Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Surat Al-Qashash 26: Dua Kriteria Pekerja Yang Ideal

Sumber: https://www.forbes.com

Menilik ragam kisah dalam Al-Qur’an akan membawa nuansa religiusitas tersendiri bagi pengkajinya. Mengingat, kisah Al-Qur’an relevan dengan setiap zaman. Satu dari kisah tersebut adalah kisah Nabi Musa as. Kisah ini membawa pesan serta ibrah (manfaat) berkaitn dengan kriteria pekerja ideal yang dilukisakan kitab suci Al-Qur’an.

Dalam hal ini, surah Al-Qashash ayat 26. Oleh karenanya menurut hemat penulis, penting untuk dibahas dalam konteks era kekinian. Sebagaimana bahwa sektor pekerja yang memilki integritas acapkali menjadi residu tersendiri di dunia perniagaan. Bahkan seakan-akan jauh dari nilai-nilai nuansa religiusitas kitab suci Al-Qur’an itu sendiri, berikut ulasanya:

Kisah Nabi Musa Dan Dua Putri Nabi Syuaib

قَالَتْ اِحْدَاهُمَا يآَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

Artinya: “Salah seorang dari kedua gadis itu berkata: “wahai ayahku, gunakanlah orang ini sebagai pembantu kita. Sebab, sebaik-baik orang yang engkau jadikan untuk membantu kita dengan mendapatkan upah adalah orang yang kuat, lagi terpercaya”.

Dalam ayat ini, dikisahkan bagaimana seorang gadis meminta kepada ayahnya, yaitu untuk mempekerjakanya. “wahai ayah, ajaklah pemuda itu supaya berkenan mengurusi kambing-kambing kita. Dikarenakan pemuda tersebut, merupakan seorang yang kuat lagi terpercaya. Berikut berikanlah upah imbalan kepadanya.  (Ashiddieqy, 2000)hlm. 3059

Dari lontaran ucapan gadis tersebut. Berdasarkan tafsir al-Munir karya Wahabah Az-Zuhaili, bahwasanya salah seorang gadis tersebut mengkategorisasikan Nabi Musa as, sebagai sosok pekerja yang paling utama. Yakni menyifati Nabi Musa as dengan dua sifat. Pertama, kuat dalam melaksanakan perintah. Kedua, amanah dalam menjaga sesuatu. Lantas, kemudian ayahnya pun bertanya, lantas dari mana engkau mengetahui sifat-sifat laki-laki tersebut, wahai putriku?

Baca Juga  Mengenal Mullā Ṣadrā Sebagai Mufasir Al-Qur’an

Dua Kriteria Pekerja Ideal

Lantas kemudian putrinya menjawab. Pertama, laki-laki tersebut mampu mengangkat batu berukuran amat besar, yang mestinya hanya mampu diangkat oleh sepuluh orang laki-laki. Kedua, ketika beranjak menuju arah pulang, kami didepanya sebagai pemandu arah jalan pulang. Namun seketika lekuk tubuh kami terlihat secara tidak sengaja dikarenakan angin berhembus cukup kencang. Lantas, kemudian pria itu meminta kami berjalan dibelakangnya. Lalu, apabila salah jalan, tuturnya, lemparkanlah kerikil supaya diketahui jalan yang ditujunya. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir al-Munir. Bahwa nama kedua gadis tersebut, yaitu Shafuriya dan Layya (az-Zuhaili, 2013)hlm.370

Mengenai serangkaian kisah yang cukup menarik di atas, Abdullah bin Mas’ud berkata;’’ orang yang paling bagus firasatnya ada tiga. Pertama, Abu Bakar yang berfirasat untuk memberikan tampu estafet kepemimpinan kepada Umar bin Khattab, kedua, seseorang dalam kisah Nabiyallah Yusuf AS, yang berkata,’’muliakanlah kedudukanya’’, ketiga, gadis dalam kisah Nabi Musa AS, yang berkata; ‘’wahai ayahku, pekerjakanlah laki-laki itu, untuk kita. Sebab sesunggunhnya orang yang paling baik, yang dijadikan pekerja yaitu orang yang kuat lagi dapat dipercaya. (az-Zuhaili, 2013) hlm. 370  

Pelajaran Penting

Kisah di atas setidaknya memberikan pesan melalui ayat قَالَتْ اِحْدَاهُمَا يآَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ  yang menunjukkan disyariatkanya ijarah (upah). Yang mana, hal tersebut memang sudah barang tentu disyariatkan oleh semua agama. Mengacu pada kebutuhan manusia itu sendiri, berikut kepentingan mereka untuk merealisasikanya lewat ijarah (upah). Di sisi lain, ayat ini memberikan gambaran tersendiri, mengenai kriteria pekerja yang ideal untuk dipekerjakan. Yang setidaknya mengacu kepada dua kategorisasi. Pertama, memilki kekuatan secara fisik, yang sangat membantu dalam hal merealisasikan perintah. Hal tersebut dibuktikan dengan kesaksian gadis putri Nabi Syu’aib tersebut. Kedua, memilki sifat amanah. Wallahua’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho

Baca Juga  Syariat Menyusui dalam Al-Qur’an Perspektif Buya Hamka