Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 101-113 (1): Sikap Eksklusif Ahlul Kitab

Tanwir
Sumber: Youtube/Suara Muhammadiyah TV

(111) Dan mereka ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nas- rani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti ke- benaranmu jika kamu orang yang benar” (112) Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (113) Orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pe- gangan),” dan orang-orang Nasrani (ju- ga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, ber- kata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.

Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Islam tentang sikap yang harus dimiliki dalikan diri dengan memberi maaf yaitu harus ada kemampuan mengendalikan dan berlapang dada. Demikian juga selalu konsisten melaksanakan ajaran ketenangan jiwa. Pada ayat-ayat ini Allah memberikan informasi tentang ahlul kitab yang mengklaim bahwa berhak masuk surga. Pendapat mereka hanyalah angan-angan karena tidak memberikan tuntunan kepada umat, mereka untuk menghadapi ahlul kitab dan berlapang dada, demikian juga agama seperti shalat dan zakat.supaya memperoleh keteguhan pendirian dan merekalah yang paling benar dan mempunyai landasan dan argumen yang benar

Kata hûd, berarti “orang yang mengikuti agama Yahudi”. Yahudi adalah nama salah seorang putra Nabi Yakub yang dalam bahasa Ibrani disebut Ya- hoza, sedangkan Nabi Yakub sendiri diberi gelar Israil. Setelah Nabi Sulaiman wafat tahun 975 SM, kata Yahud dikenal sebagai gelar bagi orang-orang yang mengikuti ajaran Taurat.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 8-9: Sifat Orang Munafik

Kata Nashara ( نصاری ) bentuk jamak (plural) dari kata nasiri, atau dari kata Nazareth, dinisbahkan kepada tempat nabi Isa dibesarkan. Para pengikut Nabi Isa akhirnya disebut kaum Nashârâ. Nashârâ dalam ayat di atas ditujukan kepada pengikut Isa yang sudah menyimpang dari ajaran Isa yang sebenarnya.

Ayat 111 menginformasikan bahwa ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) masing-masing menganggap kalau surga Allah bagi mereka. Ini tentu anggapan yang keliru. Allah mengungkapkan hal tersebut dengan kalimat tilka amâniyyuhumi harapan yang tidak akan terwujud. jamak dari Pat yang berarti suatu تلك أمانيهم . Kata الأماني adalah bentuk jamak dari amniyyah yang berati suatu harapan yang tidak akan terwujud. (Al- Alusi, Rúh al-Ma’âni, hlm. 359).

Untuk membatalkan anggapan mereka yang sangat keliru tersebut, Allah memberikan penegasan bahwa hal itu hanyalah angan-angan dan khayalan mereka, tanpa didasarkan kepada buktibukti yang benar dan rasional. Untuk membuktikan kebohongan mereka, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menantang mereka dengan mengatakan “Qul hâtu burhânakum in kuntum shâdiqînl (tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kalian orang yang benar)”.

Selanjutnya, pada ayat 112, Allah menegaskan dengan memberikan pernyataan bahwa siapa saja yang beriman dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, lalu dibuktikannya keimanan tersebut dengan berbuat baik (amal shalih), maka Allah tidak menyia-nyiakan amal shalih tersebut dengan memberikan pahala. Ayat ini merupakan penegasan akan perlunya keikhlasan dalam beramal karena maksud kalimat man aslama wajhahu akan masuk surga itu adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah, tunduk dan ikhlas. (Muhammad Ali alShabûnî, Shafwah at-Tafâsîr)

Bersambung

Tafsir Tahilly Ini disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan naskah awal disusun oleh Prof DR Rusydi AM

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 4-5: Percaya Kepada Nabi Muhammad

Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah SM Edisi No.18 tahun 2014