Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Apakah Sinonimitas Itu Ada dalam Al Qur’an?

Sumber: istockphoto.com

Sinonimitas berasal dari kata sinomim. Secara Bahasa sinonim adalah dari Bahasa yunani kuono, yaitu himpunan dari dua kata yakni syn yang memiliki arti “dengan” serta anoma memiliki arti “nama”. Sehingga bisa diartikan istilah sinomim merupakan sebutan untuk menyebut kata yang sama. Adapaun secara terminologi semantik, sinonim ialah kata berbeda secara fonologis yang mempunyai makna sama/sangat mirip. Sedangkan menurut Verhaar mengartikan sinonim sebagai “frase/ungkapan yang memiliki arti hampir sama dengan ungkapan/kata lain (kata, frase, klausa, kalimat, dan lain-lain). Di ungkapkan Verhaar diatas menunjukkan bahwa sinonim itu memiliki tingkatan atau level:

  1. Morfem bebas dan morfem terikat, misalnya antara pronomina هي dan ها   (dia untuk feminim).
  2. Kata dengan kata, misalnya  كبير dan ضخم
  3. Kata dan frase, misalnya إدم dan  ابو البثر
  4. Frase dengan frase, misalnya  ام الكتاب dan  السبع المثانى
  5. Klausa dengan klausa, misalnya   أنا طا لب dan  كنت طا لب
  6. Kata dengan klausa, misalnya توفي danالله أنتقل إلى رحمة  

Sebab-sebab Terjadinya Sinonimitas dalam Al Qur’an

Sinonim kurang lebih disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Pengaruh kosakata serapan (Dakhil) dari Bahasa asing misalnya dalam Bahasa arab konteporer dikenal kata at-talifun “telefon” yang aslinya dari Bahasa eropa dan kata al-hatif yang merupakan ta’bir, sehingga kata tersebut dianggap sebagai sinonim.

Contoh lain, kata al-mar’iyah al-żā’ah, kata al-kambiyutir dengan kata al-hasub. Sekalipun kosakata-kosakata tersebut di anggap sinonim. Namun beberapa konteks tidak bisa disebut dengan sinonim. Kata masraḥ al-jarīmah drama kejahatan” tidak bisa ditukar dengan tiyātazūr al-jarīmah sebab maksud dari “drama kejahatan” adalah kronologi terjadinya kejahatan, bukan drama atau penampilan tentang kejahatan.

  • Perbedaan dialek sosial infi’aliyah

Misalkan kata istri bersinonim dengan kata bini. Tetapi kata istri digunakan dalam komunitas kalangan atasan sedangkan kata bini digunakan untuk kalangan bawahan. Dalam Bahasa Arab, kata mujadid” pembaharu” memiliki makna positif, berkelas tinggi, dan diterima di beberapa negara Arab. Akan tetapi kata mujadid tidak bisa

Baca Juga  Hubb: Makna Cinta dan Prespektifnya dalam Al-Qur’an

ditukar dengan kata taqdimi atau ṡaurī walaupun ketiga bersinonim. Sebab kata taqdimi atau Sauri memiliki makna yang mencerminkan seseorang reaksioner, pemberontakan dan sebagainya, walaupun di beberapa wilayah Arab kedua kata ini tetap digunakan.

  • Perbedaan dialek regional Lahjah Iqlimiyah.

Misalnya, kata “handuk” bersinonim dengan kata “tuala”, tetapi kata “tuala” hanya dikenal di beberapa daerah Timur saja. Dalam bahasa arab, misalnya kata siyārah naql  “truk” hanya dikenal di mesir, sementara di negara-negara Arab bagian Teluk dan Maroko lebih mengenal kata syāḥanah .Contoh lain, istilah “pom bensin” orang Mesir menyebutnya dengan kata banzīn maḥṭah orang sudan menyebutnya dengan kata banzīn ṭalmabuh dan orang Irak mengenalnya dengan kata banzīn Khanah.

  • Perbedaan dialek temporal

Misalnya kata hubung hulubalang yang bersinonim dengan kata komandan tetapi kata hulubalang hanya cocok digunakan dalam suasana saja. Contoh lain, kata al-kitab bersinonim dengan al-madrasah al-ibtada’ah sama-sama berarti “sekolah dasar”. Akan tetapi, istilah Al kitab hanya dipakai pada masa lampau.

Contoh kata Sinonimitas dalam Al-Qur’an

Kata zauj dan imra’ah menurut pencarian dalam al-Mu’jām al-Mufahras lī al-Faẓ al-Qur`an karya Muhammad Fu’ad Abd al-Baqī, lafadz az-Zauj disebutkan sebanyak 81 (delapan puluh satu) kali yang tersebar pada 43 (empat puluh tiga) surat yang berbeda. Namun lafadz zauj yang diterjemahkan dengan menggunakan arti “istri” ialah sebanyak 40 kali dalam 21 surat dengan 10 bentuk derivasi.

Kata zauj terdiri dari tiga huruf yaitu za, waw dan jim  ialah bentuk maşdar dari zaja  yazuju, zaujan yang memiliki arti “al-qarin” teman. Seperti ungkapan “Az-zauj lil mar ah ba ‘luha “teman bagi wanita ialah suaminya”, “az-zauj li rajuli imra atuhu wahiya zaujatuhu” teman bagi lelaki ialah istrinya”. Sementara Prof. H. Mahmud Yunus dalam kamusnya menerjemahkan kata zauj  dengan kata “azwaj” sepasang atau pasangan”, demikian pula Asad M. Alkalali, ia menerjemahkannya dengan kata “munasibu lil akhar” yang cocok dengan yang lain”.

Baca Juga  Pakaian Menutup Aurat dalam Perspektif Al-Qur'an

Sinonimitas kata Zauj :

  • Al-qarin  

yang memiliki arti dasarmenggandeng”, kemudian kata ini juga memiliki arti “suami”, sementara al-Asfahani yang mengartikannya dengan kalimat al-iqtirānu kāl-azdiwāj (bersama-sama seperti pasangan suami istri).

  • Al-halil

 Kata al-halil ialah terambil dari kata halla yahullu, hallan, wa halalan, wa hululan yang memiliki arti dasar “bertahallul”, kemudian kata halil juga memiliki arti “suami”.

  • Al-ba’al

Kata al-ba’al ialah terambil dari kata ba’ala, yab’ulu ,ba’ālah ,wa bu’ūlah  yang memiliki arti dasar “suami atau menjadi suami. Sebagaimana al-Asfahani yang mengartikannya dengan kalimat هو الذكر من   البعلal-ba’l yaitu lelaki dari pasangan suami istri”.

Kesimpulan

Sinonim adalah dari Bahasa yunani kuono, yaitu himpunan dari dua kata yakni syn yang memiliki arti “dengan” serta anoma memiliki arti “nama”. Sehingga bisa diartikan istilah sinomim merupakan sebutan untuk menyebut kata yang sama. Adapaun secara terminologi semantik, sinonim ialah kata berbeda secara fonologis yang mempunyai makna sama/sangat mirip.

Ada beberapa hal yang melatar belakangi sebab munculnya sinonimitas Al-Qur’an; pengaruh kosakata serapan dari Bahasa asing, Perbedaan dialek sosial (infi’aliyah), Perbedaan dialek regional (Lahjah Iqlimiyah), dan perbedaan dialek temporal.

Editor: An-Najmi