Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kontroversi Sarjana Revisionis: Al-Qur’an yang Meminjam Narasi Biblikal

Sarjana studi Islam Indonesia dikenal gemar mengimpor pemikiran sarjana yang bernuansa bombastis, non-mainstream, dan kontroversial. Hal serupa pun berlaku bagi kesarjanaan ilmu Al-Qur’an. Sebagai contoh, Mun’im Sirry melalui Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis (2017) kentara hendak memantik para sarjana Al-Qur’an di Indonesia dengan membeberkan perkembangan kajian Al-Qur’an dan lintas agama di Eropa selama satu abad terakhir.

Tujuan utama dari pantikan tersebut yakni untuk menjawab, “sejauh mana Al-Qur’an menyuguhkan informasi tentang kemunculan Islam dan hubungannya dengan agama lain?”. Pertanyaan ini berangkat dari kegelisahannya tatkala melihat minimnya jumlah penelitian dari sarjana Muslim yang mengkaji dimensi integralitas, historisitas, dan kontinuitas Al-Qur’an dalam konteks Late Antiquity.

Sirry kemudian menawarkan sebuah jalan tengah untuk menjembatani perdebatan antara wacana kelompok yang ia sebut “sarjana revisionis ekstrem” dengan wacana Islam doktriner. Pada satu sisi, ia tampak bersepakat dengan kelompok sarjana revisionis yang mengajak umat Islam untuk bertanya-tanya tentang tingkat keaslian dan ketepatan data sejarah yang berkembang pada masa awal kemunculan Islam.

Sirry mencatat bahwa Al-Qur’an perlu didekati dengan metode analisis kritis, khususnya tatkala menjelaskan peran Al-Qur’an sebagai dokumen paling awal Islam sekaligus sumber informasi tentang masyarakat dan agama pra-Islam. Namun, di sisi lain, Sirry jelas menolak sikap destruktif atau pesimistik para sarjana Barat yang menolak data sejarah yang disusun oleh ulama muslim klasik.

Kontroversi Günter Lüling

Salah satu karya penelitian sarjana revisionis ekstrem yang disinggung oleh Sirry yaitu disertasi karangan Günter Lüling di tahun 1974 dengan judul “Die Wiederentdeckung des Propheten Muhammad: Eine Kritik am ‘Christlichen’ Abendland” (The Rediscovery of Prophet Muhammad: A Critique of the ‘Christian’ Occident).

Baca Juga  Meninjau Kajian Orientalis dalam mengkaji Al-Quran dan Hadis

Pembahasan dalam disertasinya berpusat pada tiga tema pokok; Pertama, hubungan Muhammad dengan Kristen Hellenistik “yang ditemukan kembali”; Kedua, desakan sosiopolitik golongan Islam Ortodox yang mendistorsi muatan Kristen Hellenistik dari Al-Qur’an sehingga redaksi di dalamnya bernuansa pagan, disertai dengan sejarah Kabah sebagai produk ajaran Kristen Hellenistik; Ketiga, urgensi agama Abrahamik dan elemen-elemen pagan Arab dalam “menggali ulang” teologi Muhammad.

Sedangkan bab pembuka dan kesimpulan mengulas implikasi-implikasi sosiologis dari pencarian ulang identitas sang Nabi. Beberapa tesis Lüling yang dianggap kontroversial antara lain mengenai terma “Muslim” yang disinyalir sebagai sebutan pengembara Kristen Hellenistik dari Arab Tengah, bangunan Kabah yang diklaim sebagai tempat beribadah yang berkiblat ke Jerussalem, dan Al-Qur’an lahir sebagai bagian dari tradisi Judeo-Kristiani yang memiliki himne yang kental

Lüling hendak melacak dan mengidentifikasi sumber pokok yang dijadikan landasan bagi penulisan Al-Qur’an, atau yang ia sebut dengan “Ur-Qur’an”. Sirry pun membahasakan ulang Ur-Qur’an sebagai “Al-Qur’an sebelum Al-Qur’an”, sembari mengutip karya lain Lüling yang berjudul Über den Ur-Qur’an yang sama-sama ditulis pada tahun 1974. Tulisan ini mengklaim bahwa sepertiga narasi dalam Al-Qur’an merupakan pinjaman dari bait-bait pujian yang berkembang di dataran Hijaz abad ke-7 Masehi.

Bagi Lüling, Muhammad melakukan upaya perlawanan dan membangkitkan semangat patriot para penganut ajaran hanīf untuk melawan penyebaran ajaran Kristen di kota Mekah. Langkah yang diambil oleh komunitas umat beriman tersebut yakni mengadopsi isi kandungan dari himne Kristen Ortodoks ke dalam bahasa keseharian bangsa Arab. Lalu tatkala kematian sang Nabi, Al-Qur’an yang masih bersifat scriptio defectiva (naskah yang belum baku) mengalami perubahan makna, cara baca, dan tafsiran hukum di tengah para pemeluk ajaran Islam.

Baca Juga  Mengenal Istilah Orientalisme & Studi Qur’an di Barat

Respon terhadap Pemikiran Lüling

Tesis Lüling banyak menerima kritik tajam dari sarjana studi Islam dan Biblikal hingga ia dilabeli sebagai peneliti yang “radikal” dan intuitif. Lüling dianggap belum mampu menyelami khazanah intelektual Islam secara lengkap sebab ia membatasi sumber literatur keislaman hanya pada Al-Qur’an, kitab sirah, dan beberapa sumber lain secara berserakan sehingga metodologi dan sintesa pengetahuan di dalamnya bersifat spekulatif dan apologetik.

Tepat setelah 33 tahun semenjak kemunculan disertasi tersebut, Gabriel Said Reynolds melalui buku The Qur’an in Its Historical Context (2007: 74-7) membantah sejumlah argumentasi yang Lüling kemukakan. Beberapa topik yang disanggah oleh Reynolds semisal tentang prasumsi muatan Judeo-Kristiani dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ketiadaan transmisi tulisan dari Al-Qur’an untuk memperkukuh keabsahan korpusnya, serta hubungan antara pengembara Kristen Hellenistik dari Arab Tengah yang memengaruhi pemahaman Nabi Muhammad. Reynolds menyebut bahwa Lüling kekurangan data empiris-arkeologis dan terlalu mengandalkan prasumsi intuitif.

Di sisi lain, penulis bersepakat dengan Daniel Madigan dalam Sirry bahwa studi Al-Qur’an yang segar dan kontributif takkan lahir dari motif kajian yang konfliktual dan berebut kepemilikan, apalagi melihat Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lain hanya sebagai artefak sejarah tanpa mempertimbangkan peran korpus tersebut sebagai kanon bagi masyarakat pembacanya.

Editor: An-Najmi

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, peneliti muda Institute of Southeast Asian Islam, dan associate researcher ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin.