Tafsir Al-Qur’an mengalami format baru. Kita dapat menemukan hal tersebut dari maraknya kajian keislaman di media podcast, media sosial, atau kanal digital lainnya. Saat ini, tafsir tidak hanya dibaca di ruang pesantren, tetapi juga hadir dalam konten viral, debat daring, serta diskusi populer. Dalam hal ini, pemikiran Ignaz Goldziher tetap relevan untuk memahami perkembangan tafsir serta penggunaannya dalam konteks modern.
Goldziher dan Karyanya di Bidang Tafsir
Ignaz Goldziher merupakan tokoh orientalis asal Hungaria dengan karya monumentalnya Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung (Arah-arah Penafsiran Islam terhadap Al-Qur’an). Dalam karyanya tersebut, ia mengklasifikasikan corak penafsiran berdasarkan teologis, konteks sosial, dan politik.[1]
Meskipun Ignaz Goldziher berlatar belakang budaya Yahudi-Hungaria dan bukan bagian dari tradisi Islam, namun ia melahirkan pendekatan yang kritis terhadap tafsir dan hadis. Pendekatan tersebut masih menjadi rujukan utama dalam kajian orientalis Islam sampai saat ini.
Goldziher berpendapat bahwa tafsir bukan sekedar makna netral terhadap suatu teks. Sebaliknya, tafsir justru mencerminkan konteks sosial, politik, dan teologis pada masa mufasir itu hidup. Dalam karyanya yang telah saya sebutkan sebelumnya, ia mengklasifikasikan tafsir berdasarkan aliran, yaitu; tafsir riwayat, rasional, teologis, mistis, dan politis. Pada buku ini, ia menggambarkan hubungan erat antara tafsir dan masyarakat kontemporer yang melihat tafsir sebagai produk budaya.
Goldziher juga skeptis terhadap keaslian riwayah (bi al-ma’tsur). Ia mempertanyakan kekokohan sanad dan menyebut banyak riwayat sebagai kontribusi mufasir generasi selanjutnya. Ia menyamakan riwayat-riwayat bermasalah dengan upaya merekayasa teks untuk mendukung kepentingan ideologis atau sektarian.
Respons al-Maraghi terhadap Die Richtungen der Islamic
Pandangan yang ada dalam karya Die Richtungen der Islamic mendapat kritik dari kalangan muslim, seperti al-Maraghi. Mufasir ini menyoroti pernyataan Ignaz yang menyatakan bahwa praktik-praktik keagamaan Islam adalah salinan dari kegiatan ritual orang Yahudi-Kristen.
Maksud dari praktik tersebut di antaranya ialah cara bersujud dan bersyukur, perintah puasa, dan tindakan lainya. Hal ini dilatarbelakangi oleh pendekatannya yaitu Historical Criticism, yang ia terapkan dalam mempelajari Islam. Dengan kata lain, Ignaz menyimpulkan bahwa agama Islam memiliki kesamaan pada ritual agama lain di luar Islam.
Al-Maraghi pun mengkritik pemikiran Goldziher di atas. Dalam tafsirnya pada QS. As-Syura ayat 13, beliau menyampaikan bahwa Allah mengisyaratkan pada umat manusia untuk mengikuti seluruh ajaran nabi. Setiap nabi diperintahkan untuk memperkuat agama Islam dengan menggunakan hukum serta peraturan yang sama meskipun dalam jangka waktu yang berbeda. Hal ini termasuk kepercayaan kepada Allah, malaikat, hari akhir serta tindakan baik lainnya.
Penafsiran al-Maraghi pada ayat ini menjelaskan rangkaian agama yang didahului dengan kemunculan Kristen setelah Yahudi, sedangkan Islam datang setelah Kristen. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah ajaran yang datang terakhir dengan mengadopsi ajaran pada agama sebelumnya. Eksistensi Yahudi-Kristen merupakan teologi yang berasal dari nabi-nabi utusan Allah, yaitu Nabi Musa dan Nabi Isa. Padahal, mengimani nabi merupakan salah satu ajaran Islam dan menjadi bagian dari rukun iman.[2]
Goldziher dan Paradigma Tafsirnya
Pada penafsiranya, Goldziher melihat bahwa penafsiran selalu terpengaruh oleh ideologi, konteks sejarah, serta kepentingan politik mufasir (tafsir sektarian). Pada konteks ini, tafsir merupakan produk budaya, bukan hasil pemahaman suatu teks saja. Baginya, tafsir juga hasil dari interaksi antara teks dan sosial.
Kehadiran penafsiran seperti ini akan terus bermunculan untuk menjawab ketidakpuasan mufasir terhadap penafsiran sebelumnya. Penafsiran ini muncul dengan adanya pengaruh budaya serta latar belakangnya. Tidak selamanya tafsir sektarian dianggap negatif, karena budaya yang mengelilingi mufasir tidak harus memaksa teks Al-Qur’an sesuai dengan keinginannya.[3]
Konsep tersebut sangat relevan dengan era modern saat ini. Di zaman modernisasi ini, kita melihat bahwa satu ayat bisa penafsiran nan majemuk di berbagai platform digital. Hal seperti ini tidak jauh dari apa yang sudah goldziher bahas dahulu, di mana ia menyatakan bahwa tafsir selalu mengikuti zaman.
Relevansi Pemikiran Tafsir Goldziher di Era Modern
Pemikiran tafsir Ignaz Goldziher membantu kita berpikir kritis dalam membaca serta menerima suatu penafsiran. Penting bagi kita untuk menyadari juga siapa yang menafsirkan, dalam konteks apa serta, serta dengan tujuan apa penafsiran tersebut.
Seperti contoh, seorang ustaz menafsirkan suatu ayat untuk mendukung partainya. Maka, kita berhak bertanya-tanya apakah ayat ini ditafsirkan untuk suatu kepentingan? Atau mufasir tersebut hanya menggiring opini terhadap satu pihak? Adapun ketika seseorang menafsirkan ayat untuk menyerang kelompok lain, kita bisa mempertanyakan, “Apakah tafsir ini bersifat adil dan damai atau justru memecah belah umat islam?” Di era sekarang ini, siapapun bisa menjadi penafsir melalui media sosial.
Untuk itu, kita perlu bijak dan kritis dalam memahami sebuah penafsiran. Jangan langsung percaya, namun pelajari, bandingkan, serta pahami konteksnya, apakah tafsir tersebut membawa kebaikan atau justru memberi perpecahan. Dengan memahami pandangan Goldziher, kita tidak hanya belajar mengenai tafsir. Nmaun, kita juga belajar menjadi muslim yang berpikir dewasa, terbuka, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Editor: Dzaki Kusumaning SM
Referensi
[1] Zubaidi dan Nuriyah, “Hadis Sebagai Produk Budaya dan Tradisi Islam Awal(Studi Kritik atas Pemikiran Ignaz Goldziher”, Al-Isnad: Journal of Indonesian Hadist Studies, 2023, h. 75.
[2] Fitri Apriyani, Muhammad Nur Amin, dkk, “Kritik Al-Maraghi atas Pendapat Ignaz Goldziher dalam Buku Introduction to Islamic Theology and Law”, Jurnal Tajdid, 2023, h. 63-65.
[3] Mawardi, “Subjektivitas dalam Penafsiran Al-Qur’an: Fenomena Tafsir Bercorak Sektarian”, Jurnal At-Tibyan, 2018, h. 127.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.