Dari segi penyajian dan bentuk, umumnya karya tafsir dibagi menjadi empat: pertama, tahlili (analitik), yakni menafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah. Kedua, ijmali (global), yakni menafsirkan dengan mengambil dan menampilkan makna umumnya. Ketiga, muqaran (perbandingan), yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan cara membandingkan antara pandangan satu mufasir dengan mufasir lainnya. Terakhir ialah, maudhu’i (tematik), yakni menafsirkan Al-Quran dengan memilih satu tema yang akan dibahas.
Metode yang disebut terakhir, yakni metode tematik, merupakan metode yang cukup digandrungi saat ini. Karena itu tidak sedikit ulama atau cendekiawan muslim yang menulis karya tafsir dalam bentuk ini. Dalam pengamatan Komaruddin Hidayat (1998), setidaknya ada tiga karya tafsir tematik yang cukup populer di Indonesia. Namun sebelum membahas itu, terlebih dahulu akan disebut alasan mengapa ulama atau cendekiawan Islam hari ini lebih memilih bentuk tafsir ini.
Keunggulan Tafsir Tematik
Tiap-tiap bentuk penyajian tafsir sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Baik itu tahlili, ijmali, muqaran dan maudhu’i. Namun sebagai metode penyajian yang muncul belakangan, ada beberapa alasan yang mengitari kenapa model tafsir tematik muncul. Salah satunya ialah permasalahan kontemporer yang kian kompleks.
Permasalahan kontemporer yang kompleks tersebut menuntut penyelesaian yang tidak sederhana. Metode penyajian tafsir klasik seperti tahlili dianggap tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Penyajiannya yang terlalu panjang lebar dan cenderung membahas satu masalah secara sepintas, menjadi alasan kuat mengapa tafsir jenis tematik perlu dan mendesak dihadirkan.
Dengan metode penyajian tematik, satu masalah akan dibahas secara fokus dan mendetail. Dan tentunya dengan perspektif Al-Qur’an. Dalam artian, permasalahan-permasalahan modern yang ada akan coba dicarikan solusinya dari Al-Qur’an. Sebab salah satu misi terbesar tafsir tematik ialah mencoba menghadirkan Al-Qur’an sebagai jawaban atas permasalahan yang ada. Tafsir ini ingin mempertahankan klaim Al-Qur’an selalu relevan bagi setiap zaman dan tempat.
Karenanya jika pada masa silam tafsir jenis ini belum terpikirkan, hal itu wajar adanya. Sebab permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam tidak sekompleks sekarang. Saat ini manusia dihadapkan pada berbagai macam problem. Dari soal kemiskinan, ketimpangan gender hingga krisis iklim.
Tiga Tafsir Tematik Populer
Dengan misi yang dikehendaki tafsir tematik di atas, maka cendekiawan-cendekiawan muslim modern berusaha dan berlomba-lomba menyusun tafsir tematik untuk memberikan sumbangsinya dalam menyelesaikan problem-problem manusia yang ada. Tafsir ini pertama kali digagas oleh Mahmoud Syaltut, seorang ulama agung dari al-Azhar. Namun ia baru menyusunnya dalam format surah. Yakni pada karyanya yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim.
Adapun yang pertama kali menulisnya dalam satu tema khusus ialah Ahmad Sayyid al-Kumy. Sementara yang menyempurnakan dan menyusun kerangka-kerangka metodologis yang terang dan jelas soal tafsir tematik ialah Abu Hayy al-Farmawi dengan karyanya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i.
Dalam bukunya yang berjudul Memahami Bahasa Agama, Komaruddin Hidayat mencatat setidaknya ada tiga karya tafsir tematik yang cukup populer di Indonesia. Tiga karya itu adalah Wawasan Al-Quran yang ditulis M. Quraish Shihab (MQS), Tema-Tema Pokok Al-Quran yang ditulis Fazlur Rahman dan Ensiklopedi Al-Quran yang ditulis oleh Dawam Rahardjo.
Dilihat dari latar belakangnya, dua penulis pertama (MQS dan Fazlur Rahman) adalah cenderkiawan muslim berlatar belakang tafsir, sementara nama yang terakhir (Dawam Rahardjo) datang dari disiplin ilmu sosial dan ekonomi. Namun dengan bekal keberanian dan sedikit pengetahuan bahasa Arab yang dimilikinya, Dawam berhasil menyusun satu tafsir. Meski karya tersebut cukup banyak dikritik dan disebut bukan karya tafsir.
***
Salah satu alasan yang memberanikan Dawam menyusun kitab tafsir, sebagaimana disampaikannya pada pengantar buku, adalah pernyataan Al-Qur’an bahwa ia adalah petunjuk bagi manusia (hudan li an-nas).
Lewat pernyataannya itu, jelas Dawam, Al-Qur’an seakan ingin menegaskan dirinya diturunkan untuk seluruh manusia. Tidak hanya untuk ulama saja. Karena itu setiap manusia bebas menafsirkan Al-Quran sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.
Menguatkan argumennya, Dawam juga menyitir perkataan Nabi yang menyebut tidak ada sistem kependetaan dalam Islam (la ruhbaniyah fi al-islam). Dengan tidak adanya sistem tersebut, maka kitab suci Al-Quran tidak boleh menjadi monopoli ulama.
Terlepas dari setuju atau tidaknya dengan argumen tersebut, kita perlu mengapresiasi sumbangsih Dawam dalam dunia tafsir. Sebab karya yang disusunnya itu memberikan warna tersendiri dalam corak penafsiran Al-Quran. Kita akan diperlihatkan bagaimana Al-Quran ditafsirkan oleh orang yang bukan berlatarbelakang ulama, melainkan sarjana sosial dan ekonomi.
Karakteristik Tafsir: Catatan Komaruddin Hidayat
Jamak diketahui, bentuk dan gaya sebuah tafsir selalu ditentukan oleh siapa yang menulisnya. Latar belakang, baik itu pendidikan, sosial, budaya, politik memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk corak sebuah tafsir. Meminjam istilah Gadamar, segala perangkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya atau yang disebut pra-pemahaman, mengambil peran yang cukup besar dalam proses menentukan makna sebuah ayat dari kitab suci.
Begitupun dengan tiga karya tafsir tematik di atas. Latar belakang pendidikan yang mereka lalui dan style intelectual yang mereka miliki, sangat berpengaruh pada karya tafsir yang mereka lahirkan.
Sebagai orang yang digembleng dalam pola pendidikan tradisional, yakni al-Azhar, pola penafsiran M. Quraish Shihab (MQS) tentu akan sangat berbeda dengan Fazlur Rahman yang dibesarkan dalam pola pendidikan Barat. Sebagai orang yang bergelut pada tradisi, MQS dalam penilaian Komaruddin Hidayat, masih cukup normatif dalam menjelaskan sesuatu. Namun pola MQS yang normatif itu sama sekali tidak mengurangi nilai dan bobot tafsir tematik miliknya. Sebab ia cukup elaboratif dan komprehensif dalam membahas satu masalah.
Rahman, kendati menggeluti dunia tafsir, pandangan-pandangan filsafat memiliki pengaruh yang kuat dalam pemikirannya. Karenanya jika melihat karyanya yang disebut di atas, nuansa filosofis akan cukup terasa. Lewat karyanya itu, Rahman ingin merumuskan satu pandangan dunia (worldview) Al-Quran.
Dari hasil telaahnya, menurutnya ada beberapa tema yang cukup sentral dan harus menjadi perhatian umat Islam dalam Al-Quran. Antara lain Tuhan, alam semesta, manusia, masyarakat dan ekskatologi (akhirat). Pada tema-tema tersebut, uraian Rahman cukup mendalam. Terutama dalam penjelasannya terkait relasi Tuhan dan alam semesta yang menghasilkan satu kesimpulan bahwa hamparan alam raya ini ialah tangga untuk mengenal Tuhan.
***
Yang paling unik ialah Dawam Rahardjo. Sebagai orang berlatarbelakang ilmu sosial dan ekonomi, tafsir tematik yang disusunnya juga kental dengan dua disiplin ilmu tersebut. Misalnya ketika membahas adil. Ia tidak hanya membahas dari perspektif Al-Quran, tapi juga mengelaborasinya dengan teori-teori yang ada soal keadilan. Begitupun saat membahas kata amanah. Ia menjelaskan kalau kata ini paling pas dijelaskan dalam konteks ilmu manajemen. Sebab amanah merupakan salah satu pilar penting dalam manajerial.
Penutup
Dilihat dari ciri khas dan karakteristik masing-masing tafsir tematik di atas, saya kira cukup rasional mengapa tiga karya tersebut cukup populer di Indonesia. Di samping ditulis oleh cendekiawan-cendekiawan top dan kajian pelopor dalam tafsir tematik di Indonesia, uraian-uraian mereka mewakili tiga arus utama sarjana di Indonesia.
Pertama, sarjana yang tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam Timur Tengah yang diwakili MQS. Kedua, sarjana yang tumbuh tradisi pendidikan Islam Barat yang diwakili oleh Fazlur Rahman. Terakhir, sarjana yang tumbuh dalam tradisi pendidikan sekular yang diwakili oleh Dawam Rahardjo.


























Leave a Reply