Tahun baru adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu banyak orang. Bahkan euforia tahun baru dirayakan dengan berbagai kegiatan yang cukup megah, mulai dari pesta kembang api, makan-makan dan sebagainya. Momen tahun baru bukanlah hanya sekedar pergantian jam, hari, maupun bulan belaka.
Momen ini harus dimaknai lebih dalam agar tidak hanya sekedar euforia yang tanpa membawa manfaat sama sekali. Memaknai tahun baru harus menjadi sebuah gebrakan agar menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Sehingga seseorang tidak menjadi insan yang merugi karena tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Allah SWT berfirman dalam surat al-Ashr.
Tahun Baru dan Surat Al-Ashr
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr: 1-3)
Dalam surat al-Ashr, Allah seakan akan mengingatkan manusia bahwa sesungguhnya manusia benar-benar akan dalam kerugian. Jika kita lihat, Allah bersumpah dengan waktu dalam memulai awal surat al-Ashr. Allah memperingatkan kepada manusia dengan sumpah agar waktu tidak disia-siakan dan diabaikan. Manusia seolah-olah dituntut waspada dengan waktu, dituntut agar benar-benar menghayati makna waktu dalam surat al-Asr. Bahkan imam syafi’i berkata “andai saja manusia mampu memikirkan kandungan surat al-Ashr, cukuplah ia menjadi petunjuk bagi kehidupannya”.
Penafsiran Ayat
Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seluruh manusia akan merugi kecuali orang orang yang memenuhi empat syarat, yaitu; iman, amal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran. Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Miftahu Daris Sa’adah” menambahkan jikalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, hasillah tujuannya menuju kesempurnaan hidup. Pertama: mengetahui kebenaran. Kedua: Mengamalkan kebenaran. Ketiga: Mengajarkannya kepada orang lain. Keempat: Sabar didalam menyesuaikan diri dengan kebenaran, mengamalkan dan mengajarkannya. Dan keempat tersebut terkandung dalam surat al-Ashr.
Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ulama membagi ajaran agama kepada dua sisi, yakni pengetahuan dan pengamalan. Akidah yang wajib diimani merupakan sisi dari pengetahuan, sedangkan syariat merupakan sisi dari pengamalan. Oleh karena itu Allah sering menyandingkan antara Iman dan amal sholeh
Dalam kandungan surat al-Ashr, berakidah dan beramal saleh tidaklah cukup. Seorang harus mampu saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Hendaknya manusia saling mengingatkan tentang wujud, kuasa dan keesaaan Allah, mengingatkan tentang ajaran agama yang benar. Butuh akan nasehat kebenaran dari orang lain bukan menggandalkan kebenaran diri semata.
Selanjutnya manusia juga harus saling menasehati tentang kesabaran, sabar dari menghadapi gejolak nafsu. Sabar apabila ditimpa sesuatu musibah, sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginanya dan sabar dari apa yang sejalan dengan keinginanya. Apabila diberi musibah cobaan tetap tabah menerima dan tidak menyalahkan takdir Allah, dan sabar apabila diberi kenikmatan berupa harta, jabatan, kesehatan agar tidak terlena dan menggunakan dengan semestinya.
Refleksi Tahun Baru
Seharusnya manusia memaknai pergantian tahun baru dengan merefleksikan ajaran-ajaran dalam surat al-Ashr. Jikalau manusia mampu mempraktekkannya maka ia tidak akan berada dalam kerugian. Sebaliknya, jikalau pergantian tahun baru hanya dimaknai sebagai perayaan kembang api, pesta makan-makan atau kesenangan lainnya maka orang tersebut akan berada dalam kerugian karena tidak mengoptimalkan pemanfaatan waktu. Sebagaimana ungkapan Arab
رب مسرؤر مغبونو ورب مغبون لا يشعر
“Betapa banyak orang yang bersenang-senang, tetapi sejatinya ia dalam kerugian, dan betapa banyak orang yang merugi namun tidak menyadarinya”.
Karena kita hidup didunia ini hanyalah berjalan melewati hari-hari, dan bengukir mimpi didalamnya. Jikalau langkah hidup dan mimpi-mimpi kita dapat kita arahkan dalam kebaikan maka kita akan terus dalam kebaikan, sebaliknya jikalau langkah hidup dan mimpi kita kita arahkan dalam keburukan maka kita akan dalam keburukan. Maka sangatlah beruntung orang yang dapat memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.
Penyunting: Ahmed Zaranggi




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.