Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Harus Puasa di Bulan Ramadhan? Renungan Ayat Berpuasa

Sumber: istockphoto.com

Puasa merupakan kewajiban bagi orang beriman. Selain salat dan zakat, puasa Ramadan menjadi komponen pilar keislaman. Seseorang dikatakan muslim apabila ia melaksanakan perintah Allah Swt termasuk di dalamnya puasa. Para ulama menyepakati bahwa landasan hukum puasa Ramadan adalah QS. al-Baqarah: 183. Pada al-Qur’an Kementerian Agama RI (2022), ayatnya diterjemahkan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Renungan dalam ayat ini menegaskan kewajiban berpuasa agar meraih ketakwaan. Puasa sejatinya kembali pada manusia agar mereka bertakwa sesuai dengan kebaikan yang diberikan oleh-Nya.

Pertanyaan yang menarik diungkap adalah mengapa harus berpuasa? Padahal puasa terkadang menyulitkan manusia. Sebab, ia harus mampu menahan lapar, haus, dan dorongan seksual, yang biasanya dilakukan di luar Ramadan. Namun, puasa berujung untuk meraih ketakwaan yaitu bentuk ketundukan dan kepatuhan sebagai proses mencapai kebahagiaan hidup.

Renungan Kenapa Harus Berpuasa

Pertama, yang dipanggil oleh ayat ini adalah orang yang beriman. Panggilan ini sungguh indah karena yang memanggil adalah Allah yang secara tegas hanya ditujukan pada orang yang beriman, bukan pada yang lainnya. Kebahagiaan terbesar apabila hamba dipanggil oleh-Nya dengan penyebutan orang beriman. Panggilan ini akan menggerakan psikologis seseorang merasa dipilih dibandingkan dengan yang lainnya, sehingga ia berkecenderungan siap untuk menerima dan melaksanakannya.

Kedua, puasa menjadi ciri orang yang beriman. Puasa akan menjadikan dirinya dipandang sebagai orang beriman. Pandangan ini sungguh luar biasa, karena dirinya dihubungkan dengan Allah Swt. Keimanan menjadi kaitan inti antara dirinya dengan Allah. Puasa akan mencirikan hubungan antara hamba dengan Allah dalam nuansa penuh kasih sayang-Nya dan keberterimaan hamba atas perintah-Nya.

Baca Juga  Jangan Fokus Membanding-Bandingkan Hidup

Renungan ketiga, setiap penyebutan kewajiban disertai dengan buah dari perbuatannya. Buah menjadi hasil yang diharapkan. Ketika pohon dipelihara, dipupuk, dan dirawat dengan baik, petani akan mengharapkan buahnya matang sempurna.  Begitu pun kewajiban yang dijalankan dengan sempurna, hasil akhir akan diperoleh dengan baik. Puasa yang merupakan kewajiban apabila dilaksanakan dengan sempurna akan berujung pada perolehan ketakwaan.

Terakhir renungan keempat, setiap kewajiban dibarengi dengan semangat kebaikan pada pelaksananya. Salat misalnya, bukan hanya perintah untuk dilaksanakan. Bacaan, gerakan, dan konsentrasi penuh berdampak pada kesehatan fisik dan psikis manusia. Puasa pun berdampak baik pada kehidupan fisik dan psikis.

Puasa Menyehatkan

Secara fisik, puasa berdampak pada kesehatan tubuh. Salah satu riset yang dikutip oleh https://www.healthline.com/ (2023) menunjukkan kebaikan puasa bagi tubuh, yaitu:

  1. Meningkatkan kontrol gula darah dengan mengurangi resistensi insulin.
  2. Meningkatkan kesehatan yang lebih baik dengan melawan peradangan.
  3. Dapat meningkatkan kesehatan jantung dengan meningkatkan tekanan darah, trigliserida, dan kadar kolesterol.
  4. Dapat meningkatkan fungsi otak dan mencegah gangguan neurodegenerative.
  5. Membantu penurunan berat badan dengan membatasi asupan kalori dan meningkatkan metabolisme.
  6. Meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan, yang penting untuk pertumbuhan, metabolisme, penurunan berat badan, dan kekuatan otot.
  7. Bisa memperpanjang umur.
  8. Dapat membantu pencegahan kanker dan meningkatkan efektivitas kemoterapi.

Sungguh luar biasa efek puasa terhadap berbagai fungsi dalam tubuh. Bahkan, bisa memperpanjang usia.

***

Secara psikis, puasa pun berdampak pada kesehatan mental. Dalam artikel Psychological Benefits of Fasting (https://www.webmd.com/), Dan Brenann menunjukkan hasil riset dampak positif puasa terhadap psikologis.

  • Fungsi mental.

Saat berpuasa, tubuh memiliki lebih sedikit bahan beracun yang mengalir melalui darah dan sistem limfatik. Sehingga memudahkan untuk berpikir. Saat berpuasa, energi yang biasanya digunakan untuk mencerna makanan tersedia untuk digunakan oleh otak. Mungkin tidak akan melihat perubahan mental ini sampai beberapa hari pertama puasa karena tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Anda mungkin mengalami sakit kepala atau titik nyeri di awal proses. Tetapi setelah tubuh Anda membersihkan diri dari racun, otak memiliki akses ke aliran darah yang lebih bersih dan menghasilkan pikiran yang lebih jernih, ingatan yang lebih baik, dan peningkatan ketajaman indera yang lain.

  • Penyembuhan peremajaan.
Baca Juga  Tawassul Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis

Puasa menempatkan tubuh melalui pengalaman peremajaan. Ini melarutkan sel yang sakit, hanya menyisakan jaringan sehat. Ada juga redistribusi nutrisi yang nyata dalam tubuh. Tubuh bergantung pada vitamin dan mineral berharga saat memproses dan membuang jaringan tua, racun, atau bahan yang tidak diinginkan.

  • Peningkatan kemauan.

Berpuasa membutuhkan kekuatan mental dan kemampuan menahan kepuasan jangka pendek untuk mengejar tujuan jangka panjang. Saat memilih untuk berpartisipasi dalam latihan yang menantang dan berhasil, kemungkinan besar akan mengalami kepuasan yang luar biasa dan rasa pencapaian juga yang diperbarui.

***

Hasil di atas cukup ilmiah. Kebaikan puasa dapat dibuktikan beberapa hasil riset yang semuanya menunjukkan kebaikan pada manusia.

Kelima, orang yang berpuasa akan bertakwa. Melalui keberterimaan perintah, melaksanakan puasa dengan baik, kemudian menjaga hal yang merusak esensi puasa, berbuah menjadi nilai ketakwaan baginya.

Kebahagiaan hidup diperoleh dengan ketakwaan. Orang yang bertakwa akan menjalani kehidupan dengan hati-hati. Semakin menahan diri dari perbuatan yang tidak baik, semakin tenang kehidupannya. Ketenangan hidupnya menjadi bekal utama agar meraih kebahagiaan tertinggi di akhirat.

Wallahu A’lam

Editor: An-Najmi