Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. Hud 114: Makna Kebaikan Menghapus Kesalahan

menghapus kesalahan
Sumber: https://surahquran.com

Manusia adalah tempatnya dosa dan khilaf, itulah mengapa Rasulullah senantiasa mencontohkan kepada kita semua untuk senantiasa beristighfar dalam sehari sebanyak 70 kali.  (Lihat HR. Bukhari no. 6307). Ada upaya lain dapat menghapus kesalahan di samping istighfar. Kita tentu masyhur dengan dalil bahwa amal saleh dapat menggugurkan dosa. Sebagaimana firman Allah swt berikut:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus berbagai kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud: 114).

Juga sabda Rasulullah saw berikut:

وأتبع السيئة الحسنة تمحها

Dan iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan.” (HR. Ahmad).

Bahkan ada beberapa ibadah yang menghapus kesalahan disebut secara khusus, misalnya ibadah shalat, shalat sunah, shaum Ramadhan dan shaum-shaum sunah yang di dalam hadisnya dikatakan sebagai penghapus dosa.

Akan tetapi, tidak semua dosa dapat dihapus dapat dihapus dengan amal saleh. Berikut akan diuraikan mengenai dosa apa saja yang tidak berlaku dalam dalil di atas.

Dosa-Dosa Besar

Sudah menjadi ijma’ para ulama bahwa amal saleh menghapus dosa-dosa kecil, namun tidak dengan dosa besar. Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan Abu Hurairah ra berikut:

Salat lima waktu, Jum’at hingga Jum’at berikutnya serta Ramadan hingga Ramadan berikutnya merupakan penebus dosa di antara waktu-waktu itu semua, selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar”. (HR. Muslim).

Hal yang perlu digarisbawahi dari hadis di atas bahwa shalat lima waktu dapat menjadi penebus dosa, selama tidak melakukan dosa besar. Itu artinya, dosa besar menjadi sebuah pengecualian dari amal saleh yang menjadi kifarah dosa.

Baca Juga  Cinta Dunia Perspektif Said Nursi dalam Risalah An-Nur

Oleh karena itulah, dosa-dosa besar misalnya durhaka kepada orang tua, membunuh, zina, dan sebagainya. Dosa tersebut tidak cukup dengan amal saleh saja, tapi juga harus disertai taubatan nashuha. Dengan bertaubat yang sungguh-sungguh kepada Allah, adalah sebagai jalan diampuninya dosa tersebut. Taubat yang benar dapat menghapus dosa sebelumnya, sebagaimana kisah masyhur pembunuh 99 nyawa kemudian ditambah 1 nyawa pun dikabarkan masuk surga karena benarnya taubat orang tersebut.

Dosa Terkait Hak Manusia

Jika dosa menyangkut hak-hak manusia, maka taubatnya adalah mendapat maaf dan ishlah dari yang bersangkutan. Misalnya adalah pernah zhalim karena telah memukul, mencuri, menipu, dan lain-lain. Tidak cukup dengan amel saleh, bahkan bertaubat kepada Allah pun tidak serta menghapus dosanya karena ada hak manusia yang belum tertunaikan, sebab ia belum menunaikan kewajibannya untuk meminta maaf. Meski seorang yang mati syahid sekalipun, yang seharusnya semua dosanya diampuni, namun masih terdapat pengecualian yang tidak bisa terhapus, yakni hutangnya. (Lihat HR. Muslim No. 1886).

Menurut Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir, yang dimaksud hutang adalah semua hak manusia baik berupa darah, harta, dan kehormatan. Itulah mengapa al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa hak-hak terkait manusia dan tanggungannya tidak bisa dihapuskan dengan amal saleh, amal saleh hanya dapat menghapuskan hal-hal terkait seseorang dengan Rabb-nya. (Ikmalul Mu’lim, 6/155). Meski seseorang rajin shalat, shaum, akibat tidak ditunaikannya hak pada manusia maka amalannya justru bisa menjadi bangkrut karena harus menebus dosa pada yang pernah dizhalimi dengan amal saleh yang dimiliki. (Lihat HR. Muslim no. 2581).

Demikian mengenai sebuah pengecualian, bahwa ada beberapa dosa yang tidak dapat terhapus meski dengan amal saleh. Antara lain dosa besar oleh karena harus dihapus dengan taubat, juga dosa menyangkut hablumminannas yang harus diselesaikan dan ditunaikan hak-haknya agar tidak dituntut di akhirat nanti untuk dimintai pertanggungjawaban. Wallahua’lam.