Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makna Kata Jahiliyah dalam Al-Qur’an: Perilaku Menentang Ajaran Allah

jahiliyah
Sumber: pwmu.co

Kata Jahiliyah berasal dari jahala yang mengandung arti lawan kata ilm, kasar tabiatnya, bersikap tidak ramah, berpaling atau menjauh. Sinonim dari kata jahiliyah yaitu al khiffah atau kekurangan berfikir. pada syair Al-Dhubyani,kata jahl bermakna kebodohan, kurang pengetahuan dan kurang informasi. Menurut Toshihiko Izutsu pengertian tersebut tidaklah memainkan peranan penting dalam al-Qur’an. Dari data histori dan syair di atas menjelaskan bahwa jahl adalah tidak mengetahui atau lawan dari kata al-ilm. Selain itu jahl diartikan dengan kondisi seseorang yang berdarah panas dan tidak sabar yang cenderung kehilangan kontrol dan ini merupakan ciri khas orang arab pra islam.

Ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Jahiliyah, diantara nya adalah surat Ali Imran ayat 154 kata Jahiliyah itu terdapat pada kata djannah. Ada lagi makna Jahiliyah pada surat Al Maidah ayat 50 yang terdapat pada kata hukm. Berbeda dengan surat Al Ahzab ayat 33 yang terdapat pada kata hamiyah. Kata Jahiliyah dalam Al-Qur’an memposisikan sentral dalam bingkai keberagaman Al-Qur’an disamping kata penting lainnya seperti kufr, iman dan islam. Adanya perbedan makna jahiliyah sering kali terjadi dikalangan akademisi, tak ayal mereka multi interpretasi terhadap hal ini. Konsep jahiliyah dalam Al-Qur’an atas telaah penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb ditmukan 4 kata yaitu hukum jahiliyah, prasangka jahiliyah, berhias dari jahilliyah dan kesombongan jahilliyah. Kata jahiliyah yang dikaitkan dengan kata zhann berisi tentang kecaman terhadap kaum munafik yang meragukan datangnya pertolongan allah kepada kaum muslim dalam menghadapi peperangan.

Ayat yang Berbicara tentang Jahiliyyah

Dalam Tafsir Ibnu Katsir pada surat Ali Imran ayat 154 jahiliyah menurutnya adalah kecurigaan, keragu rguan dan sangkaan jelek terhadap Allah SWT. Melalui penafsiran Ibnu Katsir ini yang mengutip riwayat Baihaqi tentang apa yang terjadi pada saat peperangan uhud, dikatahui bahwa jahiliyah ditujukan kepada kaum munafik yang mencurigai dan meragukan Allah SWT pada saat perang uhud. Sedangkan Jurji Zaidan melihat istilah jahiliyah dari segi bahasa dan menelitinya dengan meninjau dari syair jahili. Dia tidak menggolongkan prasangka buruk terhadap Allah dan rasul nya yang masuk kedalam kategori jahiliyah, akan tetapi ia menggolongkan jahiliyah sebagai suatu zaman sebelum datangnya islam. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa pendapat ibnu katsir akan jahiliyah tidak memiliki persamaan dengan pendapat Jurji Zaidan.

Baca Juga  Ali Mansur Kastam: Dunia ini Penjara Bagi Orang Mukmin

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ

50.  “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? “(QS. Al Maidah : 50)

Dalam surat Al Maidah ayat 50 Ibnu Katsir mengawali bahwa Allah mengingkari atas siapa yang keluar dari hukumnya yang mana hukum Allah ini mencakup seluruh kebaikan dan segala larangan untuk menghindari keburukan. Allah mengingkari siapa yang berpaling dari hukum Allah ke selain hukum yang disyariatkan oleh nya, baik itu merupakan suatu pendapat, hawa nafu, maupun istilah istilah yang dibuat oleh sekeompok orang tanpa ada landasan syariat dari allah. Hal ini seperti orang orang jahiliyah yang berhukum dari hukum yang sesat dan bodoh. Mereka membuat hukum yang didasarkan dengan padangan serta hawa nafsu mereka saja.

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

33.  Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al Ahzab : 33)

Tafsir dari surat Al Ahzab ayat 33 menurut Ibnu Katsir adalah berhiasnya wanita ketika keluar rumah dengan tujuan memeamerkan apa yang ada pada nya untuk menarik perhatian orang lain seperti apa yang dilakukan oleh orang tedahulu. Maksud dari orang terdahulu adalah yang dikutip oleh Ibnu Katsir atas perkataam Ibnu Abbas yang berada dalam penafsiran Ibnu Jari yakni dengan bertabbarujnya para wanita di zaman antara nabi Nuh dan nabi Idris. Jurji Zaidan dalam menyikapi wanita pada zaman jahiliyah dengan sifat keberania, dapat dibanggakan, memiliki kegengsian dan tekat. Kemudia para wanita jahiliyah lainnya pada saat peperangan, mereka menemani para lelaki ke medan perang. Jurji zaidan dalam penyebutan ini tidak memiliki unsur celaan, karena kata jahiliyah menurutnya hanya sebutan untuk periode ataupun zaman.

Baca Juga  Apa yang Harus Diteladani dari Pribadi Rasulullah Saw?

اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ

26.  (Kami akan mengazab) orang-orang yang kufur ketika mereka menanamkan kesombongan dalam hati mereka, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. (Allah) menetapkan pula untuk mereka kalimat takwa.695) Mereka lebih berhak atas kalimat itu dan patut memilikinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Perilaku Menentang Ajaran Ilahi

Pada surat Al Fath ayat 26, ibnu katsir menafsirkan bahwa ketika mereka menolakan untuk menulis kalimat bismillah, kalimat ini merupakan apa yang telah ditentukan atas Muhammad rasulullah. Tafsir dari kata hamiyyah al jahiliyah dalam ayat 26 surat Al Fath menurut ibnu katsir adalah kesombongan yang dilakukan oleh orang orang Quraisy. Kesombongan tersebut akan berdampak fanatisme pada pelakunya. Kesombongan yang fanatik masuk dalam kata jahiliyah dan membuat pelaku susah menerima kebenaran. Seperti yang dilakukan oleh orang orang kafir saat menulis perjanjian Hudaibiyah. Kata jahiliyyah dari surat Al Fath ayat 26 ini adalah kesombongan seseorang yang menolak kebenaran dan merasa benar, hal ini berangkat dari sikap fanatinya seseorang terahadap sesuatu.

Kata jahiliyah dalam sejarah arab pra islam sudah ada dan digunkaan sebagai perbendaharaan kata dalam berkomunikasi. Dibuktikan dengan adanya syair yang menggunakan kosakata jahiliyah. Sedangkan dalam pandangan alquran, kata jahiliyah digunakan untuk menunjuk pola perilaku seseorang atau gambaran kondisi masyarakat Arab yang menentang ajaran ilahi.

Editor: An-Najmi