Allah menurunkan Al-Qur’an, tentu tidak hanya berisikan peringatan, ancaman, dan kabar gembira. Akan tetapi, juga mengandung banyak kisah teladan yang di dalamnya tersirat pesan berharga untuk kebaikan hambanya. Tujuan akhir diturunkannya ayat-ayat tentang kisah ini supaya manusia dapat mengambil hikmah dan manfaat dari peristiwa tersebut.
Dari sekian banyaknya kisah yang menarik di dalam Al-Qur’an, tentu saja kisah kehancuran pasukan Abrahah tidak kalah istimewanya dibanding kisah-kisah lainnya. Di mana, pasukan Abrahah sendiri merupakan pasukan tiran yang ingin menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi Allah menghancurkan mereka melalui perantara burung Ababil.
Wajah Kerajaan Kota Yaman
Sistem kerajaan Yaman terletak di kota Shan’a dan yang pertama memegang kerajaan adalah Qahthan bin Aabar dan diteruskan hingga raja yang ke-28. Kemudian, berpindahlah kerajaan tersebut ke golongan lainnya. Raja pertamanya adalah raja Tubba ‘al-Awwal bin al-Arqam dan dilanjutkan keturunannya hingga 20 keturunan. Raja terakhirnya adalah raja Dzu Jadan al-Himyary (Moenawar Chalil, Tarikh Nabi Muhammad Saw, 01/34).
Kerajaan Yaman jatuh dari kekuasaannya karena dikalahkan Aryath. Di masa tersebut, raja Najasyi mengutus ekspedisi ke Yaman dengan pasukan 70.000 orang yang dipimpin oleh Aryath. Di dalam pasukannya tercatat nama tantara terkenal, yaitu Abrahah al-Asyram. Pasukan Najasyi di bawah pimpinan Aryath pun berasil menaklukkan Yaman dan raja Dzun Nuwas menceburkan diri hingga tewas.
Sejak itulah kota Yaman resmi dipegang oleh kekuasaan Habasyah yang dipimpin gubernur Aryath. Seiring berjalannya waktu, pasukan Habasyah terpecah menjadi dua, yakni pasukan loyalis Aryath dan pasukan pendukung Abrahah. Keduanya sepakat agar saling membentrok satu sama lain guna menentukan siapa yang berhak menjadi gubernur. Lantaran demikian, Abrahah berhak menjadi gubernur di Yaman karena mampu membunuh Aryath (Sofyan Hadi, Tafsir Qashashi, 04/90).
Singkat kata, setelah menetap di Yaman, Abrahah mendirikan sebuah gereja bernama Qullais yang begitu megah di Shan’a (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 25). Berdirinya gereja tersebut bertujuan untuk mengalihkan para jamaah haji bangsa Arab ke Qullais dan meninggalkan Ka’bah yang ada di Makkah (Syauqi Abu Khalil, Atlas Jejak Agung Muhammad Saw, 20).
Tentara Bergajah dan Penghancuran Ka’bah
Salah satu petapa Bani Kinanah marah mendengar rencana Abrahah untuk mengalihkan orang Arab berhaji ke Mekkah. Lantas mereka menodai Qullais dengan kotoran. Karena kejadian tersebut. Abrahah karena dianggap merusak kehormatan bangsa Habasyah. Kemudian Abrahah bertekad meruntuhkan rumah yang disakralkan oleh Bani Kinanah tersebut dan orang-orang yang berhaji di sana (Jawwad Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh Al-‘Arab Qabla Al-Islam, 517).
Pasukan gajah diutus ke Makkah pada tahun 570 M. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah gajah yang ikut serta dalam ekspedisi tersebut. Di satu sisi, menyebut 5, 6 bahkan 12 ekor gajah, bahkan terdapat juga pendapat yang menyatakan hanya satu ekor saja yaitu yang dikendarai Abrahah. Pasukan ini berhenti sejenak untuk berkemah di sebuah daerah berjarak 3,65 Km dari arah Thaif bernama Mughammis (Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah Juz ‘Amma, 531).
Abrahah tidak langsung menyerbu, tetapi mengirim seorang juru bicara untuk mendatangi pemuka Ka’bah yang saat itu dijabat oleh pemimpin kaum Quraisy, Abdul Muthalib. Di dekat Mekkah, pasukan Abrahah justru merampas harta penduduk. Di antara harta yang dirampasnya adalah 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah (Zainurrofieq, The Power of Ka’bah, 79).
Kehancuran Pasukan Abrahah
Lantas, Abdul Mutahalib menawarkan kepada Abrahah sepertiga dari kekayaan Tihamah sebagai imbalan kesediaan membatalkan niatnya. Akan tetapi Abrahah menolak. Karena itu, dengan lantangnya Abdul Muthalib memerintah penduduk Makkah supaya mengungsi manuju bukit yang tinggi dan seluruh penduduknya pun menaati (M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits Shahih, 161).
Sesampai di Lembah Muhassar yang terletak di antara Muzdalifah dan Mina, seketika gajahnya tidak mau bangkit lagi menuju ke Ka’bah. Setiap kali mereka mengarahkan gajahnya selain ke arah Ka’bah, gajah tersebut bergerak maju dengan cepat. Dalam keadaan inilah, Allah mengirimkan sekumpulan burung berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu-batuan panas (Syihabudin Ahmad, 100 Peristiwa Penting dalam Kalender Awal Umat Islam, 08).
Seorang ahli medico-historico, Dr. Kurtz Sprenger mengemukakan bahwa musnahnya pasukan gajah tersebut karena pandemi cacar yang sangat dahsyat. Alasannya, epidemi jenis ini mula-mula menjangkit di Jazirah Arab bersamaan dengan peristiwa hancurnya pasukan Abrahah, yaitu sekitar tahun 558 M. Pendapat ini dikuatkan oleh Sir William Muir (Nasaruddin Umar, Islam Fungsional: Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-Nilai Keislaman, 202).
Hikmah yang Dipetik dari Surat Al-Fil Ayat 1-5
Tentunya, inti sari dari kisah hancurnya pasukan Abrahah tersebut, disaksikan Al-Qur’an, bahkan dicantumkannya dalam surat khusus, yakni al-Fil. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS. Al-Fil [105]: 1-5).
Pesan Tarbawi dalam Surah Al-Fil
Melihat realitas turunnya surat al-Fil ayat 1-5, bagaimana pun pesan tarbawi yang terkandung di baliknya tidak serta merta dilupakan sebagai refleksi kehidupan (M. Quraish Shihab, Al-Lubab, 04/750-751), di antaranya:
- Firman-Nya menisbatkan permusuhan tantara bergajah itu kepada rabbuka, yakni Tuhan yang disembah Rasulullah mengisyaratkan bahwa kebinasaan mereka semata-mata dilakukan Allah dalam rangka pembelaan kepada rumah-Nya, lebih dari itu pembelaan-Nya pula kepada rasul-Nya.
- Secara implisit, tentunya “perbuatan Tuhan itu” menunjukkan bahwa peristiwa hancurnya pasukan Abrahah bukanlah peristiwa biasa berdasar hukum-hukum alam yang selama ini dapat dimanfaatkan oleh manusia.
- Di balik setiap peristiwa ada di tangan Tuhan. Karena itu, jangan sekali-kali memastikan sesuatu tanpa mengaitkannya dengan kehendak-Nya kendati manusia telah berhitung dengan teliti.
- Allah yang menganugerahkan kebebasan bertindak kepada manusia dan membiarkan mereka melakukan apa saja yang dikehendakinya sampai batas yang tiada gangguan terhadap sifat pemelihara seluruh alam, tetapi begitu terganggu, maka Allah turun turun tangan untuk mencegahnya.
- Kesudahan baik selalu akan terjadi untuk siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah setelah tiada lagi usaha yang dapat dilakukan.
Pada intinya, pesan moral tarbawi dalam surat al-Fil adalah menunjukkan bahwa peristiwa hancurnya pasukan Abrahah merupakan kebinasaan yang dilakukan Allah. Sebagai hamba Allah, bagaimana pun harus meninggalkan sisi kekufuran dalam dirinya. Akhir kata, wallahu a’lamu bishawab.
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply