Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Perdebatan Teologis Seputar Corona, Kita Ikut yang Mana?

Beragama dengan ilmu
Sumber: pikiran-rakyat.com

Pada pembahasan kali ini saya akan membahas tentang hubungan dengan Tuhan dalam permasalahan sosial yang sedang viral sekarang, yaitu Covid-19. Wabah yang telah menimbulkan perubahan pada tatanan kehidupan.

Covid-19 atau corona yang sedang menimpa berbagai negara termasuk Indonesia, telah banyak mengubah tatanan sosial. Segala aktivitas yang bentuknya bergerombol atau berkumpul telah dilarang. Hal itu sengaja dilakukan demi mencegah penyebarannya dan penularannya kepada orang di sekitar kita.

Virus corona bukan hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga mengubah tata cara kehidupan manusia di seluruh dunia. Mulai dari interaksi sesama maupun proses yang berhubungan dengan Tuhan. Kegiatan-kegiatan berjamaah seperti shalat di masjid, baik yang shalat fardhu (wajib) yang lima ataupun shalat jum’at diistirahatkan untuk sementara waktu. Selain daripada itu adalah kegiatan belajar-mengajar offline, dalam artian tatap muka, diubah menjadi online. Kita akan masuk ke dalam inti pembahasan.

Banyak yang menyikapi wabah corona tanpa ilmu dan pada akhirnya terjerumus ke dalam kenyakinan seperti Jabariyah dan Qodariyah. Walaupun masih banyak juga yang tetap berpegang kepada keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Perdebatan Teologis Ihwal Corona

Kita akan menyingkapi perbedaan-perbedaan pada aliran-aliran di atas:

Pertama, Jabariyah. Jabariyah adalah sebuah aliran dan sekte bid’ah di dalam akidah Islam yang muncul pada abad ke-2 hijriyah di Kurasan. Jabariyah memiliki keyakinan fatalistik bahwa setiap manusia dipaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan disertai dengan menihilkan ikhtiar atau usaha manusia.

Mereka mengambil landasannya pada al-Qur’an surah at-Taubah ayat 52 :

Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”

Mereka memakai ayat ini dan ayat-ayat yang sealur dengan ayat di atas tanpa mengkomprasikannya dengan ayat yang lain. Di mana pada akhirnya aliran ini menjadi fatalistik: meniadakan ikhtiar dan usaha manusia dalam mendatangkan manfaat maupun menjauhi mudjarat.

Baca Juga  Covid-19: Mengenali Wabah, Memetik Berkah

Contoh yang biasa mereka gunakan dalam perkataan: Kenapa kita harus capek-capek mengikuti aturan-aturan ahli kesehatan? Bukankah corona adalah makhluk Allah? Yang akan terkena virus berarti sudah menjadi takdir-Nya di lauh al-mahfuz.

Di mata mereka, pemerintah Saudi seperti tidak mempunyai iman. Sebab Arab Saudi untuk sementara waktu melarang umat Islam untuk mengunjungi baitullah, melakukan thawaf dan shalat berjamaah pun dibatasi. Apakah sudah tidak percaya dengan ketentuan Allah yang akan menjaga orang-orang yang beriman? Begitu mereka berdalih.

Qodariyah dan Pengingkaran terhadap Takdir

Kedua, Qodariyah. Qodariyah adalah sebuah aliran dan sekte bid’ah di dalam akidah Islam yang muncul pada pertangahan abad pertama hijriyah di Basrah, Irak. Kelompok ini memiliki keyakinan yang mengingkari takdir. Mereka menyakini bahwasanya perbuatan makhluk dan penomena alam semunya diluar campur tangan Allah. Manusialah yang dengan kehendak bebasnya bisa mendatangkan manfaat dan menjauhi mudharat tanpa ada kuasa Allah di dalamnya.

Landasan mereka ayat al-Quran surah ar-Ra’d ayat 11:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Contoh yang sering mereka gunakan dalam perkataan; pertama, tidak logis jika cara mencegah virus dengan mengajurkan qunut nazilah. Kedua, virus sudah tidak mempan dengan doa. Ketiga, percayakan semuanya dengan ahli kesehatan. Kiyai-kiyai, ustad-ustad, dan ulama-ulama jangan ikut-ikutan dengan membuat anjuran.

Dan masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang sejenis. Hal itu karena orang-orang yang mengaku muslim sudah terkena virus sekulerisme, materialisme dan akhirnya mereka sombong di hadapan Allah dengan menafikan dan menihilkan do’a, qunut nazilah, sedekah, istiqhosah dan lain-lainnya.

Baca Juga  Corona Sedang Menjalankan Tugasnya

Memilih Jalan Tengah

Ketiga, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam konteks takdir berada di tengah-tengah aliran Jabariyah dan Qodariyah. Ahlus Sunnah menyakini bahwa fenomena alam, perbuatan makhluk dan usaha manusia ada dalam takdir dan kehendak Allah Swt. Tapi juga manusia tetap harus melaksanakan ikhtiar semaksimal mungkin dengan memakai akal yang logis.

Landasan dari Ahlus Sunnah ini dua ayat di atas. Yang pertama surah at-Taubah ayat 52, tentang semua yang terjadi dalam takdir Allah itu diterima dan diimani dan surah ar-Ra’d ayat 11 tentang manusia punya usaha untuk merubah nasib. Itu dibuktikan dengan kasab dan ikhtiar.

Contoh sering mereka gunakan perkataan: Pertama, mari kita banyak berdo’a dan mengikuti anjuran ahli kesehatan. Kedua, ayo selau cuci tangan! Sementara kita harus meminimalisir interaksi sosial. Dan jangan lupa untuk selalu berdo’a. Ketiga, jika para ahli menganjurkan untuk sementara waktu shalat berjamaah di mesjid ditiadakan, mari kita ikuti dan shalatlah dirumah masing-masing (seperti dizaman nabi pernah terjadi beberapa kali). Dan mari kita sama-sama berdo’a semoga segera kembali bisa berjamaah di masjid dengan normal kembali.

Dari paparan sikap masing-masing pandangan aliran-aliran di atas, teranglah bahwa kita mengikuti pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengakui akan takdir Allah dan di saat yang sama juga mengakui akan adanya usaha manusia.

Editor: M.Bukhari Muslim