Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 41-43: Beberapa Peringatan

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Kemudian dijelaskan lagi oleh Tuhan:

“Dan percayalah kamu kepada apa yang Aku turunkan.” (pangkal ayat 41).

Yaitu al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.

Yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu.”

, yaitu kitab Taurat.

Jika kamu tilik kembali isi Taurat, yang memerintahkan kamu percaya kepada Allah Ta’ala atau Allah Yang Esa, jangan membuat berhala untukNya, dan hendaklah hormat kepada ibu bapamu, jangan berzina, jangan mencuri, jangan naik saksi dusta, niscaya kamu akan mengakui kebenaran al-Quran yang memang itu pulalah pokok ajaran yang dibawanya.

“Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang mula-mula mengkufurkannya.”

Karena kalau kamu kufuri, kamu tolak dan kamu tentang al-Quran itu, berarti kamu menentang Kitab yang ada dalam tanganmu sendiri:

“Dan janganlah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit.”

Artinya, karena mengharapkan kemegahan, lalu kamu dustakan kebenaran ayat Allah. Berapapun pangkat yang kamu dapat lantaran mendustakan kebenaran, namun itu masihlah harga yang sedikit jika dibandingkan dengan kerugian rohani yang kamu dapat.

 “Dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu bertakwa.” (ujung ayat 41).

Artinya semata-mata perhubungan dengan Allahlah yang patut kamu pelihara dan perbesarlah perasaan tanggung jawabmu dengan Tuhan. Karena kesegananmu menerima kebenaran, lain tidak hanyalah karena kamu hendak memelihara perhubungan dengan kepala-kepala dan ketua-ketua kamu, padahal kepala-kepala dan ketua-ketua itu tidak akan dapat melepaskan kamu dari pada bahaya yang akan ditimpakan Allah kepada kamu.

***

“Dan janganlah kamu campur-adukkan yang benar dengan yang batil dan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” (ayat 42).

Di dalam catatan Kitab Taurat telah diperingatkan bahwa seorang Rasul akan datang dari kalangan saudara sepupu mereka Bani Ismail. Tanda-tandanya sudah jelas dan sekarang tanda itu sudah bertemu. Tetapi pemuka-pemuka agama mereka melarang pengikut mereka percaya kepada Rasul s.a.w. karena kata mereka dalam Kitab-kitab Nabi-nabi mereka itu tersebut juga bahwa akan ada Nabi-nabi palsu.

Baca Juga  Tafsir QS An-Nisa’ Ayat 125: Sejarah Pensyari’atan Praktik Khitan

Lalu mereka katakan kepada pengikut-pengikut itu bahwa ini adalah Nabi palsu. Bukan Nabi yang dijanjikan itu. Kalau pengikut mereka datang bertanya, mereka sembunyikan kebenaran, dan kitab mereka sendiri mereka tafsirkan lain dari maksudnya semula, padahal mereka telah mengetahui bahwa memang Muhammad s.a.w. itulah Nabi dari Bani Ismail yang ditunggu-tunggu itu. Untuk mempertahankan kedudukan, mereka telah sengaja mencampur-adukkan yang benar dengan yang salah, dan menyembunyikan yang sebenarnya.

***

Ayat 41 untuk peringatan bagi orang-orang awam mereka dan ayat 42 untuk peringatan bagi pemuka-pemuka agama mereka.

“Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan ruku’lah bersama-sama orang-orang yang ruku’.” (ayat 43).

Setelah diperingatkan kepada mereka kesalahan-kesalahan dan kecurangan mereka yang telah lalu itu, sekarang mereka diajak membersihkan jiwa dan mengadakan ibadat tertentu kepada Allah, dengan mengerjakan sembahyang, dan mengeluarkan zakat.

Dengan sembahyang, hati terhadap Allah menjadi bersih dan khusyu’ dan dengan mengeluarkan zakat, penyakit bakhil menjadi hilang dan timbullah hubungan batin yang baik dengan masyarakat, terutama orang-orang fakir-miskin, yang selama ini hanya mereka peras tenaganya, dan mana yang terdesak mereka pinjami uang dengan memungut riba.

Apabila Tuhan Allah telah memerintahkan supaya iman kepada keesaan Allah itu lebih didalamkan dengan mengerjakan sembahyang, kemudian dengan mengeluarkan zakat, maka akan tumbuhlah iman itu dengan suburnya. Karena ada juga orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tetapi dia malas sembahyang.

Berbahayalah bagi iman itu, karena kian lama dia akan runtuh kembali. Dan hendaklah dididik diri bermurah hati dengan mengeluarkan zakat; karena bakhil adalah musuh yang terbesar dari iman. Apabila berperangai bakhil, nyatalah orang itu tidak beriman!

Kemudian mengapa disuruh lagi ruku’ bersama dengan orang yang ruku’? Tidakkah cukup dengan perintah sembahyang saja? Apakah ini bukan kata berulang?

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 1

Bukan! Ada juga orang yang berfaham bahwa asal aku sudah sembahyang sendiri di rumahku, tidak perlu lagi aku bercampur dengan orang lain. Itulah yang salah! Sembahyang sendiripun belum sempurna, tetapi ruku’lah bersama-sama dengan orang yang ruku’, bawalah diri ke tengah masyarakat. Pergilah berjamaah!

Maksud yang kedua, arti ruku’ ialah khusyu’. Jangan hanya sembahyang asal sembahyang, sembahyang mencukupi kebiasaan sehari-hari saja, tidak dijiwai oleh rasa khusyu’ dan ketundukan.

Inilah yang diserukan kepada Bani Israil itu yakni agar mereka teruskan saja agama yang diajarkan Musa kepada lanjutannya, yaitu yang diteruskan oleh Muhammad s.a.w. agar mereka menjadi Muslim, menyerah diri kepada Tuhan, dan hiduplah sebagai Muslim yang sejati.

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura