Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Frugal Living dalam Al-Quran

Beberapa waktu terakhir, budaya “Frugal Living” atau hidup hemat menjadi tren yang tampak positif dan menjadi alternatif yang menarik dan diminati oleh kalangan generasi muda, terkhusus Generasi Z. Karena dengan gaya hidup super hemat seperti ini akan melatih untuk hidup dengan serba terarah, serba tertata dan serba teratur, anti boros, dan semisalnya.

Sehingga para penganut mazhab Frugal Living seperti ini benar-benar menerapkan prinsip “yang penting kaya, bukan terlihat kaya”. Efek samping yang mungkin tampak dari kalangan kaum ini, sekaligus ciri khasnya adalah penampilan, aksesoris, sikap sosial, dan lain semisalnya yang mudah dikenali oleh orang-orang yang berinteraksi dengan mereka dalam keseharian. Kesan “itu-itu saja” dan “pelit” tampaknya sering muncul dalam pikiran kerabat dekat kaum ini.

Tentu ini bukan budaya yang buruk, ini adalah budaya yang sangat baik. Karena sikap moderat dalam ekonomi pribadi seperti ini sesuai dengan tuntunan Al-Quran, yaitu

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS Al Isra : 29).

وَالَّذِيۡنَ اِذَاۤ اَنۡفَقُوۡا لَمۡ يُسۡرِفُوۡا وَلَمۡ يَقۡتُرُوۡا وَكَانَ بَيۡنَ ذٰلِكَ قَوَامًا‏

Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar. (QS Al-Furqan : 67).

Terlebih bagi generasi muda, di tengah dinamika hidup dengan tuntutan hidup serba boros, dan berbagai masalah ekonomi, tren Frugal Living benar-benar akan menolong mereka di kemudian hari. Kesabaran, ketelitian, sikap hemat sekaligus “bodo amat” positif menjadi latihan batin yang sangat bermanfaat.

Baca Juga  Tafsir Aktual: Jasa Parkir Antara Eksploitasi, Pungli, dan Etos Kerja

Meskipun ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan yang perlu diperhatikan, agar Frugal Living tidak kemudian diartikan sebagai hidup ugal-ugalan, liar dalam membelenggu diri dalam berhemat, seperti beberapa hal berikut :

Makna Sederhana

Sederhana bukanlah kesengsaraan, bukan pula akting agar tampak biasa-biasa. Sederhana adalah sewajarnya, secukupnya, sesuai tujuan dan kegunaan yang semestinya. Sehingga wajar jika sederhana diartikan dalam bahasa Arab sebagai “iqtishad” dari kata “qashd” atau tujuan. Kemudian menjadi istilah populer dan paling tepat untuk menyebut ekonomi dalam bahasa Arab. Karena memang sederhana erat kaitannya dengan kegiatan ekonomi.

Hidup sederhana bukan bermakna miskin atau menyiksa diri dengan memaksa untuk konsumsi suatu hal yang bahkan tidak layak.  Pada penerapannya, hidup sederhana adalah ketika seseorang membutuhkan alat transportasi.

Bagi sebagian orang, naik pesawat adalah hal mewah jika dilakukan untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Sehingga transportasi sederhana adalah ketika ke luar kota dengan kendaraan pribadi, kereta api, atau bis. Akan tetapi tentu tidak semudah itu. Bagi mereka yang berusia lanjut atau tokoh penting, serta sudah lemah secara fisik, naik pesawat untuk ke luar kota bukan hal mewah, tetapi sederhana karena memang sesuai dengan kebutuhan. Karena jika mereka ke luar kota dengan kendaraan pribadi, hanya akan membuat mereka sakit karena cukup lama dan posisi duduk yang sulit. Berbeda dengan mereka yang relatif lebih muda.

Pentingnya Manajemen

Manajemen atau pengaturan dan penataan dalam hidup sederhana tentu adalah hal yang cukup penting. Karena berkaitan dengan seni mengatur keuangan dan mengelolanya dengan baik. Lebih baik lagi jika dalam manajemen keuangan itu diperkuat dengan tulisan, sehingga lebih jelas income yang didapat, serta menyesuaikan outcome yang dibutuhkan.

Baca Juga  Tak Sekadar Makan: Kembali ke Makna Walimah dalam Al-Qur’an

Skala prioritas menjadi dasar yang sangat penting dalam hal ini. Berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan, mana yang mendesak dan mana yang bisa ditunda, mana yang mampu menjadi investasi atau modal dan mana yang sebatas konsumen sekali pakai.

Jiwa Sosial

Salah satu “penyakit” atau dampak lain dari budaya seperti ini adalah jiwa sosial yang terkesan pudar. Sehingga para penganut mazhab frugal living terkesan pelit, anti sosial, bahkan tidak memiliki empati pada orang lain.

Sehingga yang perlu mendapat tempat skala prioritas, adalah adanya bagian untuk orang-orang yang membutuhkan. Tidak harus fakir miskin, para pedagang di pasar tradisional, para pelaku usaha mikro juga berhak untuk didahulukan. Belanja di toko, lapak, warung atau pasar tradisional akan lebih berdampak baik bagi orang lain daripada belanja di tempat yang sudah berkembang.

Bukan FOMO

FOMO atau Fear Of Missing Out, atau “takut ketinggalan tren” juga perlu dihindari. Karena tren positif seperti ini perlu mendapat energi istikamah dan konsisten yang akan berbuah baik pula bagi para penganut mazhab Frugal Living

Seorang yang memiliki minat di bidang sejarah, dakwah dan pendidikan Islam. Memiliki keseharian sebagai peneliti dan penulis di ketiga bidang yang menjadi minatnya. Monggo, silaturrahmi di media sosialnya.