Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Hasyr 18: Anjuran Self Improvement

Improvment
Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.trendingnews.news%2Fself-improvement-pros-and-cons-from-the-perspective-of-psychology%2F&psig=AOvVaw1SnQsfkleQ8vgMZ3Mau-pL&ust=1645273597584000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqFwoTCNiXgfififYCFQAAAAAdAAAAABAD

Istilah self improvement sering diartikan sebagai pengembangan diri. Secara umum diartikan juga sebagai usaha pengembangan diri untuk memperbaiki kualitas diri. Kualitas diri baik dari segi skill, pengetahuan, etika, pola pikir, kebiasaan dan sebagainya. Dalam hal ini self improvement dihubungkan dengan aktivitas dalam beragama. Sebagai seorang Muslim tentunya dalam hal beragama seperti ibadah kepada Allah harusnya mengalami perkembangan. Yaitu dengan meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Karena untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat tidak ditentukan dari seberapa sering kuantitas ibadah. Namun lebih kepada kualitas ibadah yang dikerjakan dan efek setelah melaksanakan ibadah tersebut.

Anjuran self improvement dalam agama islam juga sudah dijelaskan dalam kitab suci Al-Qur’an. Yaitu pada salah satu surat yang berhubungan dengan self  improvement yaitu pada surat Al-Hasyr  ayat 18.

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْر ٌۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”

Tafsir QS. Al-Hasyr: 18 dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir

Dalam kitab tafsir ibnu katsir firman Allah SWT (يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ) merupakan perintah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini menjelaskan bahwa sebagai seorang Muslim seharusnya senantiasa bertakwa kepada Allah dengan selalu meningkatkan kualitas keimanan dan berkomitmen. Untuk tidak melaksanakan hal-hal yang dapat menghambat self improvement dalam beragama Islam.

Baca Juga  ‘Izz al-Din Ibn Abd al-Salam: Penulis Dua Kitab Tafsir

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ) “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. Maksud dari penggalan ayat ini adalah kita diperintahkan untuk menghisab diri kita sendiri sebelum dihisab oleh Allah SWT, Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal shalih untuk hari kemudian serta pada waktu bertemu dengan Allah.

Dalam penggalan ayat di atas juga memberikan motivasi dalam upaya intropeksi diri. Allah memperintahkan untuk selalu melakukan intropeksi dan perbaikan diri guna mencapai masa depan yang baik di dunia maupun di akhirat. Dalam melakukan self improvement jugatentunya harus dibarengi dengan upaya perbaikan diri. Karena untuk memperbaiki kualitas keimanan dan mencapai ketakwaan dibutuhkan pembelajaran-pembelajaran dari kejadian-kejadian yang lalu.

(وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ) “Dan bertakwalah kepada Allah SWT”. Perintah ini adalah sebagai bentuk penegasan yang kedua. (اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْر ٌۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ) “sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Maksudnya ialah, kita diperintahkan untuk mengetahui bahwasanya Allah Swt Maha Mengetahui atas segala perbuatan dan keadaan kita. Tidak ada yang mampu disembunyikan dari Allah baik itu perbuatan baik maupun buruk.

Penggalan ayat di atas menyadarkan manusia untuk selalu berhati-hati dalam bertindak. Karena itu Allah memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berorientasi dalam kebaikan dan menjauhi segala perkara buruk dari suatu yang kecil hingga besar. Dalam upaya self improvement dalam beragama sangat dibutuhkan kehati-hatian dalam melakukan segala peribadatan. Karena itu harus selalu menjaga komitmen untuk meninggalkan kemaksiatan dan selalu istiqomah dalam hal kebaikan.

Tafsir QS. Al-Hasyr :18 dalam Kitab Al-Misbah

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْر ٌۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Baca Juga  Mengurangi Emosi Negatif: Dari Psikologi ke Sufistik

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat 18 ini menjelaskan tentang ajakan yang ditujukan kepada kaum muslimin untuk berhati-hati agar tidak mengalami nasib yang sama dengan orang Yahudi dan orang-orang munafik. Kemudian Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah”. Yakni menghindarlah dari siksa yang dapat Allah SWT berikan dalam kehidupan dunia dan akhirat dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikedepannya”, yakni amal sholeh yang telah diperbuat oleh manusia. “Untuk hari esok yang dekat”, yakni akhirat.

Allah berfirman “Dan” sekali lagi kami berpesan, “bertaqwalah kepada Allah”. Perintah untuk memperhatikan hal-hal yang telah dilakukan untuk hari esok dipahami oleh Thabathaba’i sebagai perintah untuk melakukan evaluasi atau intropeksi diri terhadap amal-amal yang telah dikerjakan. Setiap mukmin dituntut untuk selalu memperbaiki apa saja yang telah dilakukan. Kalau perbuatan baik maka dia dapat mengharpakan ganjaran dari Allah, dan apabila perbuatan itu buruk maka dia segera bertaubat kepada Allah.

Relevansi Self Improvment

“Sesungguhnya Allah menyangkut apa yang senantiasa dan hari saat ke saat kamu kerjakan Allah Maha mengetahui” sampai sekecil apapun. Setelah diperintahkan untuk bertakwa dengan rasa takut untuk melakukan hal yang positif. Allah mengulang kembali perintah itu agar takwa tersebut kemudian didorong dengan rasa malu untuk melakukan keburukan.

Dalam penafsiran di atas dapat disimpulkan bahwa dalam surat Al-Hasyr ayat 18 ini mengandung anjuran untuk self improvement. Yaitu dalam hal bertakwa kepada Allah dengan memperhatikan apa saja yang telah dilakukan, dan melakukan evaluasi atau intropeksi diri dalam upaya peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan dalam beragama.

Baca Juga  Al-Furqan 23: Adakah Surga Bagi Non Muslim yang Dermawan?

Dari penafsiran kitab Al-Misbah ini tidak jauh beda dengan penafsiran kitab Ibnu Katsir. Keduanya menafsirkan surat Al-Hasyr ayat 18 dengan model penafsiran yang hampir sama. Dari penafsiran kedua kitab tersebut dapat diambil kesimpulan yang sama yaitu self improvement dalam beragama sangat dianjurkan dalam beragama terutama dalam agama Islam. Karena dalam hal mencapai kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi perlu adanya self improvement yang baik, dengan melakukan intropeksi atau evaluasi diri dari kejadian-kejadian yang lalu dan senantiasa berhati-hati dalam melakukan hal apapun untuk mencapai masa depan yang baik untuk akhirat.