Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sebagian Manusia Perusak Bumi: Kajian Tafsir QS. Ar-Rum [30]: 41

perusak bumi
Sumber: https://www.kompasiana.com/ipoelhuda/550e4bad813311be2cbc631f/islam-dan-go-green

Bumi sebagai tempat makhluk berpijak sudah semestinya dapat dijaga, dipelihara dan dilestarikan keberlangsungannya. Manusia sebagai pemimpin di Bumi ini memiliki tanggung jawab penuh terhadap hal tersebut. Allah SWT secara tegas telah menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah [2]: 31). Artinya Allah SWT menjadikan manusa sebagai wakil-Nya dengan tugas menjaga bumi dan alam ini (QS. Al-An’am [6]: 165). Karenanya, perusak bumi adalah bentuk pengingkaran tugas sebagai wakil tuhan dan manusia dilarang berbuat kerusakan (QS. Al-A’raf [7]: 56). Namun demikian, manusia diperbolehkan memanfaatkan segala sumber daya alam dalam batasan tertentu dan tidak berlebihan (QS. Al-An’am [6]: 141-142).

Bencana alam yang terjadi belakangan ini seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, abrasi, tsunami, gunung meletus, pemanasan global dan lainnnya merupakan musibah, ujian sekaligus teguran dari Allah SWT yang perlu disikapi dengan arif. Manusia sudah sepatutnya lebih waspada dan mawas diri, menghilangkan butiran kesombongan dan keserakahan, Introspeksi diri dan kembali kepada fitrahnya menjadi khalifah. Seimbang dalam memberikan porsi hak alam dan hak manusia.

Amat disayangkan, tidak semua manusia sadar akan pentingnya menjaga bumi ini. Segala kerusakan bumi dan alam ini yang terjadi disebabkan oleh perilaku manusia. Kita menyaksikan Di kota-kota besar, para pelaku industri membuang limbah ke sungai sehingga sungai tercemar, tidak lagi menjadi sumber kehidupan. Demikian juga pada pelaku bisnis yang sengaja membuka lahan dengan menebang dan membakar lahan hijau yang menjadi ladang oksigen. Alhasil, ketika hujan turun dengan intensitas tertentu, terjadi banjir, longsor dan kerusakan lainnya yang sangat merugikan berbagai pihak.

Baca Juga  Ru’yatullah dalam Penafsiran Muqatil bin Sulaiman dan At-Thabari

Kerusakan Bumi

Allah SWT telah menyebutkan bahwa segala kerusakan di bumi ini tiada lain adalah karena ulah manusia itu sendiri. Sebagian manusia menjadi subjek perusak bumi. Dalam QS. Ar-Rum [30]: 41, Allah SWT berfirman;

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Imam as-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat di atas;

اسْتَعْلَنَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ, اَيْ: فَسَادِ مَعَايِشِهِمْ وَ نَقْصِهَا، وَ حُلُوْلِ الآفَاتِ بِهَا، وَفِيْ اَنْفُسِهِمْ مِنَ الاَمْرَاضِ وَ الوَبَا ءِ وَغَيْرِذَالِكَ. وَذَالِكَ بِسَبَبٍ مَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ مِنَ الاَعْمَالِ الْفَاسِدَةِ المُفْسِدَةِ بِطَبْعِهَا.

Artinya: “Secara jelas dan terang-terangan telah terjadi kerusakan di daratan dan di lautan. Yaitu berupa kerusakan eksistensi sumber-sumber kehidupan dan semakin menyusut, maraknya epidemi / petaka, berbagai penyakit dan wabah menyerang diri mereka, dan lain-lain. Yang demikian itu terjadi karena perbuatan tangan-tangan manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak dan merusakkan karena perangai mereka” (Assa’di, 2002, 755).

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyebutkan makna ayat tersebut adalah sebagai berikut;

Artinya: “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia yaitu kekurangan tanam-tanaman dan  buah-buahan disebabkan oleh berbagai perilaku kemaksiatan” ( Katsir, 2005, VI: 380).

Relevansi Ayat dengan Konteks Sekarang

Dari beberapa penjelasan tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di bumi ini baik kerusakan alam, wabah, penyakit, hingga semakin rusak dan berkurangnya sumber daya alam adalah berasal dari tangan-tangan manusia dan perilaku kemaksiatan yang dilakukannya. Penafsiran Ibnu Katsir relevan dengan perilaku manusia saat ini.

Baca Juga  Perjalanan Rohaniah Manusia: Tafsir QS. An-Nas [114]: 1-3

Oleh karena syahwat dan ambisius manusia, lahan sebagai tempat tumbuh kembangnnya tanaman dan buah-buahan menjadi semakin terkikis demi urusan bisnis kaum kapitalis. Pun dengan penafsiran as-Sa’di, jika terus dibiarkan tanpa ada sistem perlindungan hukum yang tegas terhadap mereka, eksistensi sumber kehidupan manusia akan semakin menyusut. Sementara itu di mana lagi kita akan berpijak, menikmati kehidupan di dunia secara luwes dan bahagia selain di bumi ini.

Sebagai rakyat biasa, memang tidak banyak hal besar yang dapat kita lakukan selain berdoa dan berusaha semampunya. Tanpa harus banyak bicara dan mengeluh, kita dapat menjadi yang manusia baik dan peduli bukan manusia perusak bumi. Setidaknya, Kita mampu melakukan hal-hal kecil yang berkesinambungan dalam menjaga kelestarian alam. Misalnya membuang sampah pada tempatnya atau mengolahnya, melakukan berbagai kegiatan go green, menghemat energi, listrik, air, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Sumber:

‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fii Tafsiri Kalaamil Mannaan, (Riyadh: Darussalam, 2002).

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, terj. Abdul Ghaffar, (Jakarta: Pustaka Imam as-Syafi’i, 2005).