Merah delima atau yang biasa disebut batu yaqut maupun batu rubi merupakan salah satu batu yang banyak dikenal oleh para pecinta batu dan pengrajin batu akik. Batu tersebut masyhur akan keindahan warnanya yang memiliki variasi warna dari merah muda hingga merah darah. Batu merah delima itu bebatuan yang tercipta dari pembentukan kronium yang berasal dari jenis mineral korundum aluminium oksida.
Istilah merah delima berasal dari nama buah, yaitu buah delima. Buah delima berkarakteristik serupa dengan batu merah delima, mulai dari segi bentuk sampai dengan warnanya. Juga merupakan salah satu bagian dari jejeran 4 batu berharga tinggi seperti batu Safir, Zamrud, dan Intan. Secara implisit, hal ini sangat langka dan memiliki harga yang tinggi. Tapi seiring perkembangan zaman, terdapat banyak tiruan atau imitasi dari batu merah delima yang dapat dibeli dengan harga murah.
Makna Merah Delima Bagi Sebagian Orang
Pada zaman dahulu, nusantara adalah daerah yang sebagian besar penduduknya menganut ajaran-ajaran kejawen dan tak pernah lepas dari unsur animisme dan dinamisme. Mereka meyakini bahwa batu merah delima merupakan salah satu daripada benda keramat atau biasa disebut dengan benda pusaka, akan tetapi tidak semua orang dapat memiliki benda tersebut.
Batu merah delima itu ageman atau pusaka yang banyak dicari-cari oleh para lelakon atau orang-orang yang memiliki ilmu kesaktian. Dalam mendapatkannya, tentu harus melewati lika liku yang disepakati. Seperti halnya dengan mendatangi tempat-tempat keramat, bertapa, sampai kepada tirakat. Mereka meyakini, bahwa siapa saja yang memiliki benda tersebut, tentu mendapatkan segala hal yang diinginkan dalam ranah ilmu ghaib. Seperti kekebalan, penglaris, mendapatkan harta, tahta, wanita, bahkan ilmu menghilang.
Di zaman wali songo, sunan kalijaga mengajarkan kepada masyarakat awam untuk mengetahui bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan batu merah delima, bukanlah batu merah yang memiliki kekuatan magis atau berbagai macam kesaktian. Tapi, merah delima itu berasal dari kata “Merah Dzal Lima” atau bisa diartikan sebagai “Huruf Dzal yang Lima”. Kita diperintahkan untuk mencari surat di dalam Al-Qur’an yang hanya memiliki lima huruf dzal di dalamnya. Surat apakah itu? Tentunya surat al-Ikhlas.
Merah Delima dalam Al-Qur’an
Surat al-Ikhlas merupakan surat pendek yang sering dibaca oleh mayoritas umat muslim. Karena surat ini merupakan surat yang mudah dihafal dan pendek ayatnya. Selain itu, di dalamnya mengandung berbagai keistimewaan. Terutama membahas tentang konsep ketuhanan yang menyatakan tentang keesaan Allah beserta isi penolakan dari segala bentuk penyekutuhan terhadap Allah.
Tak salah yang kemudian, surat ini memiliki banyak keutamaan di dalamnya antara lain: dapat menjauhkan diri dari segala marabahaya, menyelamatkan seseorang dari niat jahat dan aniaya, penyembuhan penyakit, menjauhkan dari godaan setan, membuka pintu rezeki, melunaskan hutang, mencegah dari fitnah siksa kubur, mengampuni dosa-dosa, mendapatkan istana di surga, diberkahi dalam hidup, dan mendapatkan derajat yang tinggi,
Banyak dari para ulama dan sahabat yang mengamalkan surat al-Ikhlas dan menjadikan hal tersebut sebagai sebuah amalan yang sangat berguna jika diamalkan dengan sungguh-sungguh dan istiqamah. Amalan tersebut dapat memudahkan seseorang dalam menghadapi segala urusan dunia maupun urusan akhirat. Meskipun surat al-Ikhlas merupakan surat yang pendek tetapi memiliki kedudukan yang tinggi. Berikut ayatnya:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa”.
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
“Allah tempat meminta segala sesuatu”.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”.
وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia”.
Dari surat al-Ikhlas tersebut, gambaran filosofis merah delimanya, terlihat pada kul huwa Allahu aha(d), Allahu shoma(d), lamyali(d) walam yula(d), walam yakulahu kufuan aha(d).
Penutup
Dari pemaparan yang di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ikhlas dan berserah diri kepada Allah dengan kekuatan tersembunyi dalam diri setiap manusia, ikhlas dalam menjalankan segala sesuatu, ikhlas dalam menghadapi segala cobaan, dan ikhlas dalam menerima ketetapan Allah. Semua orang dapat membacanya, namun belum tentu bisa mengamalkannya. Oleh karenanya, ini merupakan senjata dalam mengahadapi segala godaan yang berasal dari jin ataupun segala godaan dari manusia itu sendiri.
Itulah yang menjadikan surat al-Ikhlas sebagai pusaka. Selain berisikan tetang keesaan Allah dan larangan menyekutukannya, masih banyak hal istimewa yang terkandung di dalamnya. Sebagian menggambarkan pusaka merah delima dengan arti batu akik belaka, akan tetapi dibalik itu semua surat al-Ikhlas mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah dengan hati yang ikhlas, karena hal tersebut merupakan pusaka yang lebih sakti dari sekedar batu.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply