Siapakah Mullā Ṣadrā?
Mullā Ṣadrā adalah seorang filsuf dan teosof terkenal yang berasal dari kota Shiraz, Iran. Nama aslinya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya Al-Qawami ash-Shirazi. Ia dijuluki Mullā Ṣadrā karena dikenal sebagai tokoh yang utama dalam kalangan teosof (sadr al-muta’allihin).
Kehidupan Mullā Ṣadrā, secara umum dapat dipetakan menjadi tiga periode; Pertama, periode menimba ilmu-ilmu dasar dan mendalam di kota Shiraz. Kedua, periode menyendiri untuk melakukan latihan spiritual dan penyucian diri (riyadhah wa tazkiyyah an-nafs) di daerah Kahak. Ketiga, periode kembali ke Shiraz untuk menulis karya dan mengajar.
Di antara guru yang memengaruhi perjalanan intelektual dan spiritualnya adalah Syekh Baha’i, Mir Daman dan Fendiriski. Sementara murid-murid hebat yang dipengaruhi adalah Mulla Muhsin Faid al-Kasyani dan Mulla ‘Abdur Razzaq al-Lahiji.
Kebesaran Mullā Ṣadrā lainnya, dapat dilihat dari puluhan karyanya baik di bidang metafisika, teologi, tafsir dan sufi. Tulisan ini akan melihat lebih jauh bagaimana karyanya dalam bidang tafsir Al-Qur’an.
Tafsir Al-Qur’an Mulla Sadra
Kitab Tafsir Mullā Ṣadrā diberi nama Tafsir Al-Qur’an Al-Karim ta’lif Sadr al-Muta’allihin. Karya ini sebenarnya merupakan himpunan dari lembaran-lembaran (manuskrip) yang berbeda. Kemudian dihimpun dan diedit hingga menjadi 7 jilid oleh Muhammad Khwajawi. Ia merupakan peneliti karya Mullā Ṣadrā yang juga menamai kitab tafsir ini.
Gaya penulisan tafsir (uslub tafsir) karya ini ada dua; tematik surat dan tematik ayat. Sebagai contoh yang pertama penafsiran lengkap 10 surat: Al-Fatihah, Al-Baqarah, Al-Hadid, As-Sajdah, Yasin, Al-Jumu’ah, Al-Waqi’ah, At-Thariq, Al-A’la dan Al-Zalzalah. Sementara tematik ayat, seperti: ayat kursi (al-baqarah: 255) dan ayat nur (an-Nur: 35).
Adapun dari sisi metode atau sumber, ia mengunakan metode secara holistik. Metodenya mencakup 4 jenis: tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, tafsir Al-Qur’an dengan hadis dan riwayat, tafsir Al-Qur’an dengan akal ijtihadi, tafsir Al-Qur’an dengan pengalaman spiritual.
4 Klasifikasi Tafsir ala Mullā Ṣadrā
Yang menarik, ada kitab kunci yang harus dibaca sebelum masuk ke penafsiran Mullā Ṣadrā, yaitu kitab Mafatih Al-Ghaib. Dalam kitab ini, ia mengklasifikasikan 4 model karya tafsir berdasarkan metodenya. Hal ini tercantum dalam bab dua bagian miftah ath-thani.
Pertama, tafsir yang terbatas pada retorika dan teknik literal dan makna verbal ayat. Kedua, tafsir yang menggunakan sisi lahir Al-Qur’an untuk mendapat pengetahuan tentang hukum dan etika. Ketiga, tafsir yang mengalihkan makna lahir demi kepentingan pribadi. Keempat, tafsir yang menerima makna lahir sembari mencari makna batin dengan bantuan intelek dan intuisi.
Adapun metode yang digunakan Mullā Ṣadrā adalah yang terakhir. Ia memahami Al-Qur’an dengan menerima makna batin tanpa mengabaikan makna lahir. Juga ia mendasarkan penafsirannya pada dua hal: penyampaian teks literal ayat serta penyingkapan kebenaran (mukasyafah).
Testimoni Para Tokoh
Berikut beberapa testimoni yang disampaikan oleh para tokoh pengkaji Mullā Ṣadrā dan karya tafsirnya. Seperti Khwajawi, ia menyebutkan: “bahwa metode tafsir yang digunakan oleh Ṣadrā banyak menampilkan unsur-unsur iluminasi dan suluk, sehingga tepat untuk mengatakan bahwa tafsir Al-Qur’an Ṣadrā merupakan tafsir yang berasaskan hikmah dan ilmu-ilmu yang bersifat universal.”
Sementara Sayyed Hoessein Nasr juga memberi pandangan: “Tak seorang pun filsuf sepanjang sejarah filsafat Islam yang memberikan perhatian sebegitu besar pada Alquran sebagai sumber pengetahuan filosofis dan teosofi, dan banyak menulis tafsir Alquran sebagaimana yang telah dilakukan oleh Mullā Ṣadrā Tafsir-tafsir Alquran Ṣadrā merupakan kelanjutan dari teosofi transendennya, dan teosofi transendennya merupakan kelanjutan hasil dari makna batin Alquran sebagai bentuk keselarasan antara wahyu dan akal.”
Melalui uraian singkat di atas, dapat dilihat bagaimana Mullā Ṣadrā menkonstruksikan pemikirannya mengenai penafsiran Al-Qur’an. Penggabungan kajian teologi, filsafat dan tasawuf menjadikan karya tafsirnya sarat akan ketiga kajian tersebut. Sehingga, membaca karyanya juga harus diimbangi dengan pemahaman ketiga kajian tersebut.
Sumber:
Muḥammad bin Ibrāhīm Ṣadr ad-Dīn Ash-Shīrāzī, Mafātīḥ al-Ghaib, (Tehran: Muassasah Muṭāla’āt wa Taḥqīqāt Farangi, 1984).
Mohammed Rustom, Qur’anic Exegesis in Later Islamic Philosophy: Mullā Ṣadrâ’s Tafsir Surah al-Fātihah, (University of Toronto, 2009).
Muḥammad bin Ibrāhīm Ṣadr ad-Dīn Ash-Shīrāzī, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, (Qum: Bīdār, 1379 HS).


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.