Sifat teks dalam pandangan Julia Kristeva hakikatnya tidak bisa berdiri sendiri. Pemikiran semacam itu dipengaruhi oleh tiga tokoh yakni Sigmund Freud, Roland Barthes, dan Jacques Lacan. Sehingga gayanya masuk pada kategori post-structuralism dimana pandangan dalam filsafat yang melihat segala sesuatu lahir secara tidak pasti atau lebih tepatnya tidak percaya dengan pola yang pasti. Dengan demikian, adanya suatu teks pasti berhubungan dengan teks-teks yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Julia Kristeva adalah seorang perempuan yang multibidang, beberapa julukan pada dirinya meliputi seorang filosof, kritikus, novelis, sastra, ahli psikologi, bahkan feminisme. Lahir di Bulgaria pada tahun 1941 dan pada tahun 1973 meraih gelar doktor dalam bidang linguistik. Sehingga satu tahun kemudian menjadi seorang profesor fakultas linguistik di Universitas Paris VII-Denis Diderot. Menurutnya dunia manusia selalu berubah, sehingga memunculkan makna yang berbeda. Dalam konsepnya juga tertanam bahwa semua diberlakukan sebagai teks, maka layak untuk dibaca, dipahami, dan ditafsirkan.
Teori Intertekstualitas Julia Kristeva
Pada dasarnya Julia Kristeva mempunyai beberapa teori untuk ditawarkan dalam menanggapi ketidakpuasan terhadap teori-teori sebelumnya. Akan tetapi, teori yang berhubungan dengan teks dapat diambil melalui teori intertekstualitas untuk menghadirkan teks luar. Sehingga dapat mengemukakan maksud teks yang diteliti dengan jangkauan yang lebih luas. Secara umum teori intertekstualitas mengasumsikan adanya teks mesti terpengaruh oleh teks-teks lain, dengan begitu dapat dianologikan teks tersebut telah terjadi dialog satu dengan lainnya yang akhirnya menjadi ketersinambungan.
Terjadi pemikiran seperti itu, karena asumsi dasarnya adalah setiap teks adalah mozaik kutipan-kutipan. Dalam hal ini menulis sebuah karya, pastinya pengarang akan mengambil partikel-partikel dari teks lain untuk diolah ataupun diproduksi sehingga memunculkan warna yang baru baik penambahan, pengurangan, bahkan penentangan sesuai kreativitas pengarang baik secara sadar maupun tidak sadar. Kendati demikian, sebuah teks pasti mempunyai keterkaitan dengan teks lain yang kemunculannya lebih dahulu. Lebih lanjut, kristeva juga mempunyai pandangan bahwa sebuah teks mempunyai kaitan dengan teks sosial, budaya, dan sejarah. Dengan begitu kaitannya ketika mengkaji teks sebagai intertekstualitas, maka menempatkan teks tersebut dalam ranah sosial dan historis.
Teori Intertekstualitas Julia Kristeva Dalam Kajian Al-Qur’an
Adapun untuk mengidentifikasi pada perubahan teks dalam menerapkan teori intertekstualiats, Kristeva melahirkan setidaknya sembilan prinsip yang menjadi kaidah pembacaan intertekstualnya. Yakni prinsip transformasi bahwa pemindahan, penjelmaan suatu teks dengan teks lain. Prinsip modifikasi dengan ini pengarang membuat perubahan terhadap teks. Prinsip ekspansi, pengarang membuat pengembangan terhadap suatu teks.
Prisip haplologi adalah proses pengurangan atau proses pemilihan yang bertujuan untuk menyesuaikan teks. Prinsip demitefikasi yaitu bermaksud menentang pengertian dalam teks sebuah karya yang muncul lebih awal. Prinsip parallel bahwa antara satu teks dengan teks yang lain mempunyai persamaan baik dari segi tema, pemikiran, bahkan bentuk teks itu sendiri. Tetapi disini pengarang harus menyertakan sumber supaya tidak dianggap sebagai plagiasi. Prinsip konversi yakni terdapat pertentangan teks yang dikutip. Prinsip eksistensi adalah unsur-unsur yang dimunculkan dalam sebuah teks berbeda dengan teks hipogramnya. Yang terakhir adalah prinsip defamilirasi bahwa perubahan teks dari segi makna ataupun karakter dalam teks.
Hubungannya Dalam Kajian Al-Qur’an
Dalam kajian intertekstual Julia Kristeva yang telah ditawarkan, pada dasarnya memang tidak ada kaitannya dengan kajian al-Qur’an. Tetapi mempunyai relevansi terhadap kajian studi al-Qur’an kontemporer. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berada dalam budaya tertentu. Artinya al-Qur’an tidak turun dalam ruang dan waktu yang hampa, al-Qur’an hadir di tengah masyarakat yang mempunyai warisan dan budaya tertentu.
Kendati demikian, kajian intertekstual tersebut dapat memberikan ruang komunikasi ataupun dialog antara al-Qur’an dengan wacana dan budaya saat itu. Sehingga dalam hal ini mengkaji al-Qur’an dengan intertekstual berarti menghidupkan al-Qur’an pada masanya dan memotret keterkaitan al-Qur’an dengan luar dirinya. Implikasinya dari kajian intertekstual adalah al-Qur’an didekati dengan melalui pendekatan sastra dan historis. Selanjutnya analisis dalam struktur-struktur teks merupakan langkah awal sebelum teks dikaitkan dengan kesejarahannya.
Al-Qur’an telah dipandang sebagai teks yang hidup pada waktu tertentu, hal ini bukan teks beku sebagai mushaf. Oleh karena itu, perlunya al-Qur’an diperbandingkan menggunakan unspoken text yang bertujuan menggali pesan yang ingin disampaikan al-Qur’an dengan retorikanya yang berbeda. Penulis memandang bahwa teori intertekstual Julia Kristeva dalam kajian al-Qur’an dapat membuka cakrawala baru sebagai perluasan mencari informasi terhadap teks, sehingga memunculkan molekul-molekul pengetahuan ataupun pemahaman yang lebih luas, supaya tidak terjadi kejumudan dalam berfikir dan dapat berkembang dalam studi al-Qur’an kontemporer. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.