Seiring dengan banyaknya problematika yang dialami oleh seseorang, terkadang seseorang berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Hal ini disebabkan rasa putus asa yang tertanam pada diri seseorang ketika ia terus-menerus menghadapi kesulitan. Rasa sedih, frustasi, dan kecewa pun tak jarang ikut menemani.
Sebagian orang mengira bahwa dengan bunuh diri, maka semua masalah yang ia alami dalam hidup akan hilang begitu saja. Mereka menganggap bahwa keberadaan mereka di dunia ini merupakan sumber dari segala masalah itu sendiri. Pandangan seperti ini merupakan pandangan yang keliru disebabkan karena lemahnya pemahaman dan kurangnya wawasan.
Penulis sendiri termasuk di antara orang yang berpikir untuk bunuh diri. Penulis sempat berpikir bahwa semua problematika akan sirna sejalan dengan jiwa yang menghilang. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Bunuh diri tidak lain hanyalah membuka lembaran-lembaran masalah baru pada kehidupan sesudah kematian.
Diturunkan ratusan tahun lalu, Al-Qur’an memiliki perhatian yang sangat mendalam tentang problematika bunuh diri. Selain menyinggung tentang larangan bunuh diri dan azab terhadap orang yang melakukannya, Al-Qur’an juga memiliki banyak motivasi yang menjawab problematika bunuh diri dan keputusasaan. Terdapat banyak ayat yang membahas hal ini.
Larangan Bunuh Diri di dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat al-Baqarah,
“Dan janganlah engkau menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan; dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” [QS. al-Baqarah: 195]
Ayat di atas tidak hanya membahas tentang larangan untuk menyakiti diri sendiri, namun juga memberikan motivasi untuk berbuat baik. Sedang orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikan tidak lain adalah diri sendiri. Bagaimana bisa seseorang selalu berbuat baik kepada orang lain, namun ia justru memilih untuk menyakiti dirinya sendiri? Mestinya ia peduli terhadap kondisi dirinya sendiri sebelum ia memilih perhatian terhadap orang lain.
Selain itu, Allah juga memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan cinta Allah. Barang siapa mendapatkan cinta Allah, maka ia tidak membutuhkan apa pun selainnya karena cinta Allah merupakan dambaan bagi setiap hamba. Oleh karena itu, wajib setiap orang yang berbuat baik untuk mengikhlaskan niatnya untuk menggapai cinta Allah semata.
***
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Surat an-Nisa’,
“Dan janganlah engkau membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Barang siapa berbuat demikian dengan melanggar dan aniaya, maka Kami akan memasukannya kelak ke dalam api neraka.” [QS. an-Nisa’: 29-30]
Ayat ini berisi larangan dan ancaman yang sangat keras terhadap orang yang ingin bunuh diri. Allah mengancam orang-orang yang ingin bunuh diri dengan hukuman api neraka. Namun di sisi lain, Allah juga tetap mengabarkan bahwa Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Ayat ini mengabarkan bahwa setiap orang yang hidup berada di bawah kasih sayang Allah, maka mereka tidak boleh menyia-nyiakannya dengan melakukan bunuh diri.
Selain itu, dari ayat ini kita menyadari bahwa perbuatan bunuh diri bukanlah perbuatan yang dapat mengakhiri masalah-masalah yang ada. Akan tetapi, perbuatan tersebut justru membukakan pintu-pintu masalah baru. Allah mengancam orang-orang yang ingin bunuh diri dengan ancaman api neraka. Maknanya, orang-orang yang bunuh diri akan mendapatkan siksaan yang amat pedih pada kehidupan akhirat.
Motivasi Al-Qur’an untuk Tidak Berputus Asa
Terdapat banyak ayat yang berisi motivasi untuk tidak berputus asa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: Wahai, hamba-hambaku yang berbuat zalim pada diri mereka sendiri. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. az-Zumar: 53]
Pada ayat ini Allah memberikan gambar gembira bahwa sebanyak apa pun dosa yang diperbuat oleh seorang hamba, rahmat Allah jauh lebih luas dibanding dosa tersebut. Oleh karena itu, tidak perlu berputus asa, apalagi bunuh diri. Para ulama bahkan mengatakan bahwa berputus asa karena dosa itu dosanya lebih besar dibanding dosa itu sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan. Maka, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.” [QS. asy-Syarh: 5-6]
Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa setiap kesulitan yang diderita oleh setiap orang, terdapat kemudahan di dalamnya. Allah menguji setiap hamba-hamba-Nya dengan kesulitan, kemudian Allah memberikan berbagai macam kemudahan di dalamnya.
***
Ayat-ayat ini berisi renungan yang sangat mendalam. Ketika seseorang tengah menghadapi kesulitan, kemudian ia menyadari bahwa masih banyak orang yang mengalami masalah yang lebih sulit darinya dan ia menyadari besarnya pahala yang ia dapatkan ketika menghadapi kesulitan, maka ia akan menyadari akan banyaknya kemudahan yang ia alami dan ia semakin termotivasi untuk tidak berputus asa.
Kemudahan dan kesulitan merupakan episode kehidupan yang silih berganti ditemui oleh setiap insan. Setiap manusia memiliki jatah kesulitan dan kemudahan serta waktunya masing-masing. Sebagaimana dahulu para nabi dan orang-orang saleh diuji dengan berbagai macam kesulitan, sesudah itu Allah bukakan kepada mereka kemudahan dan kemenangan sesudah mereka bersabar di dalam penantian.
Dengan memahami perkara ini, maka kita semua akan mengetahui bahwa bunuh diri justru menutup pintu kemudahan dan kemenangan, membuka pintu azab, dan makin menambah masalah yang ada. Setiap kesulitan yang ada pasti terdapat kemudahan di dalamnya. Cukup bagi kita untuk bersabar dalam menghadapinya hingga Allah menetapkan takdir yang lain kepada kita.
Wallahu a’lam.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply