Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Surat Lukman Ayat 18: Jangan Sambong Di Muka Bumi

sombong
Sumber: https://intisari.grid.id/

Di dalam tubuh manusia terdapat bagian pusat yang bertugas mengatur bagian tubuh yang lain. Baik buruknya perilaku manusia tergantung dari bagian pusat ini. Apabila bagian ini baik maka perilaku seseorang akan baik. Namun apabila bagian ini buruk maka perilaku seseorang ini juga akan buruk. Bagian yang mengatur dan menentukan perilaku manusia ini disebut dengan hati.

Definisi Sombong

Sombong secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu takabbara. Sedangkan dalam Al-Qur’an selain takabbara kata sombong ada beberapa macam. Di antaranya adalah muthal dan fakhur, artinya sombong serta membanggakan diri. Secara terminologis, sombong adalah tingkah laku dan sifat yang cenderung memuji, membesarkan dan memandang dirinya sendiri sebagai makhluk yang berada di atas orang lain.

Adapun menurut A. Mudjab Mahalli, sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan sesama manusia. Kemudian disertai dengan anggapan bahwa dirinya memiliki kecerdasan dan kepandaian yang lebih. Serta merasa bahwa derajat dan martabatnya lebih tinggi dari orang lain. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 18 yang berbunyi:

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tiga Macam Sombong

Perbuatan sombong dibagi menjadi beberapa tingkatan. Pertama, kesombongan terhadap Allah Swt. merupakan yang paling buruk dan dilakukan mereka yang bodoh dan membangkang. Seperti kisah raja Namrud atau Fir’aun. Fir’aun dengan kesombongannya berkata “aku adalah tuhan kalian yang paling tinggi”. Artinya ia menolak sebagai hamba Allah. Kedua, sombong terhadap Rasul. Merasa dirinya mulia, sehingga tidak pantas untuk mengikuti para Rasul yang mereka anggap seperti manusia biasa.

Baca Juga  Rekonstruksi Kedudukan Perempuan Pasca Kedatangan Al-Qur'an

Kesombongan seperti ini terkadang memalingkan pikirannya yang jernih sehingga terpuruk kepada gelapnya kebodohan. Hingga mereka menolak seruan para Rasul dengan mengira mereka lebih berhak menjadi Nabi dan Rasul.

Adapun yang ketiga, sombong terhadap sesama manusia. Ketika seseorang yang memuliakan dirinya sendiri dan menganggap orang lain hina, tidak mau mematuhi orang lain, ingin selalu berada diatas orang lain, meremehkan, dan merendahkan orang lain. Kesombongan seperti ini meskipun berada di bawah poin bertama dan kedua, akan tetapi tetap dikategorikan dosa besar, karena kesombongan, memuliakan dan mengagungkan diri sendiri.

Apa Yang Disombongkan?

Apa yang mereka sombongkan? Sesungguhnya ketika seseorang menyombongkan diri, maka ia seakan-akan melepaskan keagungan Allah untuk ia kenakan. Banyak yang dapat dimunculkan dari dalam hati manusia, baik yang muncul dari sisi keagamaan, keilmuan maupun keduniaan. Antara lain disebabkan karena ilmu, ibadah, nasab rupa, kekayaan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain.

Kesombongan ini muncul akibat merasa dirinya lebih hormat, lebih baik dan merendahkan orang lain. Sehingga tidak mau patuh kepada mereka dan tidak mau sejajar dengan mereka. Oleh karena itu ada baiknya setiap apa yang ada pada diri ini disandarkan dan kembalikan kepada Allah Swt bahwa semua ini tidak akan ada jika tanpa izin dan kehendak-Nya.

Dengan demikian bahaya sombong menurut Al-Qur’an layaknya sebuah penyakit yang sesungguhnya lambat laun akan menyerang fisik insan manusia. Penyakit sombong ini merupakan penyakit hati yang lama kelamaan akan memberikan gangguan-gangguan pada penderitanya. Di antara adalah tidak suka dikritik karena merasa bahwa dirinya sudah sempurna. Juga merasa paling benar kerena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dari pada orang lain.

Baca Juga  Tanwir dan Intelektualisme Tafsir Kaum Muda

Kesimpulan

Dibenci Allah Swt karena kesombongan akan menghapus nilai-nilai kebaikan, menjauhkan diri dari sifat tawadhu’, menumbuhkan kedengkian, kemarahan, cibiran, gunjian dan menjauhkan diri dari kejujuran. Menolak kebenaran karena kesombongannya telah menutup mata hatinya sehingga peringatan dari Al-Qur’an dan hadis pun tak lagi dihiraukan apalagi nasehat orang-orang disekelilingnya. Mereka khawatir dengan harga diri mereka jatuh padahal anggapan seperti itu adalah desas desus iblis yang dibisikkan kepada hati orang yang sombong.

Adapun faktor munculnya kesombongan menurut Al-Qur’an adalah membanggakan diri, merendahkan orang lain, menonjolkan diri, memperturutkan hawa nafsu. Maka dari itu Allah melarang kita bersikap sombong atau angkuh. Karena Allah membenci orang-orang yang sombong seperti yang sudah disebutkan dalam surat Lukman ayat 18. Kita sebagai manusia harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah, berupa kesehatan, akal, kekayaan dan lain sebagainya. Maka dari itu hal tersebut tidak boleh menyombongkannya. Kita harus tetap bersyukur.