Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Praktik Sosial dalam Pembelajaran Tafsir Jalalain di Pesantren

Jalalain
Sumber: Medcom.id

Siapa yang tidak mengenal tafsir Jalalain? Tafsir yang ditulis oleh duo Jalalain ini (Jalaluddin Al-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli), banyak dipelajari di pesantren-pesantren baik itu pesantren tradisional maupun pesantren modern. Tradisi pengajaran tafsir Jalalain di pesantren melahirkan sebuah praktik nilai sosial di dalamnya, terutama pada perbedaan antara pesantren tradisional dan pesantren modern.

Ervan Nurtawab dalam diskusi dosen nasional fakultas ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah menyampaikan, bahwa praktik tafsir Jalalain ini diperlakukan dalam pembelajaran memiliki respon beragam. Di mana makna-makna al-Qur’an dipraktikkan di masyarakat itu muncul ke dalam ruang-ruang publik.

“Ruang-ruang publik ini bisa ruang pengajaran, di mana orang-orang secara kolektif terkondisikan dalam mendengarkan pelajaran dari seorang guru, ulama, kiai atau orang yang memiliki otoritatif dalam melakukan pengajaran”, jelas Ervan.

Nilai Sosial dalam Bandongan (Ngaji Kitab Tradisional)

Pada pembelajaran tafsir Jalalain di pondok pesantren tradisional, pemahaman terhadap kitab tafsir Jalalain bukan hal yang menjadi utama. Melainkan kebersamaan belajar kitab tafsir Jalalain tersebut kepada seorang kiai atau guru, menjadi yang diunggulkan.

“Karena itu nilai-nilai tersebut yang terbangun, di mana belajar kitab harus sampai tamat, mendapat keberkahan dari seorang guru, hadir bersama guru atau kiai, dan ketersambungan sanad atau genealogi langsung dari seorang guru” jelas Ervan.

Nilai Sosial dalam Belajar Kitab di Kelas

Berbeda dalam pembelajaran di kelas pada pembelajaran tafsir Jalalin di pesantren modern, pemahaman terhadap kitab tafsir Jalalain menjadi hal yang utama. Orientasi pembelajaran kitab tafsir Jalalin yang diutamakan adalah mendapatkan penghargaan akademik.

Baca Juga  Aksi Solidaritas Media Dibutuhkan bagi Korban Kekerasan

“Penghargaan akademik menjadi core (inti) dalam pembelajaran kitab tafsir di pesantren modern, selain itu ada nilai formalitas pembelajaran, kedisiplinan, dan bahkan orientasi keduniaan dan masa depan, misalnya mengembangkan karir atau sebagainya” jelas Ervan.

Makna Al-Qur’an dan Realitas Publik

Praktik pengajaran/pembelajaran tafsir menfasilitasi ekspresi rivalitas antara ragam realitas keagamaan terkini. Praktik pembelajaran tafsir Jalalain dalam pembelajaran di pondok pesantren tradisional menjadi arena untuk melanggengkan ideologi ahlus sunnah wal jamaah. Karena itu terlihat ekspresi rivalitas terhadap keragaman ideologi-ideologi lainnya.

Otoritas yang dipegang oleh seorang guru atau kiai, memberikan kebebasan untuknya memberikan makna yang melampaui pemahaman yang bisa dicakup teks, atau tetap pada penguasaan skil tekstual. Sehingga seorang guru terkadang memberikan makna-makna atau penafsiran yang melampaui buku teksnya.

Makna al-Qur’an yang tercipta memiliki koneksi yang kuat antar tiap-tiap individu yang terkondisikan dalam setings atau struktur sosial tertentu.

“Cara memperlakukan tafsir Jalalain yang berbeda-beda di ruang publik akan melahirkan beragam produk yang melanggengkan struktur-struktur sosial sebelumnya” jelas Ervan.

Reporter: An-Najmi Fikri R