Pendidikan dalam Al-Qur’an sejatinya utama dengan kewajiban Muslim untuk menuntut ilmu agar tidak akan pengetahuan. Bahkan wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah saw. pada Qs Al-A’laq ayat 1-5 yang menjadi perubahan dan pendobrak masa jahiliyah yang di penuhi dengan kebodohan.
Peristiwa turunnya wahyu pertama ini juga menjadi awal perubahan terhadap peradaban dunia dengan ditandai pada bacaan iqra’ yang mengandung pengertian bacalah. Perintah membaca, bukan hanya sekedar perintah hanya sebatas membaca lembara buku. Namun, juga membaca bentuk-bentuk kebesaran Allah swt dan alam semesta ciptaan-Nya agar dapat menjadi renungan.
Al-Qur’an dan Pendidikan
Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan umat Islam yang di dalamnya memuat berbagai kebutuhan umat Islam agar dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman di dalam Qs Al-Baqarah ayat 31:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Artinya: “ Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar”
Dalam tafsir Ibnu Katsir di jelaskan bahwa ayat ini menyebutkan kemulian adam atas para malaikat, karena Allah swt secara khusus mengajarkan ilmu tentang nama-nama segala sesuatu, sementara untuk malaikat tidak. Adh-Dhahak mengatakan dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا “Dan dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda–benda) seluruhnya,” yaitu, nama-nama benda yang diketahui manusia, hewan, langit, bumi, daratan, lautan, unta, keledai, dan nama-nama makhluk yang lainnya.
Allah swt mengajarkan kepadanya segala sesuatu nama dzatnya dan perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas ra termasuk kentut dan buang angin. Yakni, nama-nama dzat dan perbuatan yang besar maupun yang kecil. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir)
Firman Allah dalam Qs. Al-An’am ayat 105
وَكَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ وَلِيَقُوْلُوْا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهٗ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dan demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang ayat-ayat Kami agar orang-orang musyrik mengatakan. “Engkau telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),” dan agar Kami menjelaskan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui”.
Penafsiran Ayat
Di Dalam tafsir karangan Syaikh Asy-Syanqithi di jelaskan bahwa kata دَرَسْتَ mengandung tiga macam qira’at. Ibnu Katsir dan Abu Umar membaca دَرَسْتَ dengan huruf alif sesudah dal serta men-sukun sin dan mem-fathah ta’ dari wazan mufa’alah (makna saling). Dengan demikian, ayat termasuk bermakna: engkau mempelajari dari Ahli Kitab dan Ahli Kitab belajar dari engkau. Sehingga engkau memperoleh ilmu ini. Sisa dari para Ahli Qiraat Saba’ah selain Ibnu Amir, membaca دَرَسْتَ tanpa alif serta men-sukun sin dan mem-fathah ta’ juga. Jadi, arti kata tersebut adalah engkau mempelajarinya dari Ahli Kitab sehingga engkau mengetahuinya. ( Syaikh Asy-Syanqithi, Tafsir Adhwa’ul Bayan )
Firman Allah swt dalam Qs. Al-Fatiha ayat 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam”
Di dalam Tafsir Al-Misbah di jelaskan bahwa kata رب Rabb merupakan sinonim dari kata Tarbiyyah , yaitu mengarahkan sesuatu tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya. Ketika menyebut kata Allah dapat terbayang dalam benak bahwa gambaran segala bentuk sifat-sifat Allah swt, baik sifat Fi’il (perbuatan) maupun sifat Dzat-Nya. Yakni, yang berdaampak kepada makhluk-Nya maupun tidak. Ketika menyebut kata rabb, maka di dalam kandungan makna kata ini terhimpun semua sifat-sifat Allah yang dapat menyentuh makhluk.
Refleksi Ayat
Pengertian Rububiyah dalam kependidikan dan pemeliharaan mencakup pemberian rezeki, pengampunan, dan kasih sayang; juga meliputi amarah, ancaman, siksaan, dan sebagainya. M Quraish Shihab membuat analogi dalam memahami makna ini yaitu ketika bentuk ancaman, bahkan memukul anak dalam rangka mendidik mereka. Meskipun sang anak yang dipukul akan timbul rasa diperlakukan secara tidak wajar, kelak ketika sudah tumbuh dewasa akan timbul kesadaran bahwa pukulan tersebut merupakan sesuatu yang baik baginya. Pada dasarnya Ketetapan Allah swt tidak terlepas dari pemeliharaan dan pendidikan-Nya. (M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah)
Pengggunaan kata Ta’lim hanya sebatas kongnitif untuk memberitahu sesuatu yang belum tahu. Sedangkan, penggunaan kata darrasa dalam Al-Qur’an cenderung kepada membaca untuk memahami, meringkas, dan menghafal. Dan kata Tarbiyah merupakan istilah perbaikan dalam menjaga, Proses memelihara, mengasuh, dan mengembangkan. Meliputi menyempurnakan fitrah kemanusiaan, memberikan kenikmatan dan kemuliaan sesuai syariat Islam Allah SWT.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.