perbuatan dosa. Selain itu, ayat di atas lebih lanjut juga menjelaskan tentang larangan untuk tidak mencari kesalahan orang lain dan menggunjingkannya yang dipermisalkan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Kesimpulan yang dapat diambil pada poin ini adalah bagaimana seseorang harus selalu bersikap dan berprasangka baik kepada orang lain khususnya saat sedang berinteraksi sosial.
Kesimpulan
Ithmun yang berarti dosa atau perbuatan salah merupakan sinonim dari kata dhanb. Di dalam Al-Qur’an ithmun disebut sebanyak 40 kali dengan makna yang berbeda-beda sesuai konteks ayatnya. Adapun dari pembahasan di atas, maka dapat diketahui bahwa ithmun tidak hanya berarti dosa secara global melainkan dapat berarti dosa orang-orang yang syirik, dosa orang-orang kafir, serta berdosa karena berprasangka buruk. Wallahua’lam.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.