Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Refleksi Tafsir Surah Al-Hasyr ayat 18: Kontemplasi setelah Ramadan

Sumber: istockphoto.com

Waktu terus berputar, hari dan bulan terus berjalan serta tahun demi tahun pun terus berganti. Allah masih memperkenankan dan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah Idulfitri 1445 H. Di antara usia kehidupan manusia, ada yang belasan kali bahkan puluhan kali dipertemukan bulan Ramadan. Banyaknya Allah memberikan peluang hidup sampai waktu tertentu dalam ragam aktivitas berkehidupan. Bahkan diiringi setelah dengan perjuangan hebat dalam lingkup aktivitas yang dilalui dalam menjalani hidup. Baik dalam dimensi individual, keluarga ataupun sosial dan segala dimensi profesi yang dijalani.

Dari sekian banyak aktivitas yang dilalui oleh manusia, ayat ke-18 surah al-Hasyr sangat pantas untuk direnungkan bersama. Ayat yang secara tajam disampaikan Allah, tanpa banyak pembukaan atau istilah lainnya tanpa banyak menggunakan pengantar. Namun, langsung ditujukan dengan tajam. Menghunjam kepada hal yang pokok kepada jiwa-jiwa manusia, khususnya hamba-hamba Allah yang merasa dirinya memiliki iman.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Refleksi Al-Hasyr Ayat 18

Ayat ini dibuka dengan tegas oleh Allah, untuk menghunjamkan sebuah pesan yang mendalam terkhusus kepada hamba-hamba yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah.  Sudah sepatutnya kita yang tuntas menunaikan ibadah puasa Ramadan berbahagia dan bersyukur dikarenakan iman kita masih diakui oleh Allah dibuktikan dengan perintah puasa Ramadan diawali dengan kata iman sesuai dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang sering diviralkan sebagai ayat perintah berpuasa.

Baca Juga  Tafsir Q.S An-Najm Ayat 39: Nganggur Menuai Ganjaran

Rasa syukur manusia dengan keimanannya kembali diingatkan dengan tegas dalam firman Allah surah al-Hasyr ayat 18. Jika kita tarik dengan keadaan sekarang, seakan-akan Allah menyinggung kepada orang yang keimanannya dibuktikan dengan puasa Ramadan yang telah dilalui. Dengan ayat ini, Allah berinteraksi dengan orang beriman agar senantiasi mengecek kapasitas ketakwaan manusia.

Takwa inilah yang menjadi penting, bahkan menjadikan puasa sebagai bimbingan dan melatih manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa. Maka dari itu, penjelasan ayat ke-18 surah al-Hasyr ini setelah mengingatkan takwa, agar segera melakukan evaluasi diri. Banyak manusia yang telah berkali-kali dipertemukan bulan Ramadan, maka sudah seharusnya mengecek dan melakukan evaluasi dari banyaknya ibadah Ramadan yang telah dilaksanakan.

***

Dari banyaknya pertemuan dengan bulan Ramadan. Muncul pertanyaan, sudah siapkah dengan amalan-amalan tersebut menyongsong untuk persiapan datangnya ghad (hari esok)?. Memahami makna ghad ayat ke-18 surah al-Hasyr dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab al-Kasysyaf karya Al-Zamakhsyari menyebutkan bahwa ghad yang dimaksud adalah yaumul qiyamah (hari kiamat).

Sederhananya, seakan Allah ingin menyampaikan kepada kita semua yang beriman dan tuntas menunaikan ibadah Ramadan. Setelah dari sekian banyak pertemuan dengan bulan Ramadan, Sudah siapkah bekal tersebut untuk menyambut hari kiamat jika terjadinya besok hari?.

Penjelasan Ibnu Katsir dalam Kitab Bidayah wan Nihayah bahwa kiamat terkecil adalah berakhirnya kehidupan manusia di bumi atau bahasa singkatnya ialah kematian. Kemudian dipertegas dalam surah as-Sajadah ayat ke-11 bahwa malaikat maut akan benar-benar datang untuk memisahkan kehidupannya untuk menuju kehidupan akhirat.

Kontemplasi setelah Ramadhan

Jika kita kembalikan ke diri kita, maka sudah sepatutnya kita intropeksi diri, melakukan kontemplasi atau dalam bahasa agamanya ialah bermuhasabah. Bukan tentang ketika datangnya Ramadan ataupun merayakan idulfitri, tapi ayat ini harusnya setiap hari untuk direnungkan.

Baca Juga  Halalkah Tradisi Halal Bi Halal Yang Sudah Mengakar?

Momen idulfitri sudah sepatutnya kita melepaskan apapun yang melekat pada kecenderungan dunia. Kemudian tanyakan pada hati kita yang paling dalam, sudah sampai mana totalitas ibadah kita sampai dititik idulfitri ini. Merenung sejenak, bukan hanya tentang kue lebaran, baju baru dan segala simbolik perayaan idulfitri. Tapi dengan jiwa dan hati yang diberikan Allah digunakan untuk merenung sejenak, tanyakan pada masing-masing jiwa. Sudah benarkah dalam menunaikan berkali-kali puasa Ramadan, bagaimana jika diwafatkan sekarang?.

Jika momentum idul fitri dirasakan sebagai momentum yang gelisah untuk menyongsong hari kiamat, maka itu sudah menunjukkan fitrah manusia bahwa khawatir kekurangan bekal untuk hari penghisaban tersebut. Maka sudah seharusnya dengan waktu diberikan, kita bisa memaksimalkan potensi yang kita miliki.

***

Mengingat akhirat bukan berarti meninggalkan dunia, tapi mengingatkan bahwa kenikmatan dunia yang telah diberikan digunakan untuk kepentingan mengabdi kepada Allah. Semoga kita semua bisa terus menjaga keislaman dan merawat keistiqamahan takwa seperti pesan nabi yang diviralkan dari hadits riwayat Imam Ahmad dan diabadikan dalam pembuka Tafsir Ibnu Katsir pada ayat ke-18 surah al-Hasyr.

Wallahu a’lam.