Ada sebuah ungakapan yang mengatakan, hubungan baik cinta kasih itu akan bertahan selama masih ada teguran. Sebab setiap orang berpotensi untuk melakukan kesalahan dan lupa. Jadi, jika seorang teman menemukan temannya tengah berbuat salah jangan sampai ia enggan menegurnya selama ia mampu. Karena sejatinya ia telah membiarkan orang lain terjerumus dalam kesalahan. Cara terbaik dalam dakwah perlu dilakukan,
Namun ada yang harus diperhatikan, dalam menjalankannya perlu strategi yang tepat; teguran itu bisa berbuah perubahan baik bagi orang yang ditegur. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS An Nahl [16]: 125).
Menegur dengan Hikmah, Kasih, dan Ketulusan
Saat menegur, seseorang harus pandai-pandai menempatkan teguran itu. Merujuk Quraish Shihab dalam tafsirannya, yakni yang pertama berdialog dengan menyampaikan dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkatan orang tersebut. Kedua metode mau’idzah, yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf kemampuan yang sederhana. Dan ketiga metode berdebat dengan baik, yaitu dengan menggunakan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. Inilah cara terbaik dakwah.
Sedangkan menurut Imam Nawawi al-Bantani cara yang terbaik dalam memberikan nasehat atau menegur orang lain adalah melalui pengajaran. Baik secara lisan maupun memberikan contoh dalam tindakan. Dan teguran itu haruslah disampaikan dengan cara yang baik (al-hasanah). Keras atau kasar, dan mendiskriminasi tentu tidak termasuk dalam kategori “hasanah”. Selain itu dengan memberikan argumen yang dialogis.
Shihab menambahkan, bahwa nilai utama sebuah teguran adalah ketulusan untuk membantu seseorang agar dirinya sadar kemudian mau memperbaiki diri. Karena itu nasihat kita kepada orang lain harus selalu datang dari hati yang penuh kasih sayang. Bukan menghakimi dengan kesombongan ataupun kekerasan. Dan yang perlu diperhatikan lagi jangan sampai menegur orang lain sebelum mengetahui salahnya. Pun jangan menegur bila kesalahan itu tidak wajar untuk ditegur.
Sebagaimana dikutip dari sabda Rasulullah SAW, “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka tegurlah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, maka tegurlah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka tegurlah dengan hati. Namun, ini adalah keimanan terlemah.” Hadits di atas memberitahu seseorang untuk tidak melakukan yang bukan bagiannya. Karena jika salah strategi dalam menegur hanya akan mengakibatkan kebencian yang mendalam.
Belajar dari Sayyidina Al-Hasan dan Al-Husein
Dua cucu kesayangan Rasululullah SAW dalam sebuah kisah mencontohkan kepada kita etika menegur yang baik. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, Sayyidina al-Hasan dan al-Husein pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat. Sesampainya di masjid, mereka menjumpai seorang laki-laki tua yang sedang berwudhu. Setelah wudhu, orang tua itu pun shalat. Ternyata, wudhu dan shalat orang tua itu terlihat kurang sempurna. Hasan dan Husein ingin memperbaikinya, tetapi mereka khawatir hal itu akan menyinggung perasaannya.
Akhirnya, kedua putra Sayidina Ali bin Abi Thaibl itu bersepakat untuk memakai cara pendekatan yang bijaksana. Di hadapan orang tua tersebut mereka berdebat, masing-masing mengatakan bahwa dialah yang paling benar dalam berwudu dan salat. Mereka lalu meminta orang tua itu untuk menilainya, mana di antara mereka yang paling sempurna dalam berwudu dan salat. Lalu mereka masing-masing melakukan wudhu dan shalat di depan orang tua tadi. Setelah orang tua itu melihat tata cara berwudhu dan shalat mereka, terperanjatlah dia lalu segera mengoreksi diri seraya menyadari bahwa wudhu dan shalatnya selama ini ternyata cacat serta tidak sesempurna shalat kedua pemuda itu. Lelaki tua itu pun berkata, “Demi Allah, saya sudah tidak berwudhu seperti yang dilakukan Anda berdua.”
Ketika menegur orang yang berbuat salah, tentu kita berharap orang yang kita tegur mau mengubah sikapnya ke arah yang lebih baik. Seperti kedua cucu Rasulullah yang mengajarkan kita bahwa menegur adalah ketulusan, jika teguran itu bisa dilakukan tidak harus secara langsung, maksudnya dapat membuat orang memperbaiki diri tanpa menyinggung, itu akan lebih baik. Kita bisa mengambil pelajaran dari sini bahwa dengan menggunakan cara yang terbaik akan mengantarkan niat baik itu ke tempat yang seharusnya. Wallahu a’lam.[]




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.