Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Semantik Qur’an: Makna Khalifah Beserta Konteksnya

khalifah
Sumber: https://greenstairsacademy.com/khalifa-names/

Kata khalifah dalam al-Qur’an secara umum disebutkan sebanyak sembilan kali dengan dua bentuk jamaknya yaitu khala’if dan khulafa’. Secara historis, umat Islam tidak dapat dipisahkan dari masalah khalifah/kepemimpinan. Hal ini bukan hanya disebabkan karena kepemimpinan itu merupakan suatu kehormatan besar, tetapi juga memegang peranan penting dalam dakwah Islam. Pada tulisan ini akan dibahas tentang makna khalifah menggunakan pendekatan semantik al-Qur’an.

Makna Dasar Khalifah

Kata khalifah pada dasarnya berakar dari rangkaian tiga huruf yaitu kha’, lam, dan fa’. Di dalam kamus Maqayisul Lugah disebutkan bahwasanya kata khalafa ini memiliki tiga makna dasar, yaitu:

  1. Sesuatu yang datang setelah sesuatu untuk mengambil alih tempatnya, atau kedudukannya,
  2. Berbeda dengan sebelumnya,
  3. Perubahan, pertukaran, atau pergeseran.

Dari ketiga makna dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa kata khalafa bermakna dasar sesuatu yang datang kemudian setelah sesuatu yang lain ada di tempat yang didatangi tersebut dan mengambil alih tempat, posisi, jabatan, atau kekuasaan dari sesuatu yang lain dengan membawa sesuatu yang berbeda dari sebelumnya untuk melakukan perubahan atau pergeseran. Allah berfirman:

 فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ …….

Artinya: “Kemudian, setelah mereka, datanglah generasi (yang lebih buruk) yang mewarisi kitab suci (Taurat)”. (QS. Al-A’raf : 169)

Dalam Kamus Arab

Dalam kitab Lisanul ‘Arab, kata khalafa bermakna belakang atau lawan dari yang di depan. Makna yang dijelaskan disini menandakan akan posisi sesuatu terhadap sesuatu yang lain, yaitu sesuatu berada dibelakang sesuatu yang lain. Selain itu, kitab ini juga mengartikan kata khalafa sebagai setelah, yaitu sesuatu yang datang setelah sesuatu yang lain pergi.

Baca Juga  Relasi Menantu dan Mertua Telaah QS. An-Nisa’ Ayat 23

Dalam kitab kamus lain, yaitu syahr al-Qamus disebutkan: “Khalifah adalah sultan terbesar, menggantikan orang sebelumnya, dan menempati posisinya. Dan penjelasan tersebut, jelas bahwa kata khilafah asalnya adalah bentuk mashdar dari kata kerja khalafa.

Jadi, jika melihat dari penjelasan diatas bahwa pada dasarnya kata khalifah memiliki makna pengganti. Yaitu orang yang datang setelah orang lain untuk mengambil alih posisinya, ataupun meneruskan apa yang dilakukan oleh orang yang sebelumnya.

Makna Sinkronik dan Diakronik

Dari sisi aspek sinkronik ini khalifah memiliki makna yang statis di mana didalam masa Islam ia dimaknai sebagai pengganti. Seperti nabi-nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tentang khalifah didalam al-Qur’an sebagai pengganti-Nya dalam menguasai bumi dan memeliharanya.

Sedangkan aspek diakronik adalah pandangan terhadap bahasa, yang pada prinsipnya menitik beratkan pada unsur waktu. Sekumpulan kata yang masing-masing tumbuh dan berubah bebas dengan caranya sendiri yang khas.

Dalam analisis semantik kata khalifah yang disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak sembilan kali ini memiliki makna yang sama yaitu pengganti atau yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. disini ada yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini. Seperti dalam Surat Al-Baqarah : 30

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam Al-Qur’an, kata khalīfah memiliki makna ‘pengganti’, ‘pemimpin’, ‘penguasa’, atau ‘pengelola alam semesta’.

Baca Juga  Al-Qur'an Diam, Penafsir Bicara: Relevansi Pernyataan 'Ali

Dari ayat ini, dapat dijelaskan bahwa Allah menciptakan Nabi Adam as. Untuk menjadi khalifah di bumi maksudnya adalah untuk menjadi pengganti Allah dalam melaksanakan tugas menjaga bumi, memeliharanya dengan baik, memanfaatkan setiap bekah yang diberikan, mengaturnya agar selalu baik dan terhindar dari kerusakan.

Dalam Konteks Penggunaan

Jadi menurut Toshihiko Izutsu, jika ditinjau dari segi konteks pengguaannya didalam al-Qur’an, kata khalifah secara umum memiliki makna penguasa atau pemimpin. Seperti dalam surat al-Baqarah ayat 30.

……اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ …….

Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.”

Dalam Al-Qur’an, kata khalīfah memiliki makna ‘pengganti’, ‘pemimpin’, ‘penguasa’, atau ‘pengelola alam semesta’.

Namun jika melihat dari makna dasarnya yaitu pengganti, maka sebenarnya yang dimaksud di dalam ayat-ayat tersebut adalah manusia dijadikan pengganti Allah dalam menguasai bumi ini. makna pengganti juga dapat diartikan sebagai pengganti pemimpin atau generasi sebelumnya yang sudah tiada, atau sudah tidak lagi memiliki kekuasaan.

Namun, terjadi pergeseran tentang makna khalifah yang jauh dari makna dasarnya pada periode pasca Qur’anik dimana makna khalifah lebih dominan kepada konsep politik yang harus dipimpin oleh seorang muslim dengan menggunakan hukum Islam sebagai undang-undangnya.

Meski sebenarnya tujuan dalam kekhalifah an tersebut sebenarnya tidak lah salah, yaitu menyatukan umat Islam diseluruh dunia kepada satu kepemimpinan. Menetralkan segala aliran-aliran Islam yang ada untuk menjadi satu aliran yang sejalan dengan ahlus sunnah wal jam’ah. Namun dalam pelaksanaannya mereka terlalu radikal dalam bertindak.