Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hikmah di Balik Seruan “Wahai Manusia” dalam Q.S Al-Baqarah: 21

wahai manusia
Sumber: https://www.pinterest.com

Dalam Qs, al-Baqarah: 21 Allah Swt. menyeru wahai manusia supaya mereka menyembahnya, berikut ayatnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعِبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ و الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقوْنَ (٢١)

Artinya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah [2]: 21).

Seruan Allah Swt. pada ayat di atas ditujukan kepada seluruh umat manusia “النَّاسُ” tanpa; menkhususkan pada satu pun golongan ataupun agama. Lalu, apa sebenarnya urgensi dibalik seruan Allah Swt. memerintahkan umat manusia untuk menyembahnya?

Kandungan Qs. Al-Baqarah: 21

Ayat ini termasuk dalam kategori asalib al-nida’ apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa. Tersusun dari huruf nida’ “يا” dan diikuti dengan munada-nya “..أيُّ”, serta diikuti pula dengan kata setelahnya “النَّاس” yang memiliki kedudukan sebagai sifat dari munada. Huruf nida’ “يا” sendiri secara fungsional dapat digunakan dalam panggilan yang sifatnya dekat maupun jauh; baik secara hissi atau secara indrawi, ataupun secara ma‘nawi atau secara maknanya. 

Apabila ditinjau lewat kacamata tafsir, konten ayat ini berisikan tentang perintah Allah Swt. yang ditujukan kepada seluruh umat manusia secara universal. Dengan perintah atau perkara yang general; ibadah secara umum supaya mereka mematuhi dan menaati seluruh perintahnya. Dan menjauhi segala apa yang dilarangnya, serta membenarkan dan mengimani firman Allah Swt. Maka dari itu, Allah Swt memerintahkan wahai manusia untuk melakukan segala apa yang diciptakan untuknya, dengan ini Allah Swt. berf’irman. “Tasir al-Karim al-Rah}man fi Tafsir Kalam al-Mannan.”

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.Al-Zariyat [51]: 56″.

Baca Juga  Tafsir Al-Isra 23: Relasi Tauhid dan Berbakti Pada Orang Tua
***

Al-Alusi menafsirkan ayat ini lebih detail lagi, bahwa Allah Swt. membagi al-mukallafin atau orang-orang yang dibebani tanggung jawab itu menjadi 3. Yang pertama adalah (الَّذِينَ يُؤْمِنُوْنَ) yaitu orang-orang yang beriman, sebagaimana termaktub dalam surah al-Baqarah: 3. Kedua, yaitu (سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ) yaitu orang-orang kafir, sebagaimana termaktub dalam surah al-Baqarah: 6. Kemudian, yang ketiga adalah (يُخَادِعُوْنَ اللهَ) yaitu orang-orang yang menipu, lagi memperdaya Allah Swt. “Ruh al-Ma‘ani [Juz 1, hal 183]”

Kemudian, Al-Alusi menerangkan kondisi mereka ketika di dunia maupun di akhirat dengan firman Allah Swt. yang termaktub pada ayat setelahnya. Pada bagian pertama. Orang-orang yang beriman, kondisi mereka adalah (أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ). Mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

Kemudian bagian kedua. Orang-orang kafir, kondisi mereka; (خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ) yaitu hati, pendengaran, dan pengelihatan mereka ditutup oleh Allah Swt. Dan Allah Swt. berikan mereka siksa yang amat berat. “Ruh al-Ma‘ani [Juz 1, hal 184]”

Lalu bagian ketiga, yaitu orang-orang yang memperdaya dan menipu Allah Swt. Kondisi mereka (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ). Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah Swt. tambah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. “Ruh} al-Ma‘ani [Juz 1, hal 184]”

Hikmah

Dari uslub nida’ yang ada dalam ayat ini. Kita menjadi tahu bahwa penggunaan huruf nida’ “يا” memiliki urgensi untuk menyeru umat manusia secara menyeluruh. Seruannya jauh dan luas secara ma‘nawi, yaitu kepada manusia “النَّاس” dalam ayat tersebut yang berarti seruan kepada orang-orang mukmin, orang-orang kafir, dan juga orang-orang munafik yang memperdaya dan menipu Allah Swt. 

Baca Juga  Tafsir Dekonstruktif Trilogi IMM: Sebuah Agenda Pembebasan

Kemudian, setelah menelisik pula kandungan dari Qs. al-Baqarah: 21 tersebut dari khazanah kajian tafsir. Diketahui bahwa hikmah seruan yang dimaksudkan kepada manusia itu adalah bersifat general; dan tidak hanya dikhususkan kepada umat muslim yang beriman. Dan secara tidak langsung juga membuktikan bahwa agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Kemudian, kita menjadi tahu pula bahwa meski seruan untuk menyembah kepada Allah Swt. ditujukan kepada selain orang-beriman. Namun, sejatinya hanya orang-orang yang beriman yang berhak memperoleh hidayah dari Allah Swt; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat.